Menuju konten utama

Shareloc Terus dengan Pasangan: Bikin Tenang atau Mengekang?

Fitur berbagi lokasi bisa menjadi alat yang bermanfaat bagi pasangan, tetapi hanya jika dilandasi kepercayaan dan persetujuan kedua belah pihak.

Shareloc Terus dengan Pasangan: Bikin Tenang atau Mengekang?
Header Diajeng Shareloc Pasangan. foto/istockphoto

diajeng.id - Di dalam relasi yang sehat dan terbuka, pasangan cenderung saling percaya. Artinya, gesekan terkait dugaan perselingkuhan atau kebohongan pasangan bisa jadi jarang atau tidak ada sama sekali.

Namun, faktanya, sebagian orang masih ada yang penasaran dengan keberadaan pasangannya ketika sedang tidak bersama.

Bagi mereka, melacak lokasi atau berbagi lokasi menjadi fitur aplikasi yang wajib ada di smartphone agar bisa mengetahui di mana pasangan sedang berada.

Pertanyaannya, apakah ini merupakan praktik relasi yang sehat?

Madeline, Brand Manager di Poosh, menilai bahwa berbagi lokasi dapat menjadi pilihan daripada bertanya terus-terusan di mana lokasi pasanganmu.

"Pertanyaan ‘di mana kamu sekarang’ selalu datang dari sikap mengontrol dan berbahaya dari mantanku yang melakukan kekerasan emosional dan fisik," ujar Madeline.

Bagi Madeline, berbagi lokasi bisa dilakukan asal kedua belah pihak saling percaya dan dilakukan atas persetujuan keduanya juga.

"Aku tidak melihat ada yang salah dengan berbagi lokasi kecuali kamu memaksa pasanganmu untuk mengatasi rasa tidak aman, mengalami kecemasan terus-menerus, dan tidak mempercayainya," ucap Madeline lagi.

Menurutnya, dalam situasi seperti itu, yang perlu dibenahi bukanlah akses terhadap lokasi pasangan, melainkan persoalan kepercayaan dalam hubungan itu sendiri.

Selvie (43) mengaku pernah berada di fase ingin selalu mengetahui keberadaan pasangannya, terutama pada awal-awal pernikahan.

Alasannya, saat itu Selvie merasa bahwa pernikahan yang ideal salah satunya perlu tahu dan ingin tahu apa saja yang dilakukan pasangan, termasuk di mana dia berada.

Namun, seiring berjalannya waktu, pandangannya berubah.

"Impact-nya bisa jadi kita atau pasangan menjadi risih, sedikit enggak nyaman dan terganggu atau merasa tidak dipercayai," ujar Selvie kepada Diajeng baru-baru ini.

Kini, Selvie memilih untuk tidak lagi merasa perlu mencari tahu lokasi pasangannya setiap saat. Baginya, hubungan yang sehat dibangun di atas kepercayaan, bukan pengawasan.

"Kalau sekarang ya memilih enggak perlu tahu dan cari tahu juga. Ikhlaskan saja. Allah pasti menjaga dan sebagai orang dewasa, kita atau pasangan kita sudah bisa menjaga dirinya, tahu apa yang baik untuk dirinya," tuturnya.

Lebih jauh, wiraswasta yang berdomisili di Harapan Indah, Bekasi ini menilai bahwa kesamaan cara pandang antara suami dan istri menjadi salah satu kunci agar hubungan tetap berjalan harmonis.

"Kalau dapat pasangan yang setara pemikiran, oke aman saja ke depan dan seterusnya," tutupnya.

Berbagi Lokasi: Peduli atau Mengekang?

Praktik saling berbagi lokasi dengan pasangan memang memunculkan pro dan kontra. Sejumlah pakar hubungan menilai fitur ini bisa menjadi alat yang bermanfaat, tetapi hanya jika dilandasi kepercayaan dan persetujuan kedua belah pihak.

Dalam artikel Verywell Mind berjudul "Should You Share Your Location With Your Partner?" disebutkan bahwa setiap individu tetap memiliki hak atas privasi meskipun telah berkomitmen dalam hubungan yang sedang dijalani bersama pasangan.

Berbagi lokasi tujuannya untuk alasan keamanan atau koordinasi aktivitas sehari-hari, tetapi tidak seharusnya menggantikan kepercayaan.

Apabila sebuah hubungan sudah dipenuhi kecurigaan, fitur pelacak lokasi malah berpotensi memperburuk keadaan karena salah satu pihak bisa terdorong untuk mengawasi setiap pergerakan pasangannya.

Sementara itu, dalam wawancara dengan Inverse, terapis hubungan Dr. Jenni Skyler mengingatkan bahwa permintaan untuk selalu mengetahui lokasi pasangan dapat menjadi bentuk kontrol apabila tidak didasari alasan yang sehat.

Menurut Dr. Skyler, praktik tersebut bisa membawa seseorang berperilaku mengawasi secara berlebihan.

"Ini bisa jadi bentuk kontrol terhadap pasangan dan membuat kita terus tenggelam dalam kecurigaan atau pikiran yang berlebihan," kata Dr. Skyler.

Namun, terapis Dr. Lisa Marie Bobby berpandangan bahwa pada hubungan yang sehat, berbagi lokasi bukanlah masalah selama dilakukan secara sukarela, tidak dipaksakan, dan kedua pihak sama-sama merasa nyaman.

"Jika [pasangan] mengaktifkan tracking lokasi mereka, itu bukanlah sesuatu yang terlalu dipikirkan orang lain," ucap Bobby.

Pandangan yang lebih seimbang juga disampaikan terapis hubungan Nedra Glover Tawwab kepada The Guardian. Tawwab mengaku berbagi lokasi dengan suaminya karena sering bepergian untuk bekerja. Kebiasaan tersebut memberikannya rasa tenang.

Menurut Tawwab, yang jadi masalah bukanlah kecanggihan teknologinya, melainkan cara penggunaannya.

Mengecek lokasi pasangan untuk memastikan mereka tiba dengan selamat setelah perjalanan jauh dengan pesawat misalnya, kata Tawwab, berbeda dengan terus-menerus menelepon mereka setiap keluar rumah.

"Kalau seseorang terus-menerus memantau setiap pergerakanmu, itu bisa jadi pelanggaran terhadap privasimu, meskipun kamu sendiri yang membagikan lokasimu,” tegas Tawwab.

Artikel lainnya seputar relationship juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih