Menuju konten utama

Invisible String Theory: Yang Perlu Diwaspadai dari Takdir Cinta

Konsep yang tidak punya dasar ilmiah ini berakar pada cerita rakyat kuno, seperti mitologi Asia Timur tentang benang merah takdir (red thread of fate).

Invisible String Theory: Yang Perlu Diwaspadai dari Takdir Cinta
Header Diajeng Invisible String Theory. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Semasa hidup, apa kamu pernah jatuh cinta pada orang yang rasanya sangat familier? Padahal, kamu belum pernah lihat atau mengobrol langsung. Atau, mungkin kamu dan orang tersebut pernah berada di satu tempat bersama, bertahun-tahun lalu tanpa saling tahu, tetapi kemudian kalian dipertemukan dalam satu momen tidak terduga?

Fenomena penuh keajaiban ini sering disebut Invisible String Theory atau Teori Benang Tak Kasat Mata.

Dipopulerkan kembali oleh lagu Taylor Swift, konsep ini menggambarkan adanya ikatan tersembunyi yang menghubungkan dua jiwa. Namun, di balik keromantisannya, apakah teori ini benar-benar valid secara psikologis atau sekadar ilusi yang manis?

Memahami Konsep Benang Tak Kasat Mata

Invisible String Theory pada esensinya adalah gagasan bahwa setiap orang terhubung dengan pasangan sejati atau belahan jiwanya melalui benang metaforis yang tidak terlihat.

Artikel "Can the Invisible String Theory Actually Help You Find Your Person?" dari Verywell Mind menjelaskan, orang-orang yang meyakini teori ini percaya bahwa apa pun itu, entah jarak, waktu, atau rintangan yang memisahkan, alam semesta pada akhirnya akan menarik orang-orang yang memang ditakdirkan bersama.

Pakar hubungan Dr. Wendy Walsh dan konselor Suzannah Weis menegaskan bahwa konsep ini berakar pada cerita rakyat kuno, seperti mitologi Asia Timur tentang benang merah takdir (red thread of fate).

"Invisible String Theory didasarkan pada keyakinan akan takdir, spiritualitas, dan suratan nasib," ucap Walsh.

Teori ini tidak memiliki dasar ilmiah seperti sains atau psikologi empiris, melainkan sebuah keyakinan spiritual dan emosional tentang takdir percintaan.

"Seolah-olah ada seutas benang yang mengikat satu orang dengan orang lainnya, sehingga ke mana pun satu orang itu bergerak, orang satunya akan mengikuti ke manapun dia pergi, bahkan tanpa mereka sadari," tambah Weis.

Penawar Cemas dan Pemberi Harapan

Meski tidak memiliki landasan ilmiah, kepercayaan ini membawa dampak positif bagi kesehatan mental jika disikapi secara bijak.

Menurut Healthline, teori ini meyakini keberadaan benang tak kasat mata dapat membantu meredakan kecemasan para jomblo yang sedang kesulitan dalam dunia kencan dan dapat memberikan rasa nyaman bahwa seseorang yang tepat sedang disiapkan oleh waktu.

Teori ini bhakan dapat mengurangi rasa cemas kronis ini, sehingga efeknya pun menjadi baik secara fisik karena mengurangi kadar hormon stres kortisol.

Sementara itu, terapis pernikahan Anna Elton melalui situs Cosmopolitan menjelaskan bahwa narasi takdir ini membantu kita memberi makna pada patah hati di masa lalu, sehingga kita tetap optimistis dalam menyongsong masa depan.

"Dengan gagasan ini, orang merasa bahwa ada hubungan-hubungan tertentu yang memiliki makna istimewa dalam hidupnya," jelas Elton.

Bisa Jadi Ilusi Berbahaya?

Namun, ketergantungan berlebihan pada konsep ini menyimpan celah emosional yang berbahaya.

Dinukil Mamamia, penulis Alix Nicholson menyebut Invisible String Theory sebagai emotional bubble wrap, semacam pelindung emosional yang rasanya nyaman untuk sementara, akan tetapi tidak dirancang untuk penggunaan jangka panjang.

Invisible String Theory perlu diwaspadai karena manusia punya kecenderungan untuk mengira kebetulan acak sebagai rancangan kosmis.

Buruknya, teori ini berisiko mengabaikan tanda-tanda bahaya (red flags), toleran terhadap perlakuan buruk, atau enggan melepaskan relasi yang sebenarnya sudah tidak sehat.

Nicholson menggarisbawahi bahwa "benang" tersebut pada esensinya membawa kita pada sebuah pelajaran hidup, alih-alih ikatan seumur hidup.

Sementara psikolog Dr. Suzanne Wallach di Cosmopolitan memperingatkan bahwa "takdir mungkin bisa mempertemukan dua orang, akan tetapi takdir tidak akan bisa mempertahankan sebuah hubungan."

Wallach mengajak kita untuk memprioritaskan rasa aman dan konsistensi, bukan sekadar intensitas yang sering disalahartikan sebagai takdir.

Memercayai takdir secara buta dapat memicu sikap pasif, membuat kita jadi enggan berusaha, atau bahkan terjebak dalam hubungan beracun dan abusif karena merasa "sudah terikat secara alam semesta."

Metafora Indah, Bukan Kompas Utama

Invisible String Theory bukanlah sebuah teori ilmiah yang valid, melainkan ilusi emosional semata.

Menikmati kehangatan cerita kebetulan dalam hidup tentu sah-sah saja sebagai pendorong harapan. Namun, menjadikan benang tak kasat mata sebagai satu-satunya kompas dalam berelasi adalah sebuah kekeliruan.

Hubungan yang sehat dan berkelanjutan tidak dibangun dari benang gaib yang pasif, melainkan dari komunikasi nyata, rasa hormat, komitmen, dan kerja keras kedua belah pihak.

Artikel lainnya seputar relasi juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih