Menuju konten utama

Keberagaman & Inklusivitas: Bekal Penting untuk Anak Sejak Dini

Bagaimana cara mengobrol dengan anak tentang perbedaan budaya? Pertanyaan apa saja yang bisa dijadikan bahan diskusi konstruktif dengan anak?

Keberagaman & Inklusivitas: Bekal Penting untuk Anak Sejak Dini
Header diajeng Mengajari Anak Keberagaman dan Inklusivitas. tirto.id/Quita

diajeng.id - Kita hidup di dunia yang warna-warni dengan perbedaan, dari bahasa, budaya, agama, adat istiadat, hingga ragam kuliner.

Meski meyakini tradisi yang kita pegang sedari kecil sebagai yang paling baik dan nyaman, tidak seharusnya keyakinan tersebut membuat kita mengerdilkan atau memandang remeh kebudayaan orang lain.

Pemahaman untuk menghargai perbedaan ini perlu mulai diajarkan sejak anak masih kecil. Tujuannya bukan membuat anak “tidak melihat perbedaan”, melainkan agar anak menjadi cukup berani mengenali, memahami, dan menerima perbedaan tersebut.

Dengan begitu, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang mampu memperlakukan siapa pun di sekitarnya dengan adil, penuh rasa hormat, dan bijaksana.

Berdasarkan artikel "How to Talk with Kids About Diversity and Inclusion" yang ditulis oleh Julie Kratz di situs Whole Child Counseling, Diajeng merangkum dua poin penting terkait anak dan inklusivitas.

1. Mengapa Mengajarkan Keberagaman dan Inklusivitas pada Anak Itu Penting?

Menurut artikel tersebut, ada beberapa alasan kuat untuk mulai berbicara dengan anak tentang keberagaman, kesetaraan, dan inklusi:

- Anak melihat perbedaan sejak dini

Anak-anak memiliki kemampuan cepat dalam memerhatikan perbedaan, warna kulit, bahasa, kemampuan fisik, struktur keluarga, dan lainnya. Mereka cenderung melihatnya dengan dorongan rasa ingin tahu, alih-alih judgment.

Namun, tanpa panduan yang bijaksana, mereka bisa salah memahami dan mengembangkan sikap yang tidak peka atau bahkan diskriminatif.

- Anak belajar dari respons orang dewasa

Apabila pertanyaan tentang perbedaan ditanggapi dengan diam atau “dilarang bertanya”, anak bisa belajar bahwa perbedaan itu sesuatu yang memalukan atau tabu.

Akibatnya, mereka bisa mengabaikan perbedaan, merasa malu, atau malah mempelajari stereotip negatif.

- Anak perlu alat untuk memahami ketidaksetaraan

Memahami keberagaman bukan sekadar melihat perbedaan, tetapi juga memahami ketidaksetaraan yang ada dalam masyarakat.

Dengan bimbingan yang tepat, anak bisa lebih peka terhadap ketidakadilan dan belajar menjadi bagian dari perubahan positif.

- Anak menemukan rasa belonging

Ketika anak-anak dari berbagai latar melihat dirinya dan orang lain dihargai, mereka merasa layak setara, bukan hanya “ditoleransi.”

Hal tersebut penting untuk perkembangan empati, rasa percaya diri, dan hubungan sosial yang sehat.

2. Cara Memulai Percakapan dengan Anak tentang Keberagaman

Artikel dari Julie Kratz juga memberikan beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua atau pendamping untuk membuka dialog bersama anak:

- Sesuaikan dengan usia dan pemahaman mereka

Mulailah dari hal yang sederhana untuk anak kecil, dan perlahan tingkatkan kompleksitas pembicaraan ketika mereka makin besar dan mampu berpikir lebih mendalam.

- Ajak anak berbicara, bukan ceramah

Bukan hanya memberi informasi, tetapi bertanya dan mendengarkan dulu perspektif anak agar mereka merasa terlibat dan dihargai.

- Gunakan buku, film, dan media beragam

Membaca buku dengan tokoh beragam atau menonton film dengan representasi yang seimbang bisa jadi pemicu percakapan tentang pengalaman orang lain, lalu tanyakan pendapat mereka.

- Perhatikan lingkungan rumah

Pilihan mainan, buku, dan media di lingkungan anak memberi sinyal tentang siapa yang “diterima” dan dihargai. Gunakan kesempatan ini untuk memperluas wawasan anak tentang perbedaan.

- Jadikan percakapan sebagai proses yang terus berjalan

Tidak ada cara yang sempurna, dan pembicaraan ini mungkin akan terasa “berantakan”. Itu wajar, yang paling penting adalah terbuka dan bersedia belajar bersama.

Kutipan Pertanyaan Orang Tua untuk Memulai Diskusi tentang Keberagaman

Dilansir Greater Good, dari video “How to Nurture a Mindset in Teens that Values Diversity”, berikut ini beberapa kutipan langsung dari orang tua yang bisa dipakai sebagai contoh nyata untuk membuka diskusi sehat tentang keberagaman dengan anak-anaknya:

1. “Apa arti keberagaman menurut kalian masing-masing?”

Pertanyaan ini membantu anak mulai berpikir tentang makna keberagaman dari sudut pandang mereka sendiri, bukan sekadar pengertian umum.

2. “Menurut kalian, seberapa penting keberagaman bagi keluarga kita? Kenapa?”

Ini mengajak anak melihat hubungan antara nilai keberagaman dan kehidupan sehari-hari di lingkungan terdekat mereka.

3. “Bagaimana menurut kalian jika kurangnya keberagaman bisa memicu ketidakadilan atau ketimpangan?”

Pertanyaan ini mendorong pemikiran tentang hubungan antara keberagaman dan keadilan sosial, penting untuk keterampilan berpikir kritis anak.

4. “Sejak kecil kalian sudah bertemu banyak orang yang berbeda latar belakang dan usia. Sekarang kalian sudah remaja, bagaimana pengalaman kalian melihat keberagaman di sekolah atau komunitas?”

Pertanyaan reflektif ini mengajak anak mencermati dunia nyata di sekitar mereka dan berbagi pengalaman pribadi.

Dari contoh diskusi yang muncul dari pertanyaan-pertanyaan di atas, beberapa remaja dalam video menjawab pertanyaan dari orang tua mereka seperti:

  • “Kamu bisa belajar banyak dari berbagai tipe orang.”
  • “Keberagaman membantu melihat apa yang dialami orang lain sehingga mereka bisa melihat perspektif yang berbeda.”
  • “Setiap orang punya pengalaman yang berbeda, dan kalau tidak mengenal itu, kita tidak benar-benar belajar tentang dunia.”
Jawaban-jawaban ini menggambarkan bagaimana pertanyaan yang sederhana sekaligus terbuka berpotensi memicu refleksi dan percakapan bermakna antara orang tua dan anak.

Contoh Aktivitas Kreatif untuk Anak

Dinukil All For Kids, beberapa contoh aktivitas kreatif yang bisa memupuk pemahaman anak tentang keberagaman dan penerimaan akan diulas di bawah ini:

1. Membuat Karya Seni dari Budaya Lain

Ajak anak belajar tentang budaya lain melalui seni dan kerajinan tangan. Misalnya membuat:

  • Dreamcatcher dari tradisi Amerika-Indian
  • Origami dari Jepang
  • Rangoli (seni pasir) dari India
  • Marakas kertas dari budaya Karibia atau Latin
Kegiatan ini membantu anak mengenal simbol dan nilai budaya lain secara langsung.

2. “Field Trip” Virtual ke Seluruh Dunia

Manfaatkan teknologi untuk menjelajahi berbagai tempat di dunia tanpa pergi jauh:

  • Tonton video anak tentang budaya lain di YouTube
  • Gunakan fitur street view di peta digital untuk “berjalan” di lingkungan yang berbeda
Cara ini memberi pengalaman visual dan cerita tentang bagaimana orang hidup di berbagai belahan dunia.

3. Memasak Makanan dari Berbagai Budaya

Biarkan anak memilih satu budaya yang mereka ingin pelajari lebih jauh, lalu bersama-sama memasak salah satu makanan khas dari budaya tersebut.

Selama kegiatan memasak, dengarkan juga musik dari budaya yang sama untuk membuat pengalaman lebih kaya dan menyenangkan.

Semua aktivitas di atas bukan hanya sekadar permainan, tetapi juga membuka kesempatan bagi anak untuk mengamati, berdiskusi, dan merasakan langsung bahwa dunia itu penuh keberagaman yang menarik dan layak dipelajari.

Artikel lainnya terkait keberagaman juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait KEBERAGAMAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih