Menuju konten utama

Obsesi dalam Hubungan Asmara: Kapan Cinta Jadi Berlebihan?

Ciri-ciri obsesi dalam hubungan seperti selalu cek lokasi pasangan, cemas saat pasangan berinteraksi dengan orang lain, dan selalu butuh kepastian cinta.

Obsesi dalam Hubungan Asmara: Kapan Cinta Jadi Berlebihan?
Kolase obsesi dalam relasi. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Saat awal-awal menjalin hubungan dengan kekasih, memberi kabar tentang apa saja kegiatan yang kamu lakukan sehari-hari merupakan hal lumrah dan ini menjadi salah satu romantisme asmara.

Tapi bagaimana jika pesan sang kekasih justru kadang telat datangnya, yang dirasakan kemungkinan gelisah, cemburu tanpa alasan jelas, dan pikiranmu terus dipenuhi dirinya? Tanpa disadari, perhatian yang semula terasa seperti cinta bisa berubah menjadi obsesi.

Lantas, obses adalah apa sebenarnya dalam hubungan asmara?

Secara sederhana, obsesi terhadap seseorang dapat berupa keterikatan yang berlebihan hingga orang tersebut diperlakukan seperti milik sendiri, bukan sebagai seseorang yang memiliki perasaan dan kebebasan.

Ciri-Ciri Obsesi terhadap Pasangan

Dalam hubungan asmara, obsesi tidak sekadar ditandai perasaan kangen atau keinginan untuk terus menghabiskan waktu bersama. Seperti dijelaskan Healthline dalam artikel “Understanding Obsessive Personality Traits and Behaviors in Relationships”, ada beberapa perilaku yang perlu diwaspadai.

Misalnya, setiap saat mengecek lokasi keberadaan pasangannya, cemas dan khawatir ketika pasangan mulai berinteraksi dengan pihak lain, atau membutuhkan kepastian cinta setiap saat.

Orang yang terobsesi juga mungkin terlalu memikirkan setiap perkataan pasangan hingga mengabaikan pekerjaan, pertemanan, dan kebutuhan dirinya sendiri.

Ada perbedaan yang bisa dicermati antara hubungan obsesi dengan relasi yang sehat, yakni keseimbangan. Jika obsesi merupakan perilaku yang selalu posesif dan ingin terus mengendalikan pasangan, maka cinta yang sehat, akan tetap memberikan ruang bagi kedua pihak untuk berkembang.

Apa Penyebab Obsesi dalam Hubungan Asmara?

Penyebab obsesi dalam hubungan bisa berbagai macam, mulai dari faktor rendahnya harga diri, trauma masa lalu, perasaan tidak aman, pernah mengalami penolakan, hingga ketakutan ditinggalkan pasangan.

Dalam kondisi tertentu, kecemasan (anxiety) dan masalah kesehatan mental juga dapat berperan.

Obsesi ini dapat membuat seseorang merasa harus terus mengawasi pasangannya agar hubungannya tidak sampai kandas. Namun sayangnya, perilaku ini justru bisa merusak kepercayaan yang menjadi dasar hubungan.

Dampak Obsesi bagi Kedua Pihak

Bagi orang yang mengalami obsesi, pikiran yang terus berulang dapat memicu kecemasan, kelelahan emosional, dan kesulitan berkonsentrasi. Sementara itu, pasangannya dapat merasa tertekan, kehilangan privasi, hingga takut menyampaikan pendapat karena khawatir memicu kecemburuan.

Jika dibiarkan, hubungan yang seharusnya menjadi tempat saling mendukung dapat berubah menjadi sumber stres. Karena itu, penting untuk mengenali pola tersebut sebelum semakin mengganggu kehidupan sehari-hari.

Cara Mengatasi Obsesi dalam Hubungan

Menurut Verywell Mind, cara mengatasi obsesi dalam hubungan dapat dimulai dengan mengenali pikiran yang berulang tanpa langsung menuruti dorongan untuk memeriksa atau menghubungi pasangan.

Kemudian langkah selanjutnya, adalah dengan mengurangi memantau media sosial pasangan, ada baiknya untuk melakukan hal-hal yang disukai, dan jangan lupa pula untuk mau meluangkan waktu bersama teman atau keluarga, entah itu sekadar ngopi atau ngobrol hal-hal yang ringan.

Selain itu, bangun komunikasi yang terbuka dan hormati batasan masing-masing.

Namun, jika masih sulit mengendalikan pikiran yang obsesif dan hal itu justru mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, sebaiknya pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental profesional.

Perlu diingat, cinta itu bukan tentang harus terus mengendalikan pasangan. Hubungan yang sehat tumbuh melalui rasa percaya, penghargaan, dan kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Sebab, mencintai seseorang juga berarti menghormati ruang dan haknya, tanpa kehilangan jati diri kita sendiri.

Artikel lainnya terkait relasi juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih