diajeng.id - Pada era yang semakin kritis terhadap patriarki dan ketimpangan gender, konsep maskulinitas acap kali dicap toksik dan tidak berempati.
Di satu sisi, tentu ada realitas tentang praktik maskulinitas yang menyakiti, yang menormalisasi dominasi, kekerasan, dan penekanan emosi.
Namun di sisi lain, ada pula pemaknaan tentang maskulinitas yang sehat, yang perlu kita rawat dan tanamkan pada anak-anak sedari kecil, terutama anak laki-laki.
Di sinilah peran orang tua dan pendidik menjadi sangat penting, yaitu membuka ruang dialog dengan anak, alih-alih sekadar memberi label.
Dilansir The Dragonfly Centre, maskulinitas sehat (healthy masculinity) bukanlah tentang menjadi “paling kuat”, “paling tangguh”, atau “tidak pernah menangis”.
Ia belajar bahwa menjadi laki-laki tidak harus identik dengan agresi atau penguasaan, melainkan dengan empati, keberanian untuk jujur pada perasaan, serta kesediaan menghormati orang lain.
Anak laki-laki sering tumbuh dalam pesan-pesan kultural yang sempit, seperti “jangan cengeng”, “laki-laki harus kuat”, atau “marah itu wajar, sedih itu memalukan”.
Pesan-pesan semacam ini, jika tidak dikritisi, dapat membuat anak memendam emosi dan kesulitan mengenali apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Mendiskusikan maskulinitas sehat berarti membantu anak memahami bahwa seluruh emosi manusiawi adalah valid, bahwa menangis bukan tanda kelemahan, dan meminta bantuan bukanlah kegagalan.
Salah satu ajaran penting yang dapat ditanamkan adalah keterampilan mengenali dan menamai emosi.
Ketika anak marah, kecewa, atau cemburu, orang dewasa bisa membantu dengan kalimat sederhana seperti, “Sepertinya kamu sedang kesal, ya. Mau cerita apa yang terjadi?” Pendekatan ini mengajarkan bahwa emosi adalah sinyal yang perlu dipahami, alih-alih ditekan atau dilampiaskan secara destruktif.
Selain itu, anak laki-laki juga perlu belajar tentang batasan dan rasa hormat. Maskulinitas sehat mencakup pemahaman bahwa setiap orang berhak atas tubuh dan pilihannya sendiri. Percakapan sehari-hari tentang persetujuan (consent), menghargai “tidak”, serta memperlakukan teman dengan adil merupakan fondasi penting dalam membangun relasi yang sehat di masa depan.
Skenario sederhana, seperti dijelaskan situs Greater Good, dapat menjadi pintu masuk diskusi yang bermakna.
Misalnya, ketika anak pulang sekolah dan bercerita bahwa temannya diejek karena menangis, orang tua bisa bertanya, “Menurutmu, apa yang dirasakan temanmu saat itu?” atau, “Apakah menangis selalu berarti lemah?”
Pertanyaan-pertanyaan terbuka seperti ini mendorong anak untuk berpikir kritis dan mengembangkan empati.
Contoh lain, jika anak merasa tertekan untuk ikut berkelahi agar dianggap “jantan”, orang dewasa dapat membantu mengeksplorasi alternatif terkait keberanian, “Menurutmu, apa saja cara lain untuk menunjukkan keberanian?”
Dari sini, anak belajar bahwa keberanian juga bisa berarti membela teman yang dirundung, mengakui kesalahan, atau menolak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai dirinya.
Yang tak kalah penting, orang dewasa perlu menjadi teladan. Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.
Mendiskusikan maskulinitas sehat dengan anak laki-laki bukanlah upaya “menghilangkan” identitas laki-laki, melainkan memperluas maknanya.
Kita sedang membantu mereka tumbuh menjadi individu yang utuh, aman dengan dirinya sendiri, dan mampu membangun hubungan yang penuh rasa hormat.
Dalam jangka panjang, percakapan-percakapan kecil inilah yang dapat berkontribusi pada lahirnya generasi yang lebih empatik, adil, dan berdaya.
Simak juga artikel lain terkait maskulinitas di link ini.
Editor: Sekar Kinasih