diajeng.id - Baru-baru ini, kita dikejutkan dengan peristiwa memilukan remaja yang mengakhir hidupnya.
Kasus yang melibatkan pelajar di Sawahlunto, Sumatera Barat dan Sukabumi, Jawa Barat ini menjadi alarm keras bahwa persoalan kesehatan mental anak dan remaja tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Kejadian-kejadian ini bukan sekadar statistik yang berlalu-lalang di lini masa, melainkan alarm kolektif yang memekakkan telinga.
Di balik keputusan fatal seorang anak untuk mengakhiri hidupnya, sering kali tersembunyi "jeritan senyap" yang gagal didengar oleh orang-orang terdekatnya, termasuk orang tua.
Titik fokus krisis ini, dalam banyak kasus, terletak pada ruang paling personal dan seharusnya paling aman: relasi yang rumit antara anak remaja dan orang tuanya.
Secara alamiah, momen ini mendorong mereka untuk mengambil jarak dari figur otoritas, bahkan dari orang tua yang mencintai mereka.
Ketika remaja sedang meraba-raba bentuk diri atau identitasnya, maka relasi dengan orang tuanya bisa terlihat seperti lanskap yang bergeser pelan tapi pasti.
Perubahan Relasi dengan Orang Tua di Fase Remaja
Laman Stanford Childrens menjelaskan, remaja ingin menentukan langkah sendiri dan memilih waktu yang tepat untuk membuka atau menutup pintu peluang.
Dari sinilah, muncul perubahan-perubahan kecil yang sering disalahpahami sebagai jarak, padahal sejatinya itu semua adalah bagian dari proses tumbuh.
Mereka mulai ingin mengambil keputusan tanpa campur tangan pihak lain, dari hal sederhana memilih kegiatan, sampai membayangkan masa depan versinya sendiri.
Identitas diri remaja pun sedang dipahat ulang. Tubuh mereka mulai berubah. Cara pandang mulai berkembang, terutama untuk memecahkan masalah sendiri. Mereka akan terus mencoba mencari bentuk yang pas di dalam "kulit" barunya.
Pada saat yang sama, kehidupan di lingkup sosialnya juga bergeser.
Teman sebaya bisa jadi lingkaran yang terasa lebih aman, lebih mengerti, lebih setara. Obrolan panjang, percobaan-percobaan kecil dalam pergaulan, hingga ketertarikan romantis mulai memadati hari-hari mereka.
Tak jarang, dunia pertemanan jadi prioritas, sedangkan rumah bak ruang menjemukan.
Seiring itu, dinamika dengan keluarga ikut berubah. Remaja mulai memandang orang tua sebagai manusia dewasa dengan batasan, alih-alih figur serba tahu.
Dari sinilah rentan muncul gesekan. Memang wujudnya tak selalu dramatis, tetapi cukup membuat rumah kadang terasa seperti medan tawar-menawar.
Badai kecil itu umumnya akan mereda seiring kedewasaan tumbuh. Relasi anak-orang tua pun perlahan menemukan bentuk barunya.
Semua perubahan ini bukan tanda bahwa remaja menjauh dari orang tua, melainkan cara baru bagi mereka untuk belajar memantapkan langkah kakinya.
Dinamika yang terjadi di balik hubungan orang tua-remaja sering kali lebih rumit daripada sekadar “anak menjauh, orang tua tak mengerti.”
Riset terbaru oleh Dugan dkk di jurnal Developmental Psychology (2024) memberi gambaran yang lebih bernuansa: ada pola mendorong dan menarik yang bekerja diam-diam di dalam rumah.
Kecemasan itu, tanpa sengaja, justru mendorong anak semakin menjauh.
Di satu sisi, perubahan emosional orang tua kerap saling memantul satu sama lain, baik yang menenangkan maupun yang menggentarkan, sehingga memperkuat perubahan suasana yang ada di rumah.
Menariknya, dalam riset ini, tidak ditemukan hubungan antara gaya keterikatan ayah dan remaja dari waktu ke waktu, karena ikatan emosional lebih lemah dibandingkan dengan ibu. Namun, hal ini bisa saja dipengaruhi oleh terbatasnya representasi ayah dalam penelitian.
Di balik itu, hasil penelitian ini menegaskan bahwa relasi keluarga bukanlah garis lurus, melainkan jaringan yang dipengaruhi oleh dua arah berbeda yang berusaha untuk saling membentuk rasa aman.
Memahami pola dorong-tarik ini membantu kita melihat bahwa jarak yang dibuat remaja bukan bentuk penolakan, dan kecemasan orang tua bukan kelemahan.
Keduanya adalah sinyal, yang apabila dipelajari dengan tenang, bisa menjadi jembatan untuk menjaga hubungan tetap hangat tanpa mengekang.
Hasil riset dari Yale Child Study Center pada 2020 mengungkapkan bahwa kehangatan emosional orang tua bisa meredam retakan yang muncul akibat konflik sehari-hari dengan remaja, bahkan efeknya terasa dalam hitungan jam, bukan minggu.
Melalui buku harian selama tiga minggu, para peneliti menemukan pola yang konsisten.
Sebaliknya, pada hari di mana konflik meningkat, perasaan dicintai pada remaja dilaporkan merosot.
Temuan paling utama dari studi ini menyorot bagaimana kehangatan mampu menetralkan dampak konflik, selama kehangatan itu hadir pada hari yang sama.
Artinya, hubungan orang tua dan remaja tidak harus sempurna. Percakapan tidak selalu harus mulus dan cocok. Konflik tidak perlu dienyahkan sepenuhnya.
Yang dibutuhkan adalah “sentuhan hangat” yang membuat remaja tetap merasa aman di tengah riuhnya pertengkaran kecil ataupun jarak emosional yang tak terhindarkan.
Dalam konteks dinamika dorong-tarik yang begitu intens antara orang tua dan remaja, temuan ini mengingatkan kita bahwa yang relasi yang bertahan bukanlah yang tanpa gesekan.
Relasi yang bertahan adalah relasi yang menyediakan ruang untuk "pulang" ke rumah orang tua, baik dengan satu kalimat lembut, sebuah gestur kecil, atau satu pengakuan bahwa cinta tetap ada.
Di titik itu, kehangatan bisa jadi jangkar yang menjaga remaja tetap terhubung dan percaya dengan orang tua.
Baca juga artikel lainnya terkait relasi orang tua dan anak di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih