diajeng.id - Pernah merasa dekat dengan seseorang, rutin bertukar kabar, bahkan mulai membayangkan masa depan bersama, tetapi tiba-tiba dia menghilang tanpa penjelasan?
Situasi ini tentu membingungkan, apalagi ketika sebelumnya tidak ada tanda-tanda hubungan sedang bermasalah. Fenomena tersebut dikenal sebagai ghosting. Namun, benarkah ghosting menandakan seseorang tidak pernah serius dalam hubungan?
Apa Arti Ghosting dalam Hubungan?
Dalam konteks hubungan romantis, ghosting adalah orang yang secara tiba-tiba menghentikan komunikasi dan menghilang tanpa jejak dari kehidupan pasangannya tanpa ada penjelasan.
Situasi tersebut dapat terjadi setelah beberapa kali melakukan kencan maupun ketika hubungan sudah berjalan cukup lama.
Menurut Gili Freedman dan Darcey N. Powell dalam artikel ilmiah "Ghosting: A Common but Unpopular Rejection Strategy" (2024), ghosting merupakan cara mengakhiri hubungan yang umum terjadi, tetapi cenderung dipandang negatif. Perilaku ini dapat menimbulkan kebingungan dan luka emosional bagi orang yang ditinggalkan.
Tanda-Tanda Kamu Mengalami Ghosting
Salah satu tanda ghosting adalah komunikasi yang terputus secara tiba-tiba, padahal sebelumnya berlangsung intens. Pesan tidak lagi dibalas, telepon diabaikan, atau akun media sosialmu diblokir tanpa alasan yang jelas.
Kamu mungkin juga menyadari bahwa dia berhenti mengajak bertemu dan tidak memberikan penjelasan meskipun sudah dihubungi beberapa kali.
Meski begitu, jangan langsung menyimpulkan seseorang melakukan ghosting hanya karena terlambat membalas pesan. Perhatikan pola perilakunya dan beri ruang untuk kemungkinan adanya situasi mendesak.
Dampak Ghosting terhadap Orang yang Ditinggalkan
Ketidakjelasan sering kali menjadi bagian paling menyakitkan dari ghosting. Tanpa penjelasan, seseorang bisa terus bertanya-tanya tentang kesalahan yang mungkin telah dilakukan.
Dampak yang terjadi pada orang yang dighosting, di antaranya membuat penurunan rasa percaya diri, meningkatnya kecemasan, dan kepercayaan terhadap hubungan berikutnya menjadi terganggu.
Penelitian yang dibahas dalam jurnal Social and Personality Psychology Compass menunjukkan bahwa orang yang mengalami ghosting dapat merasakan sakit hati dan kebingungan. Karena tidak mendapatkan kepastian, mereka juga kesulitan memahami alasan berakhirnya hubungan.
Alasan Seseorang Melakukan Ghosting
Ada berbagai alasan seseorang melakukan ghosting. Sebagian orang takut menghadapi percakapan yang tidak nyaman, tidak tahu cara mengungkapkan perubahan perasaan, atau memilih jalan yang dianggap lebih mudah daripada menjelaskan keinginannya untuk berpisah.
Apakah Ghosting Berarti Dia Tidak Pernah Serius?
Belum tentu. Seseorang yang melakukan ghosting mungkin pernah memiliki perasaan tulus, tetapi tidak mampu atau tidak bersedia mengakhiri hubungan dengan komunikasi yang sehat.
Sebaliknya, perilaku menghilang juga bisa menunjukkan bahwa dia tidak ingin melanjutkan hubungan atau tidak bersedia memberikan kejelasan yang dibutuhkan.
Satu perilaku saja tidak selalu cukup untuk menilai keseluruhan niat seseorang.
Jika tidak ada respons, berhentilah mengejar kepastian dari orang yang terus memilih diam. Fokuslah pada pemulihan diri, dukungan orang terdekat, dan aktivitas yang membuatmu merasa lebih baik.
Ghosting tidaklah otomatis membuktikan bahwa seseorang tidak pernah serius. Namun, cara seseorang menghadapi perpisahan tetap mencerminkan bagaimana ia memperlakukan orang lain.
Kamu berhak mendapatkan hubungan yang menghadirkan rasa hormat, komunikasi, dan kejelasan.
Artikel terkait lainnya juga bisa dibaca di sini.
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih