diajeng.id - Selalu ada saja tantangan dalam pengasuhan anak, termasuk ketika terjadi pertengkaran. Meski perkaranya sepele, kadang-kadang anak dan orang tua sama-sama bisa emosi.
Dalam beberapa kasus, anak bisa jadi spontan berteriak, "Aku benci Ibu! Aku benci Ayah!"
Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut buah hati tercinta tentu terasa mengejutkan, tidak sopan, dan sangat menyayat hati.
Kalau sudah begitu, apa yang bisa kita lakukan sebagai orang tua? Apa pula yang sebaiknya kita balas ucapkan?
Langkah pertama yang paling krusial adalah memahami bahwa ketika anak berseru seperti itu, mereka biasanya tidak benar-benar bermaksud mengucapnya secara harfiah.
Hal yang Perlu Dilakukan Saat Anak Berkata "Aku Benci"
1. Memahami Apa yang Terjadi di Dalam Otak Anak
Berdasarkan penjelasan dari psikolog Tania Johnson dan Tammy Schamuhn melalui situs Institute of Child Psychology, saat anak merasa terpicu, entah karena hari yang melelahkan di sekolah atau karena sedang merasa tidak berdaya, otak mereka beralih ke "mode bertahan hidup".Dalam kondisi seperti ini, bagian otak yang mendeteksi ancaman (amygdala) akan mengambil alih, sementara bagian otak untuk berpikir logis (prefrontal cortex) menjadi tidak aktif.
Akibatnya, kemampuan bahasa anak menjadi terbatas pada ekspresi emosional yang intens, singkat, padat, seperti muda diucapkan dalam kalimat "aku benci kamu".
Anak-anak belum memiliki kosakata emosional atau keterampilan regulasi yang cukup untuk menjelaskan kompleksitas yang sebenarnya mereka rasakan.
Yang menarik, anak-anak sering meluapkan emosi ini kepada orang tua karena mereka merasa aman secara emosional dengan kita. Pada dasarnya, mereka tahu kita akan tetap menyayangi mereka meski mereka sedang bersikap tidak menyenangkan.
2. Kekuatan Jeda: Tenangkan Diri Sendiri Dahulu Insting pertama kita sebagai orang tua biasanya adalah reaksi yang emosional, seperti ikut berteriak, memberikan ceramah panjang, atau bahkan menghukum saat itu juga.
Namun begitu, reaksi agresif atau memalukan anak berisiko meningkatkan stres anak dan memperburuk situasi.
Salah satu "kekuatan super" orang tua adalah kemampuan untuk mengambil jeda. Sebelum merespons, tarik napas dalam-dalam atau hitung sampai sepuluh untuk menenangkan sistem saraf diri sendiri.
Apabila perlu, sampaikan kepada anak, "Ibu mau ke kamar mandi sebentar untuk menenangkan diri. Setelah itu, kita ngobrol lagi, ya."
Dengan tetap tenang, kita memberikan jangkar regulasi bagi anak yang sedang tidak stabil.
3. Menanggapi Perasaan, Bukan Kata-katanya
Setelah merasa tenang, cobalah untuk merespons emosi anak di balik kata-kata tersebut, bukan pada kata "benci" itu sendiri.Orang tua bisa menggunakan kalimat-kalimat empati, "Sepertinya kamu lagi kesal banget ya hari ini," atau, "Pasti kamu kecewa berat karena merasa hal ini tidak adil buatmu."
Dengan menunjukkan empati, orang tua membantu anak merasa dilihat dan dipahami, yang merupakan kunci untuk menurunkan ketegangan emosional mereka.
Namun demikian, berempati bukan berarti membiarkan perilaku buruk anak. Sebagai orang tua, kita tetap perlu menetapkan batasan dengan tegas sekaligus penuh kasih.
Misalnya, melalui kalimat seperti, "Ibu paham kamu sedang marah, tapi kata-kata seperti itu tidak boleh diucapkan karena menyakiti hati siapa pun yang mendengarnya."
4. Memberikan Pilihan untuk Menyalurkan Kemarahan
Penting bagi kita untuk mengajarkan bahwa merasa marah itu boleh, akan tetapi cara mengekspresikannya harus tetap dikontrol.Seperti dinukil dari Michigan State University (carn.msu), kita bisa memberikan pilihan kepada anak tentang cara yang bisa diterima untuk menenangkan diri karena setiap anak memiliki preferensi berbeda.
Ada anak yang merasa mudah tenang dengan aktivitas fisik untuk mengurangi hormon stres. Ada juga yang membutuhkan waktu untuk merenung sendiri (sudut sunyi), bahasa tubuh lewat pelukan, atau sekadar merobek kertas untuk menyalurkan emosinya.
5. Memperbaiki Hubungan (Repair)
Jangan terburu-buru mendisiplinkan anak ketika suasana masih panas.Disiplin yang diterapkan saat kedua belah pihak sama-sama masih emosional biasanya hanya akan menjadi hukuman yang memutus koneksi.
Coba tunggulah sampai semua sudah tenang untuk kembali membahas apa yang terjadi.
Begitu suasana sudah lebih cair, ajaklah anak berefleksi dengan rasa ingin tahu yang tulus, "Tadi kamu bilang, kamu benci sama Ibu/Ayah. Coba ceritakan, apa yang tadi rasanya berat sekali di pikiranmu sampai-sampai terucap kalimat seperti itu buat Ibu/Ayah?"
Proses ini mengajarkan anak kesadaran diri dan bagaimana mengomunikasikan perasaan dengan lebih efektif di masa depan. Pada waktu sama, komunikasi tersebut penting untuk membangun kembali rasa percaya antara orang tua dan anak.
Seruan kebencian anak pada orang tua memang bukan hal sepele yang mudah dilupakan setiap orang tua.
Di balik itu, apabila orang tua mampu melihatnya melampaui sebatas kata-kata, momen ini sebenarnya adalah kesempatan untuk memperdalam hubungan.
Dengan tetap tenang, memberikan empati, menetapkan batasan, dan melakukan perbaikan hubungan setelahnya, kita membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih cerdas secara emosional.
Simak juga artikel seputar orang tua dan anak melalui tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih