Menuju konten utama

Hal-hal yang Perlu Diketahui Seputar Open Relationship

Open relationship artinya membatasi relasi di luar pasangan utama hanya pada aspek fisik, tanpa adanya ikatan perasaan.

Hal-hal yang Perlu Diketahui Seputar Open Relationship
ilustrasi senang usai bergairah

diajeng.id - Dalam beberapa tahun terakhir, istilah open relationship semakin sering diperbincangkan di kalangan anak muda urban Indonesia.

Open relationship adalah konsep hubungan yang membuka ruang bagi pasangan untuk menjalin relasi romantis atau seksual dengan orang lain ini kerap dianggap sebagai simbol kebebasan, kejujuran, dan pilihan hidup modern.

Meski masih menuai pro dan kontra karena berbenturan dengan nilai budaya dan norma sosial yang berlaku, open relationship perlahan muncul sebagai topik diskusi yang tak lagi tabu, terutama di ruang digital dan komunitas perkotaan.

Apa Itu Open Relationship?

Open relationship sering disalahartikan sebagai poliamori, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar.

Dalam poliamori, seseorang dapat menjalin hubungan romantis dengan lebih dari satu pasangan sekaligus, termasuk keterlibatan emosional.

Sementara itu, open relationship artinya membatasi relasi di luar pasangan utama hanya pada aspek fisik, tanpa adanya ikatan perasaan.

Artinya, hubungan seksual diperbolehkan, tetapi keterikatan emosional tetap eksklusif. Baik arti open relationship maupun poliamori sama-sama termasuk dalam bentuk hubungan nonmonogami yang dijalani atas kesepakatan bersama.

Selain dua konsep tersebut, dikenal pula istilah swinging, yaitu aktivitas seksual yang melibatkan pertukaran pasangan dengan individu atau pasangan lain.

Open relationship sendiri dapat diterapkan dalam berbagai tahap hubungan, mulai dari pacaran hingga pernikahan.

Alasan Orang Memilih Open Relationship

Open relationship kerap dipilih sebagai bentuk hubungan alternatif yang dianggap lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan individu tertentu.

Sebagian orang memilih open relationship karena menginginkan kebebasan pribadi tanpa harus mengakhiri hubungan utama.

Pola hubungan ini juga dianggap menawarkan tingkat keterbukaan dan kejujuran yang lebih tinggi karena semua pihak memahami serta menyepakati batasan sejak awal.

Selain itu, perbedaan kebutuhan emosional atau seksual dalam hubungan membuat open relationship dipandang sebagai jalan tengah agar kebutuhan tersebut tetap terpenuhi.

Pengaruh lingkungan urban, media sosial, serta paparan wacana hubungan modern turut membentuk pandangan bahwa relasi terbuka adalah hal yang wajar.

Tak sedikit pula individu yang terdorong menjalani open relationship akibat pengalaman kurang menyenangkan dalam hubungan monogami sebelumnya, sehingga mencari bentuk hubungan yang dirasa lebih fleksibel dan minim tekanan.

Aturan Penting dalam Open Relationship

Open relationship bukanlah hubungan yang berjalan tanpa kendali. Meski memberi ruang kebebasan, pola relasi ini tetap membutuhkan aturan yang jelas dan disepakati bersama sejak awal.

Tanpa batasan yang tegas, open relationship justru berpotensi memicu konflik, kecemburuan, hingga ketidaknyamanan emosional.

Oleh karena itu, memahami dan menerapkan aturan penting menjadi kunci agar hubungan tetap sehat dan saling menghargai.

1. Mengelola Batasan Emosional

Selain aturan fisik, kesiapan emosional juga menjadi aspek krusial. Pasangan perlu memastikan apakah masing-masing mampu menjaga perasaan agar tidak terlibat secara emosional dengan orang lain.

Kejujuran tentang rasa cemburu, ketidaknyamanan, atau potensi keterikatan emosional perlu dibicarakan sejak awal. Jika aspek ini sulit dikendalikan, open relationship berisiko menimbulkan konflik.

2. Mengatur Aturan Hubungan Seksual

Karena banyak open relationship dijalani dengan alasan seksual, aturan terkait aktivitas seksual harus dibahas secara terbuka.

Setiap pihak yang terlibat wajib menyetujui batasan yang telah ditetapkan dan merasa nyaman menjalaninya. Transparansi menjadi kunci agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.

3. Menetapkan Batasan Sejak Awal

Dalam open relationship, batasan merupakan fondasi utama yang harus disepakati terlebih dahulu.

Pasangan perlu membicarakan secara jelas hal-hal yang diperbolehkan dengan pasangan lain, termasuk kriteria orang yang boleh terlibat serta pembagian waktu yang dianggap wajar.

Kesepakatan ini penting agar semua pihak merasa aman dan tidak dirugikan.

4. Melakukan Evaluasi Hubungan Secara Berkala

Open relationship membutuhkan komunikasi yang konsisten. Maka evaluasi hubungan secara rutin, misalnya setiap bulan, sangat disarankan.

Mengacu pada artikel Bustle, evaluasi ini berguna untuk mengetahui kondisi emosional pasangan, menyesuaikan kembali batasan yang dirasa kurang relevan, serta memahami perubahan ekspektasi dalam hubungan.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Risa Fajar Kusuma

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Risa Fajar Kusuma
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih