diajeng.id - Hampir semua orang pernah merasakan yang namanya jatuh cinta.
Namun, bagaimana jika petualangan mencari cinta berubah menjadi siklus yang tiada akhir?
Bayangkan, kita selalu memiliki pasangan, berpindah dari satu hubungan serius ke hubungan berikutnya hampir tanpa jeda.
Di mata orang lain, kita mungkin terlihat beruntung atau sangat romantis. Namun, di sisi lain, relasi tersebut bisa mengarah pada pola hubungan yang perlu diwaspdai, istilahnya "serial monogamy" atau monogami serial.
Apa Itu Monogami Serial?
Dalam artikel berjudul "Diary of a Serial Monogamist" di laman Love Life Learning Center, psikolog klinis Dr. Thomas Jordan menjelaskan bahwa pelaku monogami serial merujuk pada individu yang bisa berkomitmen penuh pada satu hubungan cinta pada satu waktu, akan tetapi hanya untuk jangka waktu yang terbatas.
Mereka tidak berselingkuh. Mereka tidak punya masalah dalam komitmen dengan pasangan yang sedang dikencani atau diajak berhubungan romantis. Namun, mereka punya kecenderungan untuk tidak mampu mempertahankan hubungan tersebut dalam jangka waktu tertentu.
Mereka juga mengalami konflik-konflik sebagaimana pasangan lainnya, sampai akhirnya tiba di titik ketika hubungan tidak bisa diselamatkan, komitmen berakhir, dan sampailah pada fase perpisahan.
Saat hubungan itu berakhir, mereka hanya butuh jeda waktu singkat saja untuk menyendiri atau memproses emosinya. Selajutnya, mereka bisa segera menjalin hubungan yang baru lagi dengan mengulang tahapan-tahapan yang sama persis seperti sebelumnya.
Pola Perilaku yang Terjadi
Seperti dijelaskan oleh Dr. Jordan, siklus ini biasanya mengikuti tahapan yang sangat mudah ditebak.
Pada pertemuan awal dan saat sedang romantis-romantisnya, pelaku bisa membuat pasangannya sangat antusias dengan janji-janji manis.
Hubungan sering berkembang dengan sangat cepat dan intens; mereka mungkin menyatakan cinta atau menuntut komitmen secara eksklusif dalam waktu singkat, bahkan sebelum benar-benar mengenal pasangan baru mereka.
Hubungan yang awalnya sangat manis bisa berakhir dengan perpisahan yang menyakitkan. Alih-alih meratapi kesedihan, mereka yang kecanduan sensasi awal jatuh cinta ini akan langsung mencari pelarian pada sosok baru untuk menghindari rasa sepi.
Tak heran jika keluarga atau teman-temannya sering berseloroh bahwa mereka "tidak pernah menjomblo". Apa kamu pernah dijuluki begitu, atau kenal temanmu yang seperti itu?
Bahaya yang Perlu Diwaspadai
Meski sekilas monogami serial tidak merugikan, kebiasaan ini perlu diwaspadai.
Menurut Better Help, pertama, hubungan seperti ini acap kali tidak berlangsung dengan tulus dan tidak benar-benar serius. Pelaku monogami serial cenderung menikmati sensasi pada awal jatuh cinta, tetapi bukan otomatis mencintai pasangannya. Hal ini membuat mereka rentan terjebak dengan orang yang sebenarnya tidak kompeten mencari cinta sejati.
Kedua, ada risiko keputusan impulsif yang berpotensi merusak hidup, seperti pindah kota atau keluar dari pekerjaan demi pasangan baru, yang akhirnya meninggalkan penyesalan mendalam saat hubungan tersebut kandas.
Ketiga, pola ini sering mengasingkan mereka dari keluarga dan sahabat karena fokus mereka sepenuhnya tersedot oleh pasangan baru.
Yang paling mengkhawatirkan, mereka bisa kehilangan kesempatan untuk mengenal diri sendiri, mengalami ketergantungan emosional yang tidak sehat, dan tidak pernah belajar untuk mandiri.
Adanya kondisi-kondisi tersebut membuat pelaku monogami serial secara tidak sadar mencari pasangan yang "butuh diselamatkan" untuk mereplikasi dinamika masa lalu mereka.
Cara Terbebas dari Siklus Ini
Dilansir VeryWell Mind, memutus rantai monogami serial bukanlah hal mudah, tetapi sangat mungkin dilakukan.
Kalau kamu merasa dirimu adalah pelaku atau sedang mengalami pola relasi ini, langkah pertama yang bisa dilakukan dengan menyadari sesegera mungkin bahwa ada pola hubungan yang memang berulang dan cari tahu dari mana asal perilaku tersebut.
Menulis jurnal pribadi tentang riwayat hubungan dapat membantu mengidentifikasi pola ini.
Langkah berikutnya adalah dengan mengembangkan keterampilan emosional. Ini bisa dilakukan dengan fokuslah membangun rasa percaya diri yang tidak bergantung pada validasi pasangan.
Mulailah memprioritaskan kebutuhan diri sendiri dan jalin kembali hubungan erat dengan teman serta keluarga.
Kalau kamu merasa kesulitan keluar dari kebiasaan tersebut, maka langkah akhir adalah dengan mencari bantuan profesional, seperti konsultasi ke psikolog atau konselor. Terapi, baik secara langsung maupun melalui platform terapi daring, dapat membantu mengurai akar masalah seperti trauma masa lalu atau gangguan kelekatan, serta membantu menetapkan batasan hubungan yang lebih sehat di masa depan.
Keluar dari siklus ini akan membuka jalan bagi dirimu untuk menemukan hubungan yang didasarkan pada cinta yang tulus dan saling memberi (reciprocal love), alih-alih sekadar pelarian dari rasa takut akan kesendirian.
Artikel lainnya seputar relationship juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih