Menuju konten utama

Overstimulasi Bikin Pikiran Keruh: Bagaimana Cara Mengatasinya?

Overstimulasi terjadi ketika otak menerima terlalu banyak stimulus. Akibatnya, kita jadi kesulitan berkonsentrasi atau berpikir dengan jernih.

Overstimulasi Bikin Pikiran Keruh: Bagaimana Cara Mengatasinya?
Header DIAJENG Overstimulasi. FOTO/iStock

diajeng.id - Apa kamu termasuk orang yang mudah merasa lelah, marah, atau bahkan ingin menjauh dari sekitar saat mendengar terlalu banyak suara, aktivitas, atau berbagai hal yang terjadi sekaligus?

Misalnya saat TV menyala, notifikasi smartphone terus berdatangan, dan orang-orang di sampingmu ngobrol bersamaan. Kondisi seperti ini sering kali membuat pikiran terasa penuh dan sulit fokus.

Yang kamu alami bisa jadi adalah overstimulasi. Dalam psikologi, overstimulasi terjadi ketika otak menerima terlalu banyak rangsangan dalam satu waktu.

Lantas, apa saja penyebab dan tanda-tanda overstimulasi? Berikut penjelasan lebih mendalam tentang overstimulasi yang perlu kamu pahami.

Apa itu Overstimulasi, Penyebab, dan Tanda-tandanya

Overstimulasi, juga dikenal sebagai kelebihan rangsangan sensorik, terjadi ketika otak menerima terlalu banyak stimulus.

Kondisi ini bisa membuatmu kesulitan dalam berkonsentrasi, berpikir dengan jernih, menjaga ketenangan, atau bahkan sampai memengaruhi kesehatan mental.

Beberapa tanda yang sering muncul pada orang dewasa antara lain mudah merasa lelah atau kesal, tampak kebingungan atau frustrasi, hingga sulit mengambil keputusan.

Keadaan ini tentu terasa tidak nyaman. Saat mengalami overstimulasi, kamu mungkin jadi lebih sensitif, gelisah, bahkan cemas.

Overstimulasi berbeda dari stimulasi yang biasa kamu rasakan, yang justru membuat kamu tetap fokus dalam melakukan sesuatu. Hal yang bagi sebagian orang terasa biasa saja, atau bahkan menyenangkan, bisa berubah menjadi pengalaman yang melelahkan dan memicu stres.

Apa yang Bisa Dilakukan Ketika Mengalami Overstimulasi?

Ketergantungan tinggi pada teknologi membuat kita lebih banyak beraktivitas dengan gawai di dalam ruangan. Padahal, lingkungan luar yang alami dapat membantu menenangkan pikiran dan memulihkan kondisi tubuh secara keseluruhan.

1. Kurangi scrolling di media sosial

Mengakses media sosial, terutama video pendek yang cepat dan acak, bisa membuat otak semakin kewalahan.

Perubahan visual dan suara yang terus-menerus menuntut otak bekerja lebih keras dalam memproses informasi. Kalau kamu sudah berada di lingkungan yang ramai atau berisik, sebaiknya batasi scrolling agar tidak menambah beban rangsangan di pikiranmu.

2. Ambil jeda dari situasi yang memicu

Saat kamu mulai merasa tidak nyaman, cobalah menjauh dari sumber gangguan.

Kamu bisa mencari tempat yang lebih tenang, minum air, atau sekadar menarik diri sebentar dari keramaian.

3. Kurangi kafein

Kafein dapat memperkuat rasa gelisah, terutama ketika kamu sudah telanjur mengalami overstimulasi.

Alih-alih membantu, minuman berkafein justru bisa memperburuk kondisi. Jika memungkinkan, pilih minuman rendah kafein atau decaf agar tubuh lebih mudah kembali tenang.

4. Coba teknik pernapasan

Latihan napas dapat membantu menurunkan detak jantung dan membuat tubuh lebih rileks.

Salah satu cara yang bisa dicoba adalah menarik napas dua kali secara singkat, lalu merilisnya dalam satu tarikan panjang. Lakukan beberapa menit sampai tubuhmu lebih tenang.

5. Luangkan waktu untuk rehat di sore hari

Rasa lelah biasanya memuncak di siang hingga sore, sehingga tubuh lebih rentan mengalami overstimulasi. Sisihkan waktu untuk bersantai sebentar, seperti mendengarkan musik, jalan kaki ringan, atau self-care agar energi positif kembali masuk ke tubuh.

6. Habiskan waktu di ruang terbuka

Berada di lingkungan hijau atau alam terbuka dapat membantu menurunkan stres. Bahkan, waktu singkat di luar ruangan sudah cukup untuk membuat pikiran lebih segar dan membantu tubuh kembali seimbang.

7. Gunakan sentuhan untuk menenangkan diri

Sentuhan fisik, seperti pelukan atau menggenggam tangan orang terdekat, dapat membantu menurunkan stres. Apabila tidak memungkinkan, kamu bisa menenangkan diri memeluk diri sendiri atau meletakkan tangan di dada.

Setiap orang perlu waktu untuk menemukan cara yang paling pas dalam menangani overstimulasi. Kalau kamu, apa yang dilakukan agar pikiran kembali lebih rileks setelah terpapar banyak kebisingan?

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Risa Fajar Kusuma

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Risa Fajar Kusuma
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih