diajeng.id - Dalam beberapa menit pertama, Samurai Vengeance (2026) dibuka dengan adegan dramatis ketika Kikunosuke (Kento Nagao) berhasil melakukan aksi balas dendam terhadap Sakubei (Kazuki Kitamura) secara brutal. Peristiwa tersebut berlangsung di hadapan khalayak ramai setelah berakhirnya sebuah pertunjukan teater tradisional kabuki.
Cerita kemudian melompat 18 bulan setelah aksi balas dendam tersebut. Kita akan dipertemukan dengan Soichiro Kase (Tasuku Emoto), seorang ronin alias samurai tak bertuan yang datang ke Edo (Tokyo) untuk menyelidiki peristiwa pembunuhan yang disaksikan banyak orang tersebut.
Perlahan, kedatangan Soichiro mengubah gambaran cerita yang sebelumnya muncul di awal film. Melalui kesaksian sejumlah orang yang bekerja di teater Morita-za, Soichiro berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam pembunuhan.
Dalam versi film adaptasi dari novel sejarah karya Sayako Nagai ini, sutradara Takashi Minamoto akan membolak-balikkan ekspektasi penonton melalui serangkaian peristiwa janggal di balik pembalasan dendam Kikunosuke terhadap Sakubei tersebut.
Dengan perpaduan aksi, komedi, dan drama sejarah, sang sutradara menghadirkan pendekatan berbeda terhadap genre whodunnit. Selain mengandalkan teka-teki pembunuhan, film ini juga melibatkan sejarah dan kebudayaan masyarakat Jepang pada zaman Edo (1603-1868).
Bagi para sinefil, genre whodunnit tentu bukan sesuatu yang asing. Istilah yang berasal dari pertanyaan who done it? ini merujuk pada cerita misteri yang berpusat pada pengungkapan identitas pelaku kejahatan.
Di genre seperti ini, kita biasanya diajak mengikuti proses penyelidikan, mengumpulkan petunjuk, dan mencurigai setiap karakter yang muncul. Genre ini telah lama berkembang dalam dunia sastra dan perfilman. Karya-karya Agatha Christie, misalnya, dikenal melalui cerita detektif yang mengulik sejumlah tersangka dengan motif berbeda.
Namun, Samurai Vengeance menawarkan pendekatan yang berbeda. Film ini membawa kita ke Jepang pada tahun 1810, ketika kekuasaan negeri Sakura berada di tangan Keshogunan Tokugawa.
Bagaimana jadinya jika sebuah film whodunnit memadukan misteri pembunuhan dengan komedi dan kebudayaan Jepang pada awal abad ke-19? Samurai Vengeance mencoba menjawabnya melalui cerita yang mempertanyakan alasan dari terjadinya aksi pembalasan dendam tersebut.
Sinematografi dan Seni Teater
Sinematografi merupakan salah satu aspek yang patut diapresiasi dalam Samurai Vengeance. Meskipun film ini diproduksi pada 2026, sang sutradara berhasil menciptakan atmosfer yang sukses menggiring kita ke masa lalu Jepang.
Penggunaan kamera yang sangat teatrikal dan tata cahaya setiap kali fokus ke satu karakter, sehingga film ini terasa seperti sebuah pertunjukan drama panggung yang dikemas dalam layar lebar.
Minamoto tidak hanya mengandalkan pendekatan visual yang lazim ditemukan dalam film berlatar sejarah, melainkan juga memadukan teknik pengambilan gambar sinematik dengan elemen pertunjukan teater.
Hal ini terlihat pada adegan pembuka ketika Kikunosuke berhadapan dengan Sakubei di luar gedung teater kabuki. Dalam adegan tersebut, Kinji Shinoda (Ken Watanabe) mengarahkan sorotan lampu besar dari gedung teater ke arah keduanya, seolah-olah menjadikan mereka spotlight di atas panggung.
Penggunaan pencahayaan tersebut menciptakan kesan megah sekaligus dramatis. Adegan pembalasan dendam yang seharusnya menjadi peristiwa kekerasan di ruang publik berubah menjadi seperti pertunjukan teater yang disaksikan oleh banyak orang. Batas antara kehidupan panggung dan dunia nyata menjadi kabur seakan-akan menjadi kabur.
Menariknya, alasan di balik penggunaan lampu sorot tersebut baru mendapatkan penjelasan ketika cerita mendekati bagian akhir. Detail yang semula tampak sebagai pilihan artistik semata ternyata memiliki kaitan dengan keseluruhan cerita.
Takashi Minamoto memanfaatkan keunikan sinematografinya di film ini bukan sebagai elemen untuk membangun atmosfer, tetapi juga sebagai bagian dari berjalannya cerita.
Penggambaran Karakter yang Tak Kalah Unik
Selain daya tarik visual, karakter-karakter dalam Samurai Vengeance juga memiliki pesona tersendiri. Salah satunya adalah Soichiro Kase (Tasuku Emoto), seorang ronin yang datang ke Edo untuk menyelidiki peristiwa pembunuhan di teater kabuki.
Awalnya, Soichiro digambarkan sebagai sosok eksentrik dengan pembawaan santai dan cara berbicara yang cukup jenaka. Soichiro bahkan beberapa kali memperlihatkan tingkah laku yang membuat orang-orang di sekitarnya meragukan keseriusannya.
Di balik sikapnya yang jenaka, Soichiro merupakan karakter yang cermat dalam membaca situasi dan orang-orang yang ditemuinya. Karakter ini menjadi fokus utama cerita sekaligus pembangun unsur komedi di tengah misteri yang semakin kompleks.
Karakter lain yang tidak kalah menarik adalah Kinji Shinoda (Ken Watanabe), mantan samurai karismatik yang menjadi penulis naskah sekaligus pemilik teater Morita-za. Kinji merupakan salah satu orang yang menyaksikan langsung aksi pembalasan dendam Kikunosuke terhadap Sakubei.
Selain memiliki pengaruh besar di lingkungan teater, Kinji juga sosok yang menyimpan sejumlah rahasia mengenai kejadian pada malam tersebut.
Kehadirannya pun tidak semata sebagai tokoh senior yang disegani. Kinji menjadi penghubung yang penting antara dunia teater dan misteri yang sedang diselidiki oleh Soichiro.
Berlatar Dunia Panggung Kabuki
Aspek menarik lainnya dari Samurai Vengeance adalah penggunaan teater kabuki sebagai latar utama cerita. Alih-alih menjadikan kehidupan samurai sebagai satu-satunya pusat perhatian, film ini memperlihatkan kehidupan orang-orang yang bekerja di balik sebuah panggung pertunjukan.
Kabuki merupakan salah satu bentuk teater tradisional Jepang yang berkembang sejak awal abad ke-17. Pertunjukan ini dikenal dengan kostum megah, tata rias, musik, serta gerakan-gerakan teatrikal yang khas. Pada masa itu, kabuki juga menjadi salah satu hiburan populer bagi masyarakat perkotaan.
Melalui film ini, penonton diperkenalkan dengan sejumlah pekerja teater yang memiliki peran berbeda, mulai dari penata kostum, pembuat properti, hingga penulis naskah.
Kehadiran para pekerja teater tersebut juga memperlihatkan sisi lain kehidupan masyarakat Edo yang jarang menjadi sorotan dalam cerita samurai. Masing-masing karakter memiliki latar belakang dan persoalan hidup yang sangat beragam.
Selain latar kebudayaannya, kekuatan lain film ini terletak pada cara sutradara Takashi Minamoto menyusun misteri. Cerita yang awalnya tampak seperti pembalasan dendam berubah menjadi investigasi dengan kesaksian yang saling berkaitan.
Keterampilan para pekerja teater dalam menciptakan sebuah pertunjukan bisa jadi elemen penting dari penyelesaian misteri. Kemampuan mereka membuat properti panggung, termasuk replika bagian tubuh manusia, menjadi jalan dari penyusunan sebuah rencana yang kelak akan diketahui di akhir film.
Penonton pun diajak mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya terjadi pada malam pembunuhan tersebut; apa peristiwa yang disaksikan banyak orang benar-benar menggambarkan kenyataan? Adakah cerita lain yang sengaja disembunyikan?
Melawan Romantisasi Kehormatan Samurai
Di balik cerita pembalasan dendam dan penyelidikan, Samurai Vengeance menawarkan perspektif yang kritis terhadap kehidupan samurai, tepatnya tentang bagaimana kepemimpinan rezim militeristik yang feodal mengekang mereka melalui sederet kewajiban, reputasi, dan aturan sosial, termasuk melalui konsep bushido, kode etik dan nilai-nilai demi menjunjung tinggi kehormatan samurai dalam kehidupan sehari-hari.
Tak hanya itu, Samurai Vengeance juga membahas praktik adauchi atau pembalasan dendam terhadap seseorang yang dianggap telah membunuh anggota keluarga, praktik yang bisa ditemukan pada masa Keshogunan Tokugawa.
Melalui karakter Kikunosuke dan Sakubei, film ini memperlihatkan bagaimana konsep bushido dan praktik adauchi dapat membawa konsekuensi yang berbahaya dan tak seheroik kedengarannya.
Di akhir cerita, alih-alih mengagungkan keberanian dan pengorbanan, kita akan mempertanyakan kembali nilai-nilai yang selama ini dilekatkan pada sosok samurai.
Penulis: Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih