diajeng.id - Selama beberapa tahun terakhir, media sosial sering dijadikan kambing hitam setiap kali kita membahas kecemasan, stres, dan kerentanan mental pada anak muda.
Di TikTok, Instagram, X, dan Threads, sebagian dari kita pasti pernah berpapasan dengan unggahan kasus remaja kecanduan gawai, mulai dari siswa yang sulit lepas dari gim dan scroll tanpa henti, hingga orang tua yang melaporkan anaknya tantrum ekstrem ketika akses smartphone dibatasi.
Tak hanya itu, guru-guru di sekolah pun menemui adanya murid yang sulit konsentrasi karena ingin terus mengecek notifikasi medsos di smartphone, hingga terdapat kasus remaja yang tertekan akibat perbandingan sosial melalui platform media sosialnya.
Belum lagi, masih ada kekhawatiran generasi muda akan mengalami brain rot akibat konsumsi berlebihan konten medsos yang berkualitas rendah alias receh.
Kejadian-kejadian di atas memperkuat persepsi publik bahwa akar masalah kesehatan mental di kalangan Gen Z dan Gen Alpha sebagian besar adalah karena medsos.
Di Australia, pemerintah resmi melarang medsos untuk anak dan remaja, keputusan pertama dan dianggap paling progresif di dunia.
Di balik itu semua, kenyataan tentang penggunaan medsos di gawai tidak sesederhana itu.
Alih-alih menjadi pencetus utama, media sosial lebih tepat dipahami sebagai faktor yang memperparah kondisi yang sudah ada, baik itu lingkungan keluarga yang kurang suportif, tekanan akademik, maupun keterbatasan literasi digital.
Medsos memang bisa jadi pemicu, tetapi bukanlah faktor utamanya.
Menurut Manajer Center for Public Mental Health (CPMH) Universitas Gadjah Mada, Nurul Kusuma Hidayati M.Psi., Psikolog, ada tantangan lain yang tak kalah penting, yakni kemampuan anak usia remaja dalam memahami dan mengelola emosinya yang tergolong masih sangat rendah.
Minimnya literasi emosi di rumah membuat banyak anak tumbuh tanpa pembimbingan langsung dari orang tua, sementara peran pengasuhan perlahan bergeser ke layar gawai.
Akibatnya, mereka tidak terbiasa mengenali perasaan sendiri ataupun menyalurkannya dengan cara yang sehat.
“Paparan dunia digital yang tidak terkontrol semakin memperparah kondisi ini karena anak-anak sering kali tidak memiliki filter dalam menyerap informasi atau membandingkan diri dengan orang lain di media sosial.”
Demikian disampaikan Nurul pada sesi diskusi tanggal 12 November 2025 seperti dikutip dari laman resmi UGM.
Dalam rangka mencegah depresi hingga perilaku ekstrem pada anak, jelas Nurul, diperlukan langkah nyata dari dua lingkungan terdekat mereka, keluarga dan sekolah.
Di rumah, orang tua perlu menerapkan aturan screen time yang adil dan konsisten, sembari mengambil peran aktif sebagai pembimbing emosi dengan menunjukkan contoh ekspresi perasaan yang sehat dan terbuka.
Di satu sisi, sekolah memegang peran strategis dalam menciptakan sistem pendukung kesehatan mental yang lebih menyeluruh.
Penguatan program promotif dan preventif, pelatihan guru untuk mengenali perubahan perilaku siswa, hingga menyediakan jalur rujukan ke tenaga profesional menjadi bagian dari upaya yang perlu dijalankan.
Integrasi pembelajaran sosial-emosional (Social Emotional Learning/SEL) dalam kurikulum juga penting agar siswa merasa aman, bebas dari tekanan sosial, dan terlindungi dari perundungan.
Dengan begitu, Gen Alpha dapat tumbuh dalam lingkungan yang tidak hanya mendukung kecerdasan akademik, tetapi juga ketahanan emosional, tempat mereka merasa divalidasi, memahami emosi sendiri, dan berani mencari pertolongan ketika membutuhkan.
“Sekolah harus memastikan bahwa setiap anak merasa aman, terbebas dari tekanan sosial maupun perundungan,” tukas Nurul.
Pandangan senada juga tercermin dari hasil riset oleh University of Oxford dan University of Cambridge pada Mei 2025.
Riset menunjukkan bahwa gambaran soal dampak media sosial pada kesehatan mental anak jauh lebih kompleks daripada narasi populer yang sering muncul di tajuk berita.
Studi ini menemukan bahwa remaja dengan kondisi psikologis tertentu cenderung menggunakan media sosial dengan cara yang berbeda.
Mereka yang mengalami kecemasan atau depresi lebih sering terjebak dalam perbandingan sosial.
Sementara itu, remaja dengan ADHD atau gangguan perilaku, lebih banyak menghabiskan waktu daring tanpa dinamika emosional yang sama.
"Kami menemukan remaja dengan kondisi kesehatan mental yang lapor melaporkan telah menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial, dan sebagian dari mereka merasa kurang puas dengan jumlah teman daring yang mereka miliki dibandingkan remaja tanpa kondisi tersebut," tutur salah satu peneliti, Andrew Przybylski.
Temuan ini menegaskan bahwa penggunaan media sosial sering kali menjadi cerminan dari kondisi mental yang sudah ada, alih-alih sumber utama gangguan tersebut.
Oleh karena itu, alih-alih memukul rata bahwa teknologi digital berbahaya bagi semua anak, para peneliti mendorong pendekatan yang lebih berbasis data dan pengalaman nyata remaja.
“Akan jauh lebih berguna jika kita mulai dari bagaimana anak muda benar-benar menggunakan media sosial, alih-alih langsung menganggap bahwa platform tersebut merugikan mereka," lanjut Przyblyski.
"Jika penelitian berfokus pada pengalaman nyata mereka, kita bisa lebih paham pergulatan mereka dan melihat penggunaan media sosial sebagai gejala, bukan penyebab, dari kondisi kesehatan mental mereka. Pergeseran cara pandang ini memungkinkan kita mengajukan pertanyaan yang lebih tepat dan menemukan solusi yang lebih bermanfaat ketimbang sekadar melarang teknologi baru,” lanjutnya lagi.
Gagasan dalam buku The Anxious Generation (2024) karya Jonathan Haidt juga mempertegas pentingnya melihat persoalan ini dengan kepala dingin.
Melansir ulasan buku ini di Nature, Haidt menekankan bahwa dua hal bisa benar sekaligus.
Pertama, sejauh ini tidak ada bukti kuat bahwa media sosial secara langsung mengubah otak anak atau memicu epidemi gangguan mental.
Kedua, pada waktu sama, platform digital tetap memerlukan reformasi besar, mulai dari moderasi konten yang lebih ketat, desain yang mempertimbangkan usia pengguna, hingga kebijakan platform yang benar-benar berpihak pada keselamatan anak.
Beberapa usulan seperti pembatasan ketat atau larangan konsumsi medsos sesuai usia justru berisiko tidak efektif. Bukan tidak mungkin aturan tersebut menjadi bumerang, mengingat dinamika perilaku remaja.
Pada akhirnya, Haidt mengingatkan bahwa kita memang sedang menghadapi generasi yang berada dalam krisis. Namun begitu, respons kita sebaiknya tidak terlalu terpaku pada narasi yang belum didukung bukti ilmiah.
Alih-alih menyebarkan cerita-cerita simplistis soal bahaya media sosial, kita membutuhkan solusi ilmiah berbasis data dan pengalaman nyata anak muda.
Dengan kebijakan, pendidikan, dan ekosistem digital yang kuat, kita akan membantu generasi muda yang membutuhkan dukungan nyata, bukan sekadar kepanikan baru.
Baca juga artikel lain yang mengulas tentang kesehatan mental di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih