diajeng.id - Ketika kita mulai berkencan dengan sosok ramah dan menyenangkan tersebut, awalnya kita menganggapnya tipe yang santai, relaks, dan easy-going.
Cara bicaranya ringan, mengalir, seperti tanpa beban. Otomatis, kita menilai dirinya tidak "ribet", alias tidak terlalu banyak mendebat pilihan atau inisiatif yang kita ajukan.
Namun, kita perlu hati-hati dan waspada. Jangan-jangan dia termasuk golongan orang yang low-effort dalam menjalin hubungan?
Meski sehari-hari mereka terkesan tenang dan chill, pada waktu sama energi kita sangat mungkin terkuras untuk mengatasi kekosongan investasi emosional yang muncul dari relasi demikian.
Apa itu Pasangan Low-Effort?
Dinukil HuffPost, secara sederhana, kekasih yang low-effort atau minim usaha adalah seseorang yang hanya melakukan "bare minimum" atau standar paling rendah dalam sebuah hubungan asmara.
Mereka cenderung mengabaikan kebutuhan pasangan sekaligus mengindikasikan bahwa mereka tidak sepenuhnya berinvestasi dalam masa depan bersama.
Fenomena ini, seperti dijelaskan laman Self, sering dideskripsikan lewat "Plastic Bag Theory" (Teori Kantong Plastik).
Meskipun awalnya sikap mereka yang "setuju-setuju saja" ini menimbulkan kesan hubungan yang damai, lama-kelamaan kita disadarkan bahwa kita sendirilah yang memikul seluruh beban mental dalam hubungan tersebut.
Tanda-Tanda Pasangan Low-Effort
Berdasarkan literatur psikologi dan pendapat para ahli yang dirangkum situs Self, HuffPost, dan Cottonwood Psychology, berikut adalah rangkuman ciri-ciri pasangan low-effort yang dapat kita kenali:
1. Rencana Selalu Mengambang dan Vague
Kekasih low-effort jarang membuat rencana yang konkret. Mereka bisa berinisiatif mengajak kencan di akhir pekan. Meski begitu, mereka tidak pernah menentukan hari, jam, atau lokasinya hingga menit terakhir.Ketidakjelasan ini menciptakan ketidakseimbangan kekuasaan yang memaksa kita untuk lebih luwes dan fleksibel dengan jadwal kita sendiri demi mengikuti ketidaksiapan mereka.
Pasangan yang benar-benar menghargai kita akan menikmati detail dan memastikan rencana tersebut berhasil terwujud dengan usaha yang konsisten.
2. Kita Jadi "Manajer" Emosional
Dalam hubungan yang timpang, kita akan melakukan semua kerja-kerja emosional sendirian. Artinya, kitalah yang selalu memulai percakapan serius, menanyakan kabar mereka, dan berusaha memperbaiki keadaan setelah ada ketegangan.Kekasih yang low-effort sering menjawab pertanyaan kita dengan kalimat pendek atau mengalihkan topik saat kita sedang ingin curhat dengan mereka. Mereka tidak menunjukkan rasa ingin tahu terhadap hidup kita, impian kita, atau bahkan detail kecil yang penting bagi kita.
3. Memanfaatkan Pesona sebagai Jalan Pintas
Biasanya, mereka terlihat memesona di awal momen kenalan atau kencan. Mereka terlihat peduli dengan konten-konten yang kita unggah di medsos, tahu lagu atau film favorit kita, mudah memuji penampilan kita.Di balik itu, kehangatan tersebut bisa jadi hanya sampai "permukaan" saja. Pada waktu yang sama, mereka selalu "lupa" tentang agenda penting yang sudah kita siapkan jauh-jauh hari di kantor, atau terus-menerus menghindari diskusi tentang rencana-rencana untuk kepentingan masa depan bersama.
4. Menghindari Konflik dan Obrolan tentang Hubungan
Setiap hubungan membutuhkan komunikasi untuk berkembang, akan tetapi bagi pasangan minim usaha, komunikasi jadi prioritas paling rendah.Saat terjadi konflik, mereka cenderung bungkam atau "membutuhkan waktu" untuk sendiri. Kita pun dibiarkan untuk menangani kekacauan emosional sendirian.
Mereka juga sering menghindari pembicaraan tentang masa depan hubungan. Akibatnya, kita jadi merasa merasa tidak layak untuk diperjuangkan.
5. Rasa Hormat Sebagai "Mood"
Rasa hormat terhadap pasangan seharusnya ditunjukkan secara konsisten. Nah, pada partner-partner yang low-effort, rasa hormat bisa datang dan pergi sesuai dengan suasana hati mereka.Mereka bisa bersikap manis kalau ada maunya, akan tetapi malah sinis atau remeh pada kita saat merasa bosan atau tertantang.
Kenapa Punya Kekasih Low-Effort Bikin Capek?
Menjalani relasi dengan kekasih low-effort bisa membuat pengalaman berkencan jadi kurang romantis karena segala-segalanya hanya disiapkan oleh pihak yang mau gerak saja.
Ada beban mental tidak setara dalam relasi dengan orang low-effort. Seiring mereka tidak mengeluarkan pendapat atau berinisiatif, kita dipaksa untuk punya andil besar dalam merencanakan hidupnya.
Perilaku low-effort dalam hubungan ini biasanya muncul dari rasa tidak aman, takut dengan keintiman, atau pola asuh tidak sehat di masa lalu.
Kalau kita sudah paham alasan di balik perilaku pasangan yang low-effort, apa artinya kita cukup menerima apa adanya dengan tangan terbuka?
Munculnya sensasi diombang-ambil dalam ketidakpastian dari sikap pasangan bisa jadi semacam "panggilan" bagi kita untuk mengevaluasi hubungan tersebut.
Hubungan yang sehat tumbuh dari usaha bersama dan kesediaan untuk saling hadir serta saling peduli. Kita semua berhak mendapatkan pasangan yang memilih diri kita dengan penuh kesadaran dan berusaha yang terbaik setiap harinya.
Simak artikel lainnya seputar relasi di sini.
Editor: Sekar Kinasih