diajeng.id - Seiring dunia perkencanan modern merespons relasi antarmanusia yang semakin hari semakin dinamis, lahirlah istilah-istilah baru.
Sebelumnya, kita sudah tak asing dengan ghosting; menghilang tiba-tiba tanpa penjelasan untuk mengakhiri sebuah hubungan, dan gaslighting; bentuk manipulasi dalam suatu hubungan yang membuat pasangan selalu merasa bersalah atas tindakannya dan meragukan kebenaran yang diyakininya.
Bagaimana jika kedua istilah tersebut dipersatukan jadi ghostlighting? Benarkah ini tren kencan yang disebut-sebut paling toksik pada masa kini?.
Apa Itu Ghostlighting dan Apa Tanda-Tandanya?
Artikel Cosmopolitan berjudul: "Ghostlighting May Be the Most Toxic Dating Trend Yet" mendefinisikan ghostlighting sebagai kondisi ketika seseorang memutus komunikasi dengan teman kencannya secara tiba-tiba tanpa alasan (ghosting), lalu beberapa waktu kemudian muncul kembali seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Selanjutnya, saat kekasih yang jadi korban bertanya tentang kepergiannya selama beberapa waktu, pelaku malah membuat korban jadi merasa bersalah (gaslighting) alih-alih meminta maaf.
Waspadai tanda utama pada pelaku ghostlighting. Setelah menghilang lalu muncul lagi tanpa rasa bersalah, pelaku akan menyangkal fakta-fakta dan menyalahkan pasangan yang sebenarnya adalah korban.
Mereka menolak mengakui bahwa dirinya adalah pihak yang telah melakukan ghosting. Pelaku justru menyalahkan korban lewat pertanyaan seperti, "Kenapa kamu nggak pernah meneleponku?/Kamu di mana saja selama ini?"
Bahkan, pelaku juga acap kali menuduh korban sebagai pihak yang terlalu sensitif dengan kondisi yang terjadi.
Mengapa Ghostlighting Dianggap Sangat Kejam?
Ghosting tentu menyakitkan karena meninggalkan ketidakpastian bagi korbannya. Namun, menurut laman Psychology Today, dengan menambahkan gaslighting di situasi tersebut, dapat diibaratkan situasinya seperti pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Sebab, korban berisiko termanipulasi.
Ghostlighting sangat merusak karena memicu ketidakstabilan emosi korban; korban jadi meragukan ingatan dan persepsi realitasnya sendiri, sehingga merasa bersalah atau takut dianggap terlalu "menuntut" (needy) hanya karena menginginkan komunikasi yang konsisten dari pasangannya.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Apabila kamu ingin memberi pelaku kesempatan kedua, Psychology Today menyarankan untuk menuntut penjelasan yang konkret dan sejujur-jujurnya dari pelaku sebagai syarat utama, serta menegaskan batasan bahwa perilaku tersebut tidak dapat ditoleransi lagi.
Namun, jika kamu merasa sudah cukup dipermainkan sebagai korban ghostlighting, pertimbangkan untuk menutup pintu rapat-rapat (block and delete) pelaku dari kehidupanmu.
Memutus hubungan adalah pilihan terbaik karena pelaku manipulasi hampir tidak mungkin mau memberikan jawaban yang jujur.
Setelah melangkah pergi, menukil artikel di Stylist, fokuslah pada pemulihan diri. Jangan membuang energi untuk berdebat atau memaksa pelaku melihat kebenaran, karena mereka tidak akan mengakuinya.
Sadari juga bahwa perilaku ghostlighting adalah cerminan masalah internal pelakunya sendiri dan bukan tanggung jawab dirimu.
Kamu bisa berkonsultasi dengan pakar atau bercerita dengan teman yang kamu percaya, sambil pelan-pelan kembali fokus merawat diri sampai kondisi emosional kembali stabil.
Kenapa Ghostlighting Semakin Umum Terjadi?
Pakar relasi dan podcaster Sarah Hensley, PhD menilai fenomena masifnya penggunaan aplikasi kencan sebagai salah satu faktor yang membuat pola relasi ghostlighting semakin sering ditemui dalam hubungan masa kini.
Menurutnya, seperti dijelaskan situs Forbes, rentang perhatian manusia yang semakin pendek juga dapat memengaruhi cara seseorang membangun koneksi.
"Akibatnya, mereka mungkin merasa bosan dengan hubungan yang awalnya terasa menarik itu, lalu menghilang untuk mencari sesuatu yang lain, tapi kemudian merasa bosan lagi dan akhirnya kembali ke hubungan yang lama," ujar Hensley.
Namun, Hensley menekankan bahwa ghostlighting tidak semata-mata disebabkan oleh aplikasi kencan. Hensley juga mengaitkannya dengan sejumlah faktor lain, termasuk dismissive-avoidant attachment, ketika manusia cenderung menghindari emosi dan kedekatan.
Mengenali pola tersebut dan berani menetapkan batas adalah upaya paling mendasar yang bisa kita lakukan menjaga diri dalam hubungan.
Artikel lainnya terkait relasi juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih