diajeng.id - “Cita-cita saya jadi manga-ka. Sudah beberapa kali ikut kompetisi dan submisi, total ada 10 kali.”
Begitu penuturan Firman (20), satu dari ribuan pengunjung yang memadati pasar komik Comic Paradise (COMIPARA) di Jogja Expo Center, Bantul, Yogyakarta pada Sabtu, 17 Oktober lalu.
Pemuda asal Malang ini tengah menunggu giliran dipanggil untuk mengikuti sesi portfolio review secara one-on-one dengan editor dari Kadokawa, korporasi penerbitan besar yang berbasis di Tokyo, Jepang. Mereka hadir sebagai salah satu pengisi acara di COMIPARA.
Firman ingin berkonsultasi dengan mereka mengenai komik terbarunya, sebuah thriller psikologis tentang sisi kelam kehidupan seorang anak yang dimanfaatkan dan dikekang oleh orang tuanya.
Kehadiran tim editor Kadokawa bertepatan dengan berlangsungnya Kadokawa World Manga Contest 2026-2027, salah satu upaya mereka untuk mendukung perkembangan komik manga di kancah global. Kompetisi ini pertama diselenggarakan pada 2024 dengan sambutan luar biasa; sebanyak 1.959 karya dikumpulkan oleh kreator dari 118 negara.
Selain itu, kehadiran mereka tidak bisa dipisahkan dari tingginya minat kaum muda Indonesia yang ingin menjadi kreator komik.

“Asia Tenggara memiliki populasi anak muda yang banyak. Jumlah orang yang bercita-cita menjadi komikus juga sangat besar, khususnya Indonesia. Jika jumlah peserta Kadokawa World Manga Contest dibagi berdasarkan negara, Indonesia menempati peringkat keempat di dunia,” ujar Noboru Segawa, Pemimpin Redaksi Divisi Penerbitan Manga dari Kadokawa saat ditemui Diajeng Tirto pada Minggu, 18 Oktober.
Segawa melanjutkan, “Maka kami datang ke sini dengan harapan dapat terhubung dengan para kreator yang bersemangat dan menjajaki berbagai peluang kolaborasi untuk membawa karya mereka ke ranah komersial.”
Sesi konsultasi ini juga diikuti oleh komikus Sihanjir (29) yang karyanya sudah cukup populer. Pertama kali menerbitkan komik digital Freshman (2017) di platform CIAYO, Sihanjir semakin dikenal melalui Senior, Bekalmu! (2020) dan Masak Apa Papa Hari Ini? (2022) yang telah dicetak oleh penerbit Koloni.
“Mumpung ada kesempatan. Walaupun kita sudah punya nama, karya kita tetap perlu di-review oleh orang di luar lingkup kita,” terang Sihanjir, “Aku punya prototype untuk diajukan dalam review dengan Kadokawa. Pengen konsultasi ke mereka, enaknya bagaimana kalau ini mau aku jadikan komik trilogi.”

Pentingnya Kekuatan Karakter dalam Manga
Aina Becce (28), kreator komik digital asal Sulawesi Selatan yang juga membuka booth di COMIPARA, mengaku mendapatkan banyak insight dari sesi portfolio review bersama editor Kadokawa.
“Contohnya, aku suka memberi monolog. Dari mata editorial Jepang, mereka lebih suka kalau kita melakukan worldbuilding lewat karakter daripada narasi monolog. Kalau terlalu banyak memberikan informasi di awal cerita, bisa bikin pembaca turned off,” ujar kreator Hoodie Squad dan A Clover for You, komik-komik bertema slice of life dengan bumbu supernatural.
“Segawa-san bilang ke aku, ‘Ada baiknya kamu menceritakan tentang dunia kamu lewat karaktermu dan bagaimana karakter itu berkembang, bagaimana dia berinteraksi dengan sekitarnya, bagaimana perasaannya,’” tukas Aina.
Far (30) yang baru saja merilis komik fiksi ilmiah berjudul Entropy, juga terbantu dengan saran-saran teknikal dari editor Kadokawa. Selama ini, Far menerbitkan komik secara independen sehingga tidak mendapatkan pendampingan dari editor.
“Dialog misalnya. Aku terlalu banyak menulis dialog, sehingga itu perlu dipotong. Panelling, juga perlu diperhatikan, supaya flow bacanya lebih enak. Itu insight yang memang aku cari dari mereka,” tutur Far yang sejauh ini sudah mencetak mandiri dua komik original.

Total hampir 80 peserta mengajukan karyanya untuk ditinjau oleh tim editor Kadokawa selama dua hari sesi portfolio review berlangsung. Segawa mengapresiasi kemampuan menggambar mereka yang baik dan mengakui bahwa usaha mereka dalam menggambar manga ternyata jauh lebih besar daripada yang sebelumnya dia bayangkan.
Menurut editor yang sudah 24 tahun berkecimpung di industri komik ini, karakteristik komik yang berpotensi populer dan diterima banyak pembaca di luar negeri tidak bisa dipisahkan dari standar kualitas pasar Jepang, “Pasar manga di Jepang merupakan yang terbesar, sehingga wajar menjadi acuan.”
Terkait karakteristik pembeda dalam karya komikus Indonesia, Segawa menilai bahwa karya-karya yang sejauh ini diamatinya cenderung menampilkan karakter yang kurang khas, “Misalnya, karakteristik yang bisa langsung dikenali saat pertama kali melihatnya, cara bicara atau ungkapan khasnya, maupun kepribadiannya.”
Segawa menegaskan, pembaca pada akhirnya membangun keterikatan emosional dengan karakter di dalam manga.

COMIPARA: Ruang Tumbuh Kreator Komik Indonesia
Segawa menyambut gembira pertumbuhan komik manga di seluruh dunia dan menyorot urgensi untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan komikus hidup dari pekerjaan menggambar manga.
“Dalam konteks pasar penerbitan di Jepang yang memang sudah besar dan manga juga mendulang popularitas, sudah ada format atau sistem yang memungkinkan orang untuk hidup dari menggambar manga. Namun, terutama di negara-negara Asia Tenggara, skala pasarnya mungkin belum cukup besar untuk memungkinkan seseorang hidup hanya dari menggambar manga,” tutur Segawa.
Dalam wawancara terpisah pada 5 Oktober, kreator komik Fanny Aleutia (33), sosok di balik perhelatan COMIPARA, tidak menampik bahwa ekosistem industri komik Indonesia masih belum cukup suportif terhadap kreator.
Bersama partnernya selama ini, Fanny memutuskan untuk menerbitkan komik-komik mereka secara digital melalui platform Webtoon yang berbasis di Korea Selatan dan Amerika Serikat.
Situasi itulah yang mendorong Fanny untuk berinisiatif memulai COMIPARA sebagai arena untuk berdiskusi, promosi, dan jual-beli bagi kreator komik agar karya-karya mereka semakin dikenal serta mudah diakses oleh pencinta komik.
COMIPARA menyediakan 50 meja bagi kreator saat pertama kali dilangsungkan pada akhir 2023. Pada COMIPARA edisi ketujuh yang berlangsung 17-18 Oktober lalu, tim penyelenggara membuka 500 meja untuk memfasilitasi lebih dari 1.000 kreator yang datang dari berbagai kota di Indonesia.
“Fokus kami adalah mengapresiasi sesama teman-teman kreator komik,” kata Fanny, “Kami punya banyak program untuk teman-teman komikus. Misalnya, New Comic Benefit. Jadi buat teman-teman yang punya komik baru, kami jadikan highlight dalam materi promosi acara atau kami berikan spotlight untuk bercerita tentang komiknya di panggung.”

Di COMIPARA Oktober lalu, kita bisa menemukan sekitar 180 komik original baru dan puluhan manga fanwork (karya kreatif yang dibuat oleh penggemar). Sebanyak 10 kreator komik juga mendapat kesempatan untuk menceritakan karya-karyanya di atas panggung.
Melalui COMIPARA, Fanny ingin mendorong siapa pun yang masih ragu, atau baru mengenal sedikit tentang dunia komik, untuk berani berkreasi.
Fanny percaya diri bahwa pasar seni kreatif akan selalu didukung oleh komunitas pencintanya, terbukti dari jumlah pengunjung COMIPARA yang selalu meningkat dari waktu ke waktu.
Di samping komik, kreator juga memproduksi dan menjual berbagai turunan art merchandise sepert artprint, stiker, gantungan kunci, tas, kaos, serta pernak-pernik lainnya yang bisa menarik pengunjung dari segala usia dan latar belakang minat.
Tim penyelenggara COMIPARA pun berupaya menciptakan pengalaman imersif bagi pengunjung melalui Program Guild.
Seperti petualang di dunia fantasi atau game, pengunjung diajak untuk menyelesaikan misi melalui interaksi dengan para kreator komik, yang disebut merchant. Setelah melakukan transaksi dengan merchant, pengunjung akan menerima mata uang fantasi Cora yang kemudian bisa dibelanjakan untuk merchandise resmi Comipara.

Bagi komikus Sweta Kartika (40) yang konsisten berpartisipasi di COMIPARA sejak edisi pertama, pasar komik ini sangat mengapresiasi eksistensi dan usaha kreator komik Indonesia.
“Selama ini, komik di event-event mungkin posisinya ‘bonus’—yang lain lebih banyak merch fokusnya. Menurut saya, COMIPARA satu-satunya sekarang yang serius, terbesar, dan berfokus pada perkembangan kreator komik,” kata Sweta yang pada kesempatan tersebut mempromosikan komik thriller misteri berjudul Hunter dan Monger.
Lei (35), salah satu pengunjung yang membeli komik Sweta, mengaku senang dengan kekayaan genre yang ditemukan selama acara, “Komik yang ditampilkan di COMIPARA sudah beragam genre-nya, ada horor, psychological, slice of life yang lucu konyol, superhero, science fiction. Tidak ada dominasi satu genre.”
“Aku sudah lama tahu Sweta karena follow dia di Webtoon dan medsos. Cuma untuk kreator komik lainnya, aku baru kenal di sini. COMIPARA bisa jadi ajang untuk mengenalkan komikus-komikus lokal yang tadinya kita belum tahu,” lanjut Lei.
Di ruang aman yang merangkul komunitas kreator dan pencinta komik ini jugalah, tim editor Kadokawa membuka layanan portfolio review secara luring untuk pertama kalinya di Indonesia. Sebelumnya, sesi konsultasi langsung ini diselenggarakan di Amerika Serikat, Taiwan, Korea Selatan, Cina, dan beberapa negara di Eropa.
“Apabila memungkinkan, kami ingin mendukung kreator-kreator lokal untuk memulai debut mereka, berkolaborasi dalam kerja-kerja editorial, serta membantu karya-karya mereka jadi populer di negara asalnya. Dengan begitu, pasar manga di negara tersebut bisa semakin besar dan berkembang. Melalui dukungan terhadap ekosistem lokal, kami berharap bisa menunjukkan bahwa menggambar manga bisa jadi profesi yang menjanjikan dan ditekuni sepanjang hayat,” pungkas Segawa.
Editor: Sekar Kinasih