Menuju konten utama

Menggali Informasi Pasangan di Medsos, Sampai Mana Batasnya?

Benarkah rasa aman dalam hubungan cukup dibangun dari seberapa banyak informasi yang kita miliki tentang pasangan?

Menggali Informasi Pasangan di Medsos, Sampai Mana Batasnya?
Header diajeng Mengumumkan Pasangan di Medsos. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Belakangan ini, kita sering melihat beberapa akun di Threads yang membagikan unggahan cukup spesifik terkait pasangannya.

Melalui unggahan yang dilengkapi foto pasangan dan sejumlah identitas dasar ini, pemilik akun medsos memberikan pengumuman sekaligus semacam ajakan kepada warganet untuk menyampaikan informasi terkait pasangannya, termasuk yang pernah mengenal secara personal serta mengetahui satu-dua hal tentang perilaku atau riwayatnya.

Unggahan ini ditemukan pada pasangan dalam berbagai tahap; baik yang baru saja memulai hubungan romantis maupun yang serius melanjutkannya ke jenjang pernikahan.

Banyak komentar benar-benar memberikan informasi bermanfaat terkait pasangan yang ditanyakan. Tidak sedikit yang merespons sosok pasangan yang ditanyakan sebagai kenalan atau teman masa sekolah yang baik.

Di luar itu, respons cukup beragam. Sebagian warganet memuji keberanian pemilik akun untuk mengungkap profil kekasihnya sekaligus menganggap upaya verifikasi latar belakang pasangan kepada publik medsos ini sebagai langkah cerdas.

Ada pula warganet yang berkeluh kesah, jika hal serupa dilakukannya, kemungkinan akan ada banyak laporan kurang menyenangkan terkait pasangannya.

Tren di medsos ini sekilas mengingatkan dengan tradisi Publikasi Kanonik dalam Gereja Katolik. Setiap calon pasangan suami-istri Katolik wajib mengumumkan pernikahannya selama tiga minggu berturut-turut di gereja sebelum pernikahan itu dilangsungkan.

Selain menjadi pengumuman resmi sebelum pernikahan dilangsungkan, Publikasi Kanonik bertujuan memberi kesempatan bagi siapa pun yang mengetahui adanya halangan pernikahan untuk menyampaikannya sebelum perkawinan berlangsung.

Dengan begitu, proses pernikahan dapat berjalan sesuai ketentuan Gereja sekaligus meminimalkan potensi persoalan di kemudian hari.

Maka dari itu, Publikasi Kanonik selalu diakhiri dengan imbauan bagi para umat gereja untuk menginformasikan segala halangan yang diketahui kepada romo di gereja setempat atau otoritas Gereja yang berwenang.

Gali Info di Medsos: Main Aman atau Trust Issue?

Kita hidup di era yang sangat memudahkan untuk mendapatkan informasi. Dalam konteks relasi, menggali informasi tentang pasangan dengan bantuan teknologi digital dapat dilihat sebagai sebuah langkah strategis.

Seiring tingginya laporan kasus kekerasan dalam hubungan, mengecek latar belakang pasangan bisa jadi tindakan preventif yang berguna untuk keselamatan diri.

Selain itu, pencarian ini dapat membantu mengenali pola perilaku pada pasangan, apakah mereka punya kecenderungan berbohong atau riwayat melakukan kekerasan.

Studi yang diterbitkan di jurnal Social Media + Society (2025) menemukan bahwa perempuan yang memiliki pengalaman kekerasan digital atau kekerasan psikologis dalam hubungan romantis cenderung lebih sering melakukan digital monitoring terhadap pasangannya. Temuan ini didasarkan pada survei terhadap perempuan kulit Hitam dan Latinx di Amerika Serikat.

Digital monitoring mencakup berbagai aktivitas, seperti memeriksa akun media sosial pasangan, meninjau riwayat pencarian di internet, hingga membaca pesan-pesan pribadi di perangkat mereka.

Bagi sebagian perempuan yang memiliki pengalaman kekerasan dalam relasi, digital monitoring dapat berfungsi sebagai strategi koping untuk mengurangi ketidakpastian dalam relasi. Dengan mengumpulkan informasi mengenai aktivitas pasangan, mereka berupaya memperoleh rasa aman dan kepastian dalam hubungan.

Di sisi lain, upaya menggali informasi terkait pasangan dengan bantuan teknologi digital juga memunculkan sejumlah risiko, terutama bagi mereka yang memutuskan untuk mengunggah foto, nama lengkap, atau identitas dasar pasangannya ke media sosial.

Cara ini memang dapat membantu kita dalam memperoleh informasi baru tentang pasangan. Namun, informasi yang dibagikan orang lain juga berpotensi disalahgunakan oleh pihak yang ikut membacanya di internet. Tidak menutup kemungkinan pula munculnya misinformasi dari orang-orang yang iseng atau tidak bertanggung jawab.

Sebagaimana manusia, kita semua tentu telah melalui berbagai perubahan dalam hidup, tidak terkecuali pasangan kita. Informasi yang dibagikan oleh orang-orang yang pernah mengenalnya bisa jadi sudah tidak lagi relevan dengan kondisinya saat ini.

Oleh karena itu, ada baiknya informasi yang diperoleh tidak langsung dianggap benar. Pertimbangkan untuk konfirmasi terlebih dahulu dengan pasangan atau orang-orang terdekatnya.

Selain itu, sebelum kamu mengunggah foto pasangan di media sosial, sebaiknya pastikan pasanganmu tahu dan setuju. Kesepakatan ini merupakan bentuk penghormatanmu terhadap privasi dan batasan yang dimiliki pasanganmu.

Jika pasanganmu merasa kurang nyaman data dirinya dibagikan di media sosial, coba pahami keputusannya. Faktanya, ketidaknyamanan ini tidak selalu berhubungan dengan hal-hal yang perlu disembunyikan.

Bagi sebagian orang, menjaga privasi merupakan prinsip yang penting sehingga mereka kurang nyaman jika identitas atau informasi pribadinya tersebar di media sosial.

Di satu sisi, banyak hal yang ingin kita ketahui tentang pasangan biasanya lebih mudah dipahami lewat obrolan langsung yang terbuka dengan mereka.

Di sisi lain, pada tahap tertentu, menggali informasi tentang pasangan secara berlebihan juga sangat mungkin berakar dari rasa keraguan-raguan dalam relasi atau masalah terkait kepercayaan alias trust issue.

Menjaga Batasan dalam Hubungan Romantis

Keputusan untuk melakukan digital monitoring pada pasangan, termasuk menggali informasi pasangan di media sosial, tidak selalu bisa dipandang secara hitam-putih. Setiap pasangan memiliki alasan dan dinamika hubungan yang berbeda dalam mempertimbangkannya.

Di antara berbagai cara menjaga hubungan, membicarakan batasan bersama pasangan tetap menjadi salah satu aspek yang penting.

Dalam hubungan romantis, batasan atau boundaries bukan berarti melarang pasangan kita untuk melakukan sesuatu.

Boundaries membantu kita dan pasangan dalam menyampaikan kebutuhan, rasa nyaman, dan semua hal yang dirasa penting agar hubungan dapat berjalan dengan lebih sehat dan saling menghargai.

“Sampaikan dengan jelas apa saja kebutuhanmu, apa yang kamu sukai, apa yang tidak kamu sukai; karena kalau kamu setuju untuk menghabiskan waktu bersama seseorang, kamu harus sangat jelas tentang hal-hal yang mengganggumu.”

Demikian pernah ditegaskan oleh terapis psikologi Nedra Glover Tawwab terkait boundaries dalam siniar dengan Vox pada 2022 lalu.

Memiliki informasi sebanyak-banyaknya tentang pasangan memang dapat memberikan kesan adanya “perasaan aman” karena kita merasa cukup tahu tentangnya. Yang jadi pertanyaan, benarkah rasa aman dalam hubungan cukup dibangun hanya dari situ?

Seberapa terbuka kita saling berkomunikasi tetap memegang peranan kunci. Sebab, mungkinkah pasangan memahami apa yang kita rasakan kalau kita tidak pernah mengobrol tentang itu?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih