Menuju konten utama

Fictosexuality, Apa Serunya Jatuh Hati pada Karakter Fiksi?

Bagaimana jika ketertarikan pada karakter fiksi berkembang jadi hubungan romantis hingga berujung pada janji suci pernikahan?

Fictosexuality, Apa Serunya Jatuh Hati pada Karakter Fiksi?
Header diajeng fictosexuality. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Siapa pun yang berkecimpung di dalam fandom, baik film, anime, buku, maupun serial video game, pasti mengerti rasanya naksir atau tergila-gila pada karakter fiksi.

Cara penggemar menyelami semesta fandom pun bermacam-macam. Ada yang cukup puas dengan memasang foto dan poster karakter favoritnya di dinding kamar atau sebagai wallpaper pada laptop dan smartphone. Ada yang mengoleksi merchandise, membuat ilustrasi, sampai membawa standee karakter favoritnya ke berbagai acara penting; dari ulang tahun, wisuda, sidang tugas akhir, bahkan acara resepsi pernikahan.

Tidak sedikit pula yang membuka platform seperti Tumblr dan Archive of Our Own (Ao3) untuk mencari fanfiction tentang karakter kesayangannya.

Kalau kamu bukan bagian dari komunitas fandom, ketertarikan mereka mungkin sekilas terlihat seperti hobi belaka.

Namun, apa jadinya kalau rasa suka kepada karakter fiksi berkembang menjadi hubungan romantis, bahkan sampai berujung pada pernikahan?

Pada 2018, laki-laki asal Jepang bernama Akihiko Kondo menggelar upacara pernikahan dengan Hatsune Miku, penyanyi virtual berambut biru yang populer di belantika musik pop Jepang. Kala itu, Kondo berusia 35 tahun.

Kondo meyakini penyanyi virtual tersebut sebagai penyelamat di masa-masa sulit dalam hidupnya, persisnya ketika dia mengalami perundungan di tempat kerja hingga mengalami tekanan mental serius.

Mereka mulai berpacaran pada 2008. Romansa antara mereka tumbuh kian kuat seiring Kondo berinteraksi dengan Hatsune Miku melalui perangkat Gatebox, teknologi yang memungkinkan kita berinteraksi dengan karakter virtual dalam bentuk hologram.

Meski sering disebut “aneh”, “gila”, bahkan menerima ancaman kematian dari orang asing karena keputusannya menjalin cinta dan menikah dengan tokoh fiksi, Kondo bergeming.

Ketika Gatebox menghentikan layanannya dan Kondo harus berpisah dengan hologram Hatsune Miku, laki-laki Tokyo ini yakin suatu hari nanti akan dipertemukan lagi dengan sang istri entah melalui teknologi robot atau ruang virtual metaverse.

Sampai masa itu tiba, dan hingga akhir hayatnya, Kondo berjanji untuk terus setia pada Hatsune Miku.

Seiring itu, Kondo tak pernah berhenti berkampanye menentang diskriminasi terhadap fictosexual, orang-orang seperti dirinya yang menjalani relasi asmara atau mengalami ketertarikan seksual pada karakter fiksi.

Memahami Fictosexuality

Menurut terapis sekaligus spesialis gender Rebecca Minor dalam Women’s Health, istilah fictosexuality berasal dari gabungan kata “fiction” dan “sexuality”. Meski asal-usulnya sulit ditelusuri, istilah ini kemungkinan berkembang dari komunitas daring dan ruang-ruang fandom di internet.

“Istilah ini muncul dalam komunitas daring dan fandom ketika orang-orang membutuhkan istilah untuk menggambarkan hubungan mereka yang mendalam dengan karakter yang tidak ada di dunia nyata,” ujar Minor.

Namun, tepatkah untuk melabeli seseorang sebagai fictosexual hanya karena dia kelihatan begitu menggemari karakter fiksi favoritnya?

Terkait itu, kita perlu membedakannya dengan crush, bentuk rasa kagum sesaat terhadap sosok orang lain atau karakter fiksi yang belum tentu melibatkan ketertarikan seksual. Mengomentari karakter anime dengan kalimat, “Wah, ganteng banget. Andai dia nyata dan bukan makhluk 2D,” belum cukup untuk membuat kita disebut fictosexual.

Fictosexual sering dibahas secara tumpang-tindih dengan aseksualitas. Meski begitu, fictosexual tidak otomatis aseksual.

“Aseksualitas adalah orientasi seksual yang menggambarkan orang yang tidak memiliki ketertarikan seksual kepada orang di dunia nyata. Sementara fictosexuality mendeskripsikan ketertarikan yang secara spesifik ditujukan pada karakter fiksi,” ujar Minor.

Singkatnya, orang dari berbagai orientasi seksual dapat menyebut dirinya sebagai fictosexual selama mereka mengalami ketertarikan mendalam terhadap karakter fiksi.

Penggunaan istilah fictosexual pun tidak serta-merta menentukan atau membatasi identitas seksual seseorang. Istilah tersebut bisa jadi salah satu bagian dari cara seseorang memahami dan menjelaskan ketertarikannya pada sosok lain.

Kebahagiaan dan Ruang Aman

Di balik berbagai kontroversinya, fictosexual bukanlah gangguan kesehatan mental.

Berdasarkan temuan studi dari University of Jyväskylä di Finlandia pada 2020 yang diulas di Newsweek, orang-orang yang mengidentifikasi sebagai fictosexual tidak “mencampuradukkan fiksi dan kenyataan”. Mereka “menyadari sepenuhnya elemen parasosial dalam hubungan tersebut”.

Meski demikian, dalam jangka panjang, interaksi dengan karakter fiksi “berisiko memunculkan ketidaknyamanan”. Salah satunya alasannya, seperti disampaikan seorang responden penelitian, adalah munculnya rasa sedih seiring menyadari sosok yang dicintai tersebut tidak eksis di dunia nyata.

“Aku benci merasa seperti ini, aku juga benci karena tidak bisa menceritakannya ke siapapun pun, sebab aku sangat malu. Di sisi lain, aku tak mau melepaskan dia [karakter fiksi yang dicintai],” ucap salah satu responden penelitian.

Pada waktu sama, hubungan emosional yang dibangun dengan karakter fiksi favorit bisa memberikan rasa aman bagi yang menikmatinya. Hal ini ditegaskan oleh Dr. Agnès Giard, peneliti dari Freie Universität Berlin yang terlibat dalam proyek “Emotional Machines: The Technological Transformation of Intimacy in Japan” di European Research Council.

“Bagi masyarakat pada umumnya, mengerahkan uang, waktu, dan energi pada sosok yang tidak hidup mungkin dipandang konyol,” ujar Dr. Giard pada New York Times pada 2022 silam, “Tapi bagi para pecinta karakter fiksi, praktik ini dipandang penting. Hal ini membuat mereka merasa hidup, bahagia, berguna, dan menjadi bagian dari gerakan yang memiliki tujuan hidup lebih besar.”

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Arrazani Hafidza

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Arrazani Hafidza
Penulis: Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih