Menuju konten utama

Membaca Lagi Persepolis, Mengenang Hidup Marjane Satrapi

Diajeng menceritakan kembali memoar Marjane Satrapi, Persepolis. Penulis, ilustrator, sineas kelahiran Iran ini meninggal dunia pada usia 56 tahun di Paris.

Membaca Lagi Persepolis, Mengenang Hidup Marjane Satrapi
Header DIAJENG Buku Marjane Satrapi. tirto.id/Sekar

diajeng.id - Sampai hari ini, komik memoar Persepolis karya Marjane Satrapi (terbit berseri sepanjang 2000-2003 di Prancis) masih menjadi salah satu karya sastra grafis berpengaruh yang menjadi jendela bagi pembaca dunia untuk mengenal realitas masyarakat Iran modern.

Bertolak dari detik-detik menuju Revolusi Iran 1979, Persepolis mengisahkan Marjane kecil, dipanggil Marji, yang dibesarkan dalam keluarga progresif kelas menengah atas di ibukota Tehran.

Marji yang mengenyam pendidikan di institusi Prancis ini menekuni banyak bacaan, termasuk tentang Karl Marx dan Che Guevara.

Pada usia 10 tahun, Marji mulai sadar dengan ketimpangan ekonomi dan perbedaan kelas sosial mencolok yang menyakiti banyak orang di sekitarnya. Salah satunya ia pelajari sesimpel lewat pengalaman patah hati Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang merawatnya sejak kecil.

Perlahan, Marji paham bahwa ketidakadilan yang dirasakan rakyat Iran lahir dari praktik kesewenang-wenangan segelintir elite pemerintahan monarki Shah yang menguasai kekayaan negara dari minyak.

Itulah mengapa banyak orang, tak terkecuali ibu dan ayah Marji, konsisten turun ke jalan untuk berunjuk rasa menuntut demokrasi dan dibubarkannya monarki di bawah Shah.

Dalam perjuangan tersebut, rekan dan anggota keluarga mereka dipenjara dan disiksa, bahkan ada yang sampai meninggal, karena dilabeli komunis atau revolusioner yang membangkang terhadap Shah.

Meskipun aktivis kiri sekuler, mahasiswa, dan serikat buruh berkontribusi besar dalam gerakan protes di akar rumput, kelompok Islamis di bawah kepemimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini ternyata lebih solid. Lahirlah pemerintahan baru di bawah naungan para ulama: Republik Islam Iran.

Pemerintahan baru ini kemudian memburu dan membantai para revolusioner yang dulu aktif dalam gerakan kiri, termasuk paman kesayangan Marji.

Dari Tehran ke Wina

Teman dan kerabat mulai memutuskan pindah ke luar negeri karena khawatir dengan masa depan Iran di bawah pemerintahan Islamis. Namun, Marji dan keluarganya bertahan. Marji dan ibunya menyesuaikan dengan aturan berpakaian yang mengharuskan perempuan berkerudung.

Situasi Iran semakin mencekam dengan invasi Irak pada 1980. Berbagai kota di pinggiran Iran menjadi sasaran pengeboman. Anak-anak laki-laki mulai direkrut untuk berperang.

Mulai banyak pengungsi dari luar kota pindah ke Tehran, yang tak terhindar pula dari sasaran bom. Sembunyi di ruang bawah tanah jadi keseharian keluarga Marji kala itu.

Di bawah berbagai tekanan tersebut, Marji berusaha menikmati hidup dan melakukan “pemberontakan” versinya sendiri.

Marji yang beranjak remaja membolos pelajaran dengan kakak kelasnya untuk jajan burger Amerika di waralaba fastfood, mencoba merokok, pakai cat kuku (disembunyikan di saku baju seragam sekolah supaya tidak ditegur guru).

Selain itu, Marji menikmati betul lagu-lagu Kim Wilde dan Iron Maiden lewat audio kaset yang dibeli di pasar gelap, mengenakan perhiasan dan pakaian bahan jins, sepatu Nike, sampai pin Michael Jackson yang dibelikan orang tuanya dari luar negeri.

Penampilannya yang tidak umum pernah menarik perhatian penjaga revolusi, yang menginterogasinya banyak pertanyaan dan membuatnya sempat merasa gentar.

Namun begitu, Marji tetap berani dan kritis. Di sekolah, ia menantang guru yang menyita perhiasannya. Dampaknya? Marji dikeluarkan. Di sekolah baru pun, Marji lantang mendebat guru agamanya tentang semakin banyaknya tahanan politik di bawah rezim republik baru.

Di balik kecerdasan dan keberanian Marji, orang tuanya ragu anak perempuan mereka dapat hidup aman di Iran. Pada usia 14 tahun, Marji dikirim sekolah ke Austria.

Kehidupan Marji di Wina tidak seindah yang dibayangkan. Di negeri yang asing, Marji berupaya memahami budaya baru di lingkungan remaja Eropa. Teman-temannya begitu merdeka dalam mengekspresikan diri melalui gaya hidup punk, hubungan seks dalam relasi pacaran, dan mengisap ganja.

Semakin Marji berusaha berasimilasi dengan keseharian teman-temannya, semakin ia merasa berjarak dengan budaya dan leluhurnya di tanah Persia.

Kadang-kadang, Marji merasa “bersalah” berada di antara teman-temannya yang begitu bebas menikmati hidup, sementara keluarga di tanah airnya selalu dikejar-kejar ketakutan dalam situasi perang.

Pernah pada satu titik, Marji merasa tidak percaya diri memperkenalkan diri sebagai orang Iran. Terlebih kala itu Iran diasosiasikan negatif di mata internasional.

Di balik segala tantangan yang ada, Marji mengusahakan yang terbaik. Dia tekun belajar dan diapresiasi di sekolahnya karena selalu dapat nilai tinggi sampai berhasil lulus dengan nilai terbaik.

Momen menentukan dalam hidup Marji di Wina terjadi seusai ia putus dengan pacarnya, seorang pemuda Austria bernama Markus. Patah hati berkepanjangan itu membuatnya terlunta-lunta tidur di transportasi umum dan jalanan selama dua bulan sampai ia jatuh sakit.

Pulang ke Rumah

Setelah menjalani empat tahun kehidupan di Wina, Marji pulang ke Tehran, sebuah keputusan yang disambut suka cita oleh keluarganya.

Marji mendapati ia harus menyesuaikan diri lagi dengan Tehran.

Betapa terkesimanya Marji pada lukisan dinding para martir dan jalan-jalan yang diganti dengan nama-nama martir. Dia pun dihadapkan dengan fakta mengerikan tentang dampak perang dengan Irak, yang akhirnya usai setelah delapan tahun berlangsung.

Sekian ratus ribu nyawa melayang, begitu banyak perempuan jadi janda dan anak jadi yatim piatu, belum lagi segala kerugian atas kerusakan bangunan dan mereka yang terdampak senjata biologis dan mengalami kecacatan. Bagi Marji, tantangan personal yang dihadapinya selama menetap di Eropa tidak sepadan dengan kedukaan yang dirasakan masyarakat Iran.

Kembali ke rumah, Marji sempat mengalami kebingungan terkait identitas dan masa depannya. “Aku orang asing di Iran, aku orang Iran di Barat. Aku tidak punya identitas. Aku bahkan tidak tahu alasan aku hidup,” pikirnya.

Setelah melalui sederet episode berat, Marji memutuskan untuk mengambil kendali lagi atas hidupnya. Dia merawat diri, membeli baju-baju baru, dan menekuni aktivitas sebagai instruktur senam aerobik, guru bahasa Prancis, dan melukis.

Bersama dengan sang kekasih, veteran perang bernama Reza, Marji memutuskan lanjut kuliah di jurusan seni grafis.

Selama di kampus, Marji konsisten bersuara kritis. Pada waktu sama, pemerintah selalu berupaya mencari celah untuk membatasi ekspresi perempuan hanya karena mereka memakai makeup, menampilkan pergelangan tangan, tertawa, membawa Walkman, atau pakai kaos kaki berwarna terang.

Seni memberikan ruang bagi Marji untuk terus berekspresi. Meski gerak-geraknya dibatasi di kelas dan ruang publik, Marji dan teman-temannya menemukan penghiburan dengan berkarya dan bersenang-senang bersama di rumah.

Dalam benak Marji, sungguh kontras kenyataan yang dijalani orang-orang di balik dinding rumahnya dengan versi kehidupan masyarakat yang direpresentasikan oleh negara.

Pada usia sangat muda, 21 tahun, Marji menikah dengan Reza. Sayangnya, ikatan tersebut tidak bertahan lama. Tiga tahun kemudian, persisnya pada 1994, mereka bercerai.

Persepolis ditutup dengan sebuah awal baru: petualangan Marji mengeksplorasi kemerdekaan berkreasi di sekolah seni di Strasbourg, Prancis.

Konsisten Berkarya dan Bersuara

Sekitar dua tahun setelah menetap di Prancis, tepatnya pada 1996, Marjane berjumpa dengan belahan jiwanya, sineas Swedia Mattias Rapa.

Semenjak itu, Marjane menekuni karier sebagai ilustrator, pelukis, penulis, dan sineas. Dia terlibat dalam animasi Persepolis (nominasi Best Animated Feature pada Academy Award 2007) sembari terus melahirkan berbagai buku dan film yang begitu dirayakan oleh khalayak Prancis dan menuai pujian dunia.

Setelah Persepolis, pada 2005 Marjane merilis novel grafis Embroideries. Karya ini menjadi bukti bahwa Marjane, meski hidup di luar negeri, terus berupaya menyuarakan realitas masyarakat Iran, dalam hal ini adalah keseharian para perempuan di balik pintu rumah masing-masing.

Embroideries pada esensinya mengulas kehidupan politik seksual yang begitu diatur di Iran. Lewat sesi ngobrol sore sambil minum teh yang dilakukan oleh para perempuan dari keluarga Marjane (nenek, ibu, bibi, tetangga, kerabat), kita akan mendengarkan pandangan mereka tentang isu perjodohan, strategi mempertahankan laki-laki, bagaimana menjaga penampilan agar senantiasa cantik paripurna, sampai pembahasan terkait perselingkuhan dan seks.

Semua topik itu mungkin terdengar begitu akrab di telinga setiap perempuan di penjuru Bumi, akan tetapi pada waktu sama juga terkesan “berbeda” ketika kita mendengarnya dari masyarakat di negara yang stereotipnya konservatif, terbelakang, dan tertutup.

Dalam wawancara dengan The Believer pada 2006, Marjane mengungkapkan bahwasanya kita semua berangkat dari budaya berbeda-beda, tetapi tetap berbagi pandangan yang sama. Apa itu?

“Humanisme—kemanusiaan,” kata Marjane, “nilai yang semakin terkikis. Dengan caranya sendiri, komik-komikku berusaha menjaga agar nilai tersebut tidak lenyap begitu saja.”

“Mungkin masalah terbesarnya adalah tidak adanya empati. Tidak ada yang mau menempatkan diri pada posisi orang lain. Semua orang menganggap cuma mereka yang menderita. [...] Hal ini juga menunjukkan kekuatan anekdot, sebuah cerita kecil, untuk menjelaskan gambaran yang lebih besar. Maka aku masukkan anekdot dan pengalaman pribadi ke dalam karya-karyaku sebagai cara untuk mengomentari dunia. Sebab dunia tidak ditentukan oleh George Bush atau Saddam Hussein. Mereka memang menciptakan peristiwa yang jadi berita utama, tetapi itu bukan kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan yang nyata adalah aku dan kamu,” tutur Marjane.

Tak lama setelah Mahsa Amini tewas di tangan polisi moral Iran pada 2022, publik Iran protes ke jalan dalam gerakan “Woman, Life, Freedom—Perempuan, Kehidupan, Kebebasan”, aksi massa yang dipandang signifikan secara politis dan kultural sejak Revolusi 1979.

Marjane bekerja sama dengan 20 aktivis, jurnalis, akademisi, dan seniman menerbitkan novel grafis Women, Life, Freedom (2024) untuk mengulas tentang gerakan tersebut dan pergeseran budaya dalam lanskap dinamika politik Iran.

Komik yang utamanya ditujukan untuk para pembaca di luar negeri tersebut, Marjane harapkan, dapat melahirkan “pemahaman dan welas asih”.

“Kami tidak memohon orang-orang dari Barat datang dan melakukan revolusi untuk kami. Cukup lihat saja masyarakat Iran. Mereka sangat membutuhkan perhatian dunia, membutuhkan orang untuk bersaksi bahwa segala yang mereka lakukan demi kebebasan ini memiliki arti. Dengan cara inilah, melalui opini publik, kita dapat mengubah politik,” tegas Marjane dalam wawancara dengan New York Times pada 2024.

Kamis, 4 Juni 2026, Marjane Satrapi meninggal dunia. Keluarga besar Marjane menuturkan, kematiannya berkaitan erat dengan kedukaan dan patah hati setelah suaminya lebih dulu berpulang karena sakit tahun lalu.

Terima kasih Marjane Satrapi. Ragamu telah tiada, akan tetapi kerja-kerja kreatifmu akan selalu hidup di sanubari warga dunia untuk mengingatkan tentang pentingnya berwelas asih pada sesama.

Baca juga artikel terkait SENI atau tulisan lainnya dari Sekar Kinasih & Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Binar
Penulis: Sekar Kinasih & Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih