diajeng.id - "Menikah dengan sahabat sendiri."
Kalimat ini sering kita dengar dan lihat di unggahan media sosial. Melengkapi narasi tersebut adalah foto-foto pasangan suami-istri yang terlihat manis dan romantis, bahkan mungkin bisa membuat sebagian pengguna internet merasa iri.
Seiring perempuan menjalani kehidupan pernikahan, tak jarang yang merasakan lingkaran pertemanannya mengecil.
Alhasil, muncul banyak cerita tentang mereka yang menganggap suaminya sebagai sahabat terbaik, atau satu-satunya sahabat, yang paling bisa diandalkan dalam hidup sehari-hari.
Yang jadi pertanyaan, tepatkah jika kita memperlakukan pasangan romantis sebagai sahabat? Apa sisi positif dan hal yang bisa dikritisi dari keputusan menjadikan pasangan kita sahabat?
Hasil Riset dari Colorado State University
Colorado State University (CSU) pernah memublikasikan riset menarik tentang pertanyaan tersebut di Journal of Social and Personal Relationships (2025).
Tim peneliti pimpinan dosen ilmu komunikasi Natalie Pennington ini melakukan survei terhadap 940 orang dewasa di Amerika Serikat yang sedang menjalani hubungan romantis.
Hasil penelitian memberikan perspektif yang berimbang. Sekitar 39 persen peserta menganggap pasangan romantis mereka sebagai sahabat baik. Kelompok ini melaporkan tingkat kedekatan yang lebih tinggi dan interaksi lebih sering dibandingkan mereka yang memiliki sahabat di luar hubungan pernikahan.
Selain itu, mereka menikmati rasa kebersamaan (companionship) yang sangat kuat, seperti selalu memiliki teman andalan untuk melakukan hobi, menonton film, atau pergi jalan-jalan bersama.
Namun, riset tersebut juga mengungkap sisi lain. Peserta yang memiliki sahabat terbaik di luar hubungan pernikahan merasakan dukungan sosial (social support) yang lebih besar.
"Sekarang, kita mulai menyadari bahwa sebenarnya ada banyak orang dalam hidup kita yang dapat memainkan berbagai peran berbeda," ujar Pennington.
Pro-Kontra Memosisikan Pasangan sebagai Sahabat Baik
Menganggap pasangan sebagai sahabat, melansir artikel dari Headspace, bisa menjaga hubungan tetap berjalan lancar. Di sisi lain, fase romansa yang tadinya berapi-api bisa jadi memudar seiring berjalannya waktu.
Menurut filsuf Skye Cleary, persahabatan dalam hubungan romantis mengajarkan kita untuk menghargai kebebasan pasangan dan minat mereka di luar hubungan.
"Yang jadi masalah adalah pernikahan itu untuk selamanya. Kamu jatuh cinta, lalu menikah. Begitu gairah memudar, kamu bisa terjebak. Jadi persahabatan adalah unsur kunci untuk hubungan jangka panjang," jelas Cleary.
Selain itu, riset dari Kinsey Institute yang dipaparkan oleh Amanda Gesselman menunjukkan bahwa dukungan dari pasangan yang memahami kita layaknya sahabat sangat baik untuk kesehatan fisik dan mental.
"Sosok yang bisa kita anggap sebagai sahabat, bisa memahami kita tanpa perlu diminta, karena dia tahu apa yang kita butuhkan dalam situasi apa pun, dan yang selalu mendukung serta melindungi kita," ucap Gesselman.
Bahkan, Gesselman melaporkan, pasien yang merasa sangat didukung oleh pasangannya dapat pulih dari operasi enam minggu lebih cepat.
Di sisi lain, terdapat risiko emosional jika kita terlalu menuntut pasangan untuk menjadi "yang terbaik" di segala konteks relasi.
Psikolog Scott Bea, PsyD dari Cleveland Clinic menjelaskan bahwa dalam pernikahan, pasangan berbagi banyak tanggung jawab berat, mulai dari keuangan, mengurus anak, pekerjaan rumah, hingga tagihan bulanan.
Sementara itu, hubungan pertemanan di luar pernikahan terasa lebih "ringan" karena bebas dari beban-beban domestik tersebut. Mengalihkan seluruh kebutuhan emosional hanya pada satu orang berisiko menciptakan ketegangan dan kejenuhan.
Senada dengan Bea, terapis pernikahan Mary Kay Cocharo melalui laman Your Tango juga mengingatkan bahwa perempuan dan laki-laki acap kali memiliki definisi "sahabat" yang berbeda.
Bagi kebanyakan perempuan, sahabat adalah seseorang yang tidak pernah bosan mendengarkan keluh kesah secara mendalam tanpa mencoba langsung menyelesaikan masalah yang dibicarakan.
Sedangkan bagi laki-laki, sahabat adalah rekan untuk melakukan aktivitas favorit bersama, seperti menonton pertandingan olahraga atau berolahraga bareng.
Maka dari itu, jika kita menuntut suami untuk memenuhi standar persahabatan ala perempuan, bukan tidak mungkin akan memicu frustrasi bagi kedua belah pihak.
Selain itu, Sable Yong dalam tulisannya di GQ mengutip pemikiran terapis Esther Perel, yang menyatakan bahwa ekspektasi hubungan modern kita saat ini sudah terlalu tinggi.
Singkatnya, evolusi sosial budaya telah membawa kita beralih dari kehidupan desa ke lingkungan perkotaan, yang membuat kita lebih bebas tetapi juga lebih kesepian.
Kita mengharapkan pasangan kita menjadi penjamin keamanan sekaligus teman bertualang. Sosok ini jugalah yang kita harapkan mampu menjaga stabilitas dalam relasi sekaligus menjadi orang yang penuh kejutan. Singkat kata; jadi sahabat sekaligus suami yang hangat.
Seperti telah diungkapkan oleh psikolog Scott Bea, tidak ada satu formula mutlak untuk pernikahan yang sukses.
Memperlakukan pasangan dengan penuh kasih sayang sekaligus menjadikannya sahabat tepercaya memang sekilas terasa seperti keputusan yang menenangkan, akan tetapi kita juga perlu menjaga batasan sehat dan merawat hubungan yang baik dengan sahabat-sahabat di luar pernikahan.
Menurunkan sedikit ekspektasi akan membantu kita menghargai pasangan apa adanya, sekaligus menjaga kesehatan emosional kita tetap seimbang.
Kalau kamu, apakah selama ini juga memperlakukan pasanganmu sebagai sahabat?
Artikel lainnya seputar relationship juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih