diajeng.id - Seorang perempuan berambut pirang dengan senyum cerah di wajahnya, mengenakan gaun berwarna merah muda, menatap layar ponselnya.
Senyumnya sumringah tatkala ia melihat ada ribuan likes dan komentar yang membanjiri video unggahannya, rekaman saat ia mengadakan pesta untuk mengumumkan jenis kelamin bayinya dengan memotong kue yang dilapisi icing merah muda, dan suaminya menembak sebuah balon besar berisi bubuk, juga berwarna merah muda yang menyembul ke udara.
Video pesta pengungkapan jenis kelamin atau gender reveal party yang diunggahnya pada 2008 ini meledak, memicu ribuan bahkan mungkin jutaan pasangan suami istri lainnya untuk mengadakan pesta serupa.
Namun, di balik keriangan itu, sang trendsetter, Jenna Karvunidis, kini justru mengemukakan penyesalannya.
Laman TheGuardian menuliskan, seiring berjalannya waktu, tren ini pun telah berevolusi menjadi sebuah acara yang megah, acap kali berlebihan, bahkan ironisnya kini sudah menjadi sangat komersil.
Salah satu penyesalan Karvunidis, ia menganggap pesta-pesta tersebut bermasalah.
Beberapa bahkan berujung tragis, seperti kebakaran hutan di Arizona atau ledakan yang menewaskan seorang calon nenek.
Keglamoran ini jadi mengaburkan makna dan esensi pesta gender reveal, menjadikannya bukan lagi tentang kegembiraan, melainkan tentang "siapa yang bisa menciptakan pesta paling heboh".
Awal Mula Tren Gender Reveal Party
Dikutip Today's Parent, gender reveal party awalnya muncul sebagai cara sederhana untuk berbagi kabar gembira tentang jenis kelamin bayi dengan keluarga dan teman. Pengumuman ini biasanya melibatkan kue atau cupcake. Warna lapisan dalam kue didesain sedemikian rupa: warna biru untuk laki-laki, merah muda untuk perempuan.
Acara ini kemudian diunggah ke media sosial, menjadi momen seru sekaligus alasan untuk berkumpul dan bersenang-senang.
Tapi lama-lama, pesta ini makin kreatif sekaligus makin heboh.
Ada tema “Senjata atau Glitter,” “Touchdown atau Tutu,” sampai “Sepak Bola atau Pompom.”
Beberapa orang bahkan nekat menggunakan bahan peledak agar momennya lebih dramatis, dan tentu saja, lebih Instagramable.
Akhirnya, yang terjadi bukan sekadar perayaan, tapi juga semacam lomba atau kompetisi tentang siapa yang paling spektakuler.
Alih-alih merayakan dengan kehangatan, keluarga justru disibukkan dengan properti, konsep, atau fotografer.
Beban Mental Gender Reveal Party Bagi Calon Ibu
Di sisi lain, ada juga beban yang tidak terlihat dari balik meriahnya gender reveal party.
Menurut psikiater dr. Nurul Utami, M.Kes, M.Ked.KJ, SpKJ, sebagian calon ibu merasa harus menghadirkan momen yang “sempurna,” baik dari dekorasi, kue, sampai kostum yang serasi.
Persiapan bisa jadi ribet, biaya pun membengkak, apalagi jika ingin pesta yang terlihat mewah.
"Tekanan ini sering datang bukan dari diri sendiri, melainkan dari ekspektasi sosial dan bayangan 'standar' yang terbentuk di media sosial," ujarnya.
Tak jarang, momen yang seharusnya sederhana berubah jadi sumber stres.
Alih-alih menikmati kehamilan dan kebersamaan dengan keluarga, fokus malah bergeser ke bagaimana pesta itu nanti terlihat di foto atau video. Kata kuncinya: harus Instagrammable.
"Dan ketika hasilnya tidak sesuai harapan, bisa muncul perasaan kecewa atau bahkan merasa kurang sebagai calon orang tua," ujar dr. Tami.
Padahal, lanjutnya, kebahagiaan menyambut kelahiran bayi tidak perlu diukur dari seberapa megah pesta yang diadakan atau seberapa banyak likes yang didapat. Momen ini bisa tetap hangat meski hanya dirayakan kecil-kecilan, dengan cara yang lebih personal dan penuh makna.
"Ujung-ujungnya, yang paling berharga bukanlah dekorasi atau konten, melainkan perasaan lega, syukur, dan cinta yang menyertai perjalanan menyambut anggota keluarga baru," imbuhnya.
Agar para calon ibu tidak terdistorsi dengan unggahan yang harus 'instagrammable', dr. Tami pun menyarankan dua hal, yakni fokus pada apa yang baik dalam hidup kamu serta melatih mindfulness (kesadaran batin).
Sementara dalam hal melatih kesadaran batin, ini merupakan teknik yang bagus untuk menempatkan segala sesuatu ke dalam perspektif, sehingga dapat membantu mengatasi efek negatif unggahan di media sosial.
"Dengan melatih mindfulness, para calon ibu dapat belajar mengamati emosi-emosi yang ada dengan sadar, tanpa tersesat atau terjebak di dalamnya," tukas dr. Tami.
Kehamilan pada dasarnya merupakan pengalaman ketubuhan yang dinamis dengan banyak perubahan drastis, emosi naik-turun, sementara pasangan laki-laki terlihat gelisah di pinggir lapangan.
Dalam situasi itu, seperti dilansir Vogue, wajar jika ada keinginan akan sesuatu yang pasti, sebuah garis tegas di tengah kabut ketidakpastian.
Pesta pengungkapan jenis kelamin lalu hadir sebagai momen kepastian: di balik bengkaknya pergelangan kaki dan ngidam aneh-aneh, setidaknya ada jawaban konkret dari hasil USG.
Namun, betapa pun menenangkannya, pesta ini juga mencerminkan tren kehamilan yang kian diarahkan pada estetika.
Momen pribadi sering dikemas agar terlihat indah di feed media sosial, seolah setiap detail harus bisa dijual dalam bentuk konten.
Perayaan yang mestinya sederhana justru bisa melibatkan risiko besar, bahkan mengorbankan keselamatan, hanya demi menciptakan momen yang spektakuler.
Justru, momen-momen kecil yang tulus, tertawa bersama keluarga, doa hangat dari sahabat, atau sekadar kue sederhana, sering kali meninggalkan jejak yang lebih mendalam.
Alih-alih mengejar kesempurnaan visual atau kehebohan di media sosial, mungkin lebih baik kita kembali merayakan dengan cara yang aman, sederhana, dan penuh makna.
Karena yang paling penting bukanlah bagaimana pesta itu terlihat dari luar, melainkan bagaimana kita benar-benar merasakan cinta, dukungan, dan kebahagiaan dalam perjalanan menjadi orang tua.
Editor: Sekar Kinasih