diajeng.id - Setelah beberapa kali menjalin relasi romantis, kita biasanya mulai mengenal pola sosok kekasih yang cenderung kita sukai. Misalnya, kita suka berkencan dengan orang yang karakternya ceplas-ceplos, tegas mengambil keputusan, atau humoris.
Namun, di balik itu, kadang-kadang kita tidak sadar bahwa ada sifat yang baru terlihat setelah relasi berjalan lebih lama. Di luar kesannya sebagai pasangan setia, sosok-sosok yang pernah kita kencani tersebut ternyata mudah cemburu, suka marah-marah, membanting pintu, berucap kasar.
Lalu muncul pertanyaan, mengapa kita hampir selalu menarik orang yang salah atau hubungan yang toksik?
Mengenali Tanda-Tanda Pasangan Toksik
Kita perlu memahami apa artinya menjadi pasangan toksik sebelum mencoba memutus siklus relasi dengannya.
Artikel VeryWell Mind berjudul "Why You Keep Attracting Partners, According to a Relationship Coach" menjelaskan, alih-alih relasi yang sesekali diwarnai dengan pertengkaran, hubungan toksik lebih merupakan pola-pola konsisten dari orang yang meremehkan, tidak menghormati, dan mengabaikan pasangannya.
Seperti disebutkan tadi, salah satu tandanya adalah kurangnya rasa hormat dari pasangan. Ketika kita menyampaikan pendapat atau perasaan kita, pasangan malah mengabaikan atau menyepelekan.
Tanda selanjutnya adalah ketidakdewasaan emosional dan keegoisan. Fokus pasangan hanya pada dirinya sendiri; kebutuhan, perasaan , dan kebenaran versinya, tanpa adanya hubungan timbal balik.
Pasangan juga sering menyalahkan dan menolak tanggung jawab. Mereka memanipulasi sudut pandang diri kita untuk mendapat kendali, menyalahkan kita atas tindakannya sendiri (misalnya ucapan seperti, "Kamu yang bikin aku jadi stres/Kamu yang bikin aku nggak betah/Kamu yang bikin aku kesal!"), lalu memosisikan diri sebagai korban.
Komunikasi di dalam relasi yang toksik juga selalu diwarnai argumen defensif, kritik, asumsi, dan dendam masa lalu, sehingga kita selalu merasa seperti "berjalan di atas cangkang telur" hanya demi menghindari konflik.
Selain itu, menurunnya harga diri juga menjadi tanda penting. Hal ini terjadi karena batasan diri kita terus digeser sehingga kita meragukan penilaian sendiri dan merasa tidak berharga.
Luka Masa Kecil yang Mengaktifkan Sistem Saraf
Lalu, mengapa kita punya kecenderungan untuk menarik atau tertarik pada orang bermasalah?
Jawabannya, menurut laman ReachLink, bukan karena kita tidak bisa menyeleksi orang dengan baik, tetapi hal ini ada kaitannya dengan cara luka masa kecil memprogram sistem saraf kita untuk mengenali dinamika berbahaya tersebut sebagai sesuatu yang terkesan seperti "rumah".
Kondisi ini disebut sebagai kompulsi repetisi (repetition compulsion), yaitu dorongan di bawah alam sadar untuk menciptakan kembali dinamika hubungan masa kecil yang belum selesai, dengan harapan kita akhirnya bisa menyelesaikannya dengan benar kali ini.
Ada lima luka inti masa kecil yang membentuk kerentanan kita terhadap hubungan toksik.
- Luka Pengabaian (Abandonment): Membuat kita menoleransi perhatian sekadarnya karena hubungan yang tidak konsisten rasanya jauh lebih akrab daripada kehadiran yang stabil.
- Luka Pengkhianatan (Betrayal): Melahirkan kebutuhan kompulsif untuk memantau pasangan karena kita percaya kedekatan selalu berujung pada pengkhianatan.
- Luka Penolakan (Rejection): Mengubah kita menjadi sosok yang selalu menyesuaikan diri (shape-shifter) demi mendapatkan persetujuan dari orang yang sulit dipuaskan.
- Luka Rasa Malu (Shame): Membuat kita memercayai kritik pasangan karena kita merasa ada yang salah dengan diri kita.
- Luka Keterikatan Berlebih (Enmeshment): Menarik kita secara kompulsif kepada orang yang bermasalah karena kita merasa berharga hanya saat menjadi penyelamat mereka.
Akibat luka-luka ini, hubungan sehat dan stabil cenderung disalahartikan sebagai hubungan yang "membosankan" (boredom misread) atau kurang memiliki chemistry. Padahal, sistem saraf kita sebenarnya sekadar merindukan ketegangan dan kecemasan yang biasa diasosiasikan dengan cinta.
Peran Attachment Style dalam Hubungan Ini
Situs Charlie Health menyebutkan, selain luka masa kecil, gaya kelekatan (attachment style) juga mendorong kita pada pola hubungan asmara tidak sehat.
Kita yang memiliki gaya kelekatan cemas (anxious attachment style) secara alami tertarik pada pasangan avoidant yang cenderung menghindar atau menarik diri tepat di saat keintiman emosional dibutuhkan.
Dinamika tarik-ulur (push-pull) ini menciptakan ketidakstabilan konstan, sehingga kita jadi terus menebak-nebak, mendambakan kepastian, dan menyalahkan diri sendiri.
Saat kita menginginkan perasaan aman, secara tidak sadar yang kita kejar adalah pencarian intensitas dan kekacauan, karena memang begitulah kita memaknai "cinta".
Akibatnya, kita pun terjebak menjadi sekadar pemuas keinginan orang lain (people pleaser) yang rela menekan kebutuhan sendiri demi menjaga kedamaian semu.
Bagaimana Memutus Pola Negatif Ini?
Tulisan dari John Kenny Coaching berjudul "Why You Keep Attracting Toxic Relationships yang dipublikasikan tahun 2019 menyebutkan, hubungan buruk yang pernah dilalui sebenarnya tidak menentukan nilai diri kita.
Kalau kita memang benar-benar ingin mengakhiri siklus menyakitkan ini dan menolak kehadiran orang toksik, kita perlu melakukan perubahan.
Mulailah dengan berhenti memandang rendah diri sendiri. Coba berhenti mengkritik diri sendiri dan menempatkan orang lain sebagai tumpuannya.
Beranikan untuk mengungkapkan langsung hal-hal yang tidak kita sukai. Bicarakan terang-terangan pada orang yang melakukan hal yang tidak kita sukai. Jangan takut untuk melangkah pergi dari situasi yang sudah tidak menyehatkan.
Prioritaskan diri. Berhentilah mengorbankan kebutuhan diri sendiri demi menyenangkan orang-orang egois yang tidak akan pernah membalasnya.
Tunjukkan juga siapa diri kita yang sebenarnya. Jangan hanya karena ingin membuat pasangan bahagia, kita rela merubah jati diri. Perlihatkan siapa sesungguhnya diri kita agar kita bisa menarik pasangan yang benar-benar mau menghargai kualitas diri kita.
Yang terakhir, selesaikan masa lalu. Pilihan kurang tepat di masa kini sangat mungkin bersumber dari luka masa kecil yang belum diproses sepenuhnya. Dengan menuntaskan segala yang membebani dari masa lalu, kita akan dapat membuat keputusan baru yang lebih sehat dan terbebas dari konsekuensi menyakitkan yang sama.
Artikel lainnya terkait relationship juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih