Menuju konten utama

Hartini dan Panggilan Kasihnya: Mengajar ABK, Menjaga Keluarga

Di tengah tuntutan emosional profesi sebagai guru PAUD yang mendampingi Anak Berkebutuhan Khusus, Hartini tetap berupaya hadir bagi keluarganya di rumah.

Hartini dan Panggilan Kasihnya: Mengajar ABK, Menjaga Keluarga
Header Diajeng Profil Guru Bu Hartini. tirto.id/Quita

diajeng.id - Bagi Hartini (43), menjadi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bukan sekadar panggilan, tapi juga perjalanan yang diwarnai tantangan dan keberkahan.

Mendampingi anak-anak PAUD di daycare, termasuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), adalah esensi dari pekerjaan yang diyakini Hartini.

Ia mengakui, mendampingi setiap anak membutuhkan pendekatan emosional yang mendalam, kesabaran tanpa batas, tanggung jawab besar, pemahaman karakter, dan yang paling utama, kemampuan untuk selalu menjaga suasana hati (good mood).

Momen-momen itu, menurutnya, bukanlah beban, melainkan hadiah.

Hartini

Hartini, guru PAUD Daycare Anak dan ABK, sedang menggendong salah satu anak yang diasuhnya. tirto.id/Dhita Koesno

"Mengasuh atau mendampingi anak bagi saya pribadi seperti memetik keberkahan setiap kalinya, apalagi ABK, anak spesial yang terkadang dianggap menyulitkan bagi sebagian orang, padahal sebenarnya ABK hanya butuh sedikit ruang untuk dirinya bisa diterima lingkungan," jelas Hartini saat dihubungi Diajeng Tirto di lokasinya bekerja di Yogyakarta pada awal Desember ini.

"Misalnya saat makan, semua anak dengan tertib duduk di kursi masing-masing," lanjut guru yang disapa Bunda Tin ini.

"Untuk ABK tidak perlu dengan berteriak maupun memanggil-manggil memerintahkan anaknya duduk seperti yang lain, namun yang saya lakukan adalah dengan menghampirinya, bicara pelan-pelan seperti 'yok maem dulu, temannya sudah pada nunggu', lalu menggandengnya ke kursi makan, dengan begitu anak akan lebih menurut."

Bagi anak-anak spesial, imbuhnya, mereka hanya membutuhkan kenyamanan. Kenyamanan yang dimaksud untuk bisa melakukan yang anak-anak pada umumnya bisa lakukan.

"Mereka juga ingin bisa dimengerti meski hanya berisyarat dengan bahasa tubuhnya. Mereka juga ingin bisa berlindung dari lingkungan yang terkadang menganggap mereka 'aneh', 'nakal', 'tidak bisa diatur', dan lain-lain," ucapnya.

Hartini menegaskan bahwa menjadi pendamping ABK menuntut kejujuran seutuhnya.

"Saya tidak boleh berpura-pura menjadi tempat yang memberikan kenyamanan," ujar Hartini.

Alasannya sederhana: ABK memiliki kepekaan emosional yang sangat tinggi. Dengan demikian, ketulusan sejati dari hati adalah satu-satunya kunci agar proses pendampingan tersebut dapat berhasil dan bermakna.

Dalam tugas pendampingan, lanjutnya, semua anak memiliki tantangan tersendiri, terutama ABK.

Namun, setiap tantangan tersebut bisa dilalui dan dilewati olehnya karena ada kepercayaan dari orang tua atau wali murid, serta terciptanya kerja sama yang solid antara dirinya dan wali anak.

"Hal menantang dari mendampingi ABK, ketika mereka tantrum yang bisa menyakiti diri mereka sendiri. Dari memukul kepalanya sendiri, melempar barang, menendang meja kursi, berteriak histeris, sampai menjatuhkan tubuh ke lantai hingga terluka, bahkan sampai membenturkan kepala ke tembok juga," cerita Hartini.

Saat menghadapi situasi seperti itu, Hartini tidak pernah mengeluarkan banyak kalimat atau berteriak keras dengan harapan mereka mendengarkan dan berhenti melakukan hal tersebut.

"Yang saya lakukan adalah mendekatinya, memegang tangannya, lalu saya peluk. Saya percaya ketulusan dari hati memberikan energi positif bagi ABK sehingga bisa membuat mereka berhenti tantrum," kata Hartini.

Terkait pendampingan anak, Hartini sadar betul bahwa upaya yang dikerahkan akan banyak menguras energi, pikiran, bahkan sisi emosional.

"Namun terlepas dari itu semua, saya adalah ibu dari dua orang anak, yang mungkin anak-anak saya sudah terbiasa dengan pola rutinitas ibunya yang sibuk kerja dari mereka kecil, tapi bagaimana pun, waktu sesempit apa pun, akan selalu saya usahakan untuk tetap bisa membersamai anak-anak," terangnya.

Ia menegaskan, kebersamaan dengan anak-anak terkadang tidak bisa memakai pola "harus duduk bersama", karena anak-anaknya memiliki kegiatan yang padat.

Kadang-kadang, Hartini mengandalkan media sosial untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya. Sementara akhir pekan dimanfaatkan untuk kumpul keluarga.

"Saat kumpul, saya lebih sering menghabiskan waktu dengan sharing, ngobrol, bercerita yang mungkin selama weekday belum sempat diceritakan," jelasnya.

Sebagai ibu, Hartini mengakui, anak-anaknya adalah skala prioritas.

"Sesibuk apa pun, setiap pagi saya bangun lebih awal untuk bisa menyiapkan makan dan bekal anak sekolah, mengantar sekolah, hingga memantau perkembangan akademik anak."

Profesionalisme adalah kunci dalam peran ganda Hartini.

Ia menganalogikan begini. Sesulit apa pun masalah pribadi yang tengah ia hadapi, saat melangkah masuk ke ruang daycare, semua urusan itu harus disimpan.

Begitu pula sebaliknya. Setelah seharian lelah bekerja, ia sebisa mungkin mengunci rasa lelah itu sebelum tiba di rumah. Tujuannya adalah menjalankan peran sebagai ibu sepenuhnya.

"Sebisa mungkin ketika bersama anak, rasa lelah itu di-keep. Jalani peran sebagai ibu, membersamai saat belajar dan sharing kejadian di sekolah hari itu," tukas Hartini.

Artikel menarik lainnya seputar ibu dan anak bisa dibaca melalui tautan ini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih