diajeng.id - Selama enam tahun berturut-turut, Finlandia dinobatkan sebagai negara dengan warga paling bahagia dalam laporan “World Happiness Report”.
Rilis pada bulan Maret setiap tahunnya, “World Happiness Report” adalah sebuah publikasi riset global dari Wellbeing Research Centre di University of Oxford bekerja sama dengan Gallup dan UN Sustainable Development Solutions Network.
Predikat membanggakan yang diperoleh Finlandia tersebut tidak bisa dipisahkan dari fakta bahwa warga di negara Skandinavia tersebut memiliki rata-rata besar pendapatan yang cukup tinggi dan fasilitas umum serta layanan publik berkualitas merata.
Realitas ini mengundang pertanyaan lain, “Apa arti kebahagiaan sesungguhnya?”
Seperti pada contoh Finlandia di atas, kebahagiaan sering dikorelasikan dengan kesejahteraan. Nah, apa jadinya kesejahteraan tanpa kecukupan atas kekayaan material?
Negara-negara yang warganya masuk dalam ranking paling bahagia, seperti Islandia, Denmark, Israel, juga memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita alisan besaran pendapatan rata-rata penduduk yang sangat tinggi.
PDB per kapita Finlandia sekitar 53 ribu dolar AS (Rp920 juta), Israel 54 ribu dolar AS (Rp937 juta), Denmark 71 ribu dolar AS (Rp1,2 miliar), Islandia 86 ribu dolar AS (Rp1,4 miliar).
Lantas, tepatkah jika kebahagiaan manusia diukur semata-mata dari korelasinya dengan kecukupan atas harta kekayaan?
Mengukur dengan Sistem Cantril Ladder
Pengukuran “World Happiness Report” dibuat berdasarkan skala Cantril Ladder. Skala ini menginstruksikan orang yang terlibat dalam survei untuk menilai kebahagiaan hidupnya dari angka 0-10.
Instruksi jelasnya begini. Bayangkan sebuah tangga dengan anak tangga yang diberi nomor mulai dari nol di bagian bawah hingga angka sepuluh di bagian atas.
Bagian atas tangga melambangkan kehidupan terbaik yang kita alami, sedangkan bagian bawah tangga melambangkan kehidupan terburuk.
Di anak tangga mana kita merasa sedang berada saat ini? Di anak tangga mana kita memperkirakan akan berada sekitar lima tahun dari sekarang?
Cantril Ladder banyak dipakai untuk mengukur tingkat kebahagiaan sebab sifatnya self-anchoring, yang memungkinkan kita menjawab pertanyaan sesuai pengalaman yang kita rasakan sendiri.
Padahal dalam skala yang lebih mikro di tingkat individu, Psychology Today menjelaskan, kebahagiaan juga bisa dinilai dari aspek-aspek lain.
Kebahagiaan, misalnya, bisa dinilai dari aspek biologis (pergerakan hormon di dalam tubuh), tindakan (intensitas kita tersenyum dan tertawa), reaksi terhadap kejadian tertentu, penilaian orang lain, dan penilaian diri sendiri.
Namun begitu, aspek-aspek penilaian di atas masih rentan salah. Emosi kebahagiaan juga cenderung dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi pada kita baru-baru ini.
Bagaimana Cara Mengukur Kebahagiaan?
Definisi kebahagiaan bagi satu orang pastinya berbeda dengan yang lainnya. Apabila dalam skala kecil saja orang-orang memiliki pemahaman sendiri, maka dalam skala besar seperti negara, perbedaan ini seharusnya jadi perhatian ekstra.
Nilai-nilai kultural mengambil peranan penting dalam membentuk persepsi orang tentang kebahagiaan.
Masyarakat Chechnya di Rusia menganggap kebahagiaan sebagai kepuasan hidup, sementara masyarakat Jepang bahagia jika bisa mengalaminya bersama orang lain.
Masyarakat Indonesia yang terdiri atas berbagai etnis budaya juga memiliki persepsi kebahagiaannya sendiri.
Sebagai negara multikultural, masing-masing kelompok suku mendefinisikan kebahagiaan mereka masing-masing. Suku Bali memiliki filosofi Tri Hita Karana, yaitu kebahagiaan yang ditemukan dengan menciptakan keharmonisan diri dan alam semesta.
Masyarakat Maluku merasakan kebahagiaan ketika memiliki kebersamaan dengan kerabatnya, ditandai dengan filosofi ale rasa, beta rasa.
Penggunaan Cantril Ladder dalam “World Happiness Report” hanyalah salah satu teknik pengukuran yang belum mampu mencantumkan nilai-nilai kultural.
Laporan ini juga perlu dilihat dalam konteks yang telah melalui proses penyederhanaan dan generalisasi pada level makro negara.
Secara sederhana, Cantril Ladder memfungsikan sebuah skala yang memukul rata definisi kebahagiaan semua negara, terlepas standar kebahagiaan sangatlah personal di level individu.
Belum lagi, Cantril Ladder mengabaikan riwayat eksploitasi sumber daya alam dan manusia yang digencarkan oleh negara-negara Belahan Bumi Utara (Global North) sejak zaman penjelajahan di masa lampau.
Ekonomi mereka tidak akan bisa tumbuh sekuat dan semapan itu tanpa didukung oleh sumber daya yang dikeruk habis-habisan di perut negara-negara Belahan Bumi Selatan (Global South). Ironisnya, negara Belahan Bumi Selatan termasuk di dalam daftar yang warganya memiliki tingkat kebahagian rendah.
Contoh paling gamblang dapat kita lihat pada Israel. Tahun ini, Israel menempati posisi ke-8 dalam “World Happiness Report”. Sedangkan negara yang selama ini menderita di bawah penindasan mereka, Palestina, menduduki posisi ke-109.
Komunitas dan lingkungan, preferensi pribadi, bias kultural, pendidikan, kesehatan, dan rasa aman adalah aspek-aspek esensial lainnya yang perlu dipertimbangkan dalam membingkai ulang makna kebahagiaan.
Dengan kata lain, standar kebahagiaan sangatlah beragam dalam bentuk dan jenisnya.
Di tengah gonjang-ganjing dunia, tak bisa dimungkiri betapa sulitnya kita merasakan, menemukan, dan memaknai kebahagiaan.
Namun, proses pencarian ini manusiawi. Kita bisa menciptakan sendiri definisi kebahagian dan memaknainya lewat hal-hal yang personal, tidak selalu perlu dipengaruhi oleh faktor eksternal.
Jadi, perjuangkan selalu kebahagiaanmu. Pastikan bahwa kebahagiaan tersebut pantas buatmu. Setuju?
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih