Menuju konten utama

OpenAI Luncurkan Panduan Praktis AI untuk Keluarga (PandAI)

Melalui PandAI, keluarga diajak untuk memulai obrolan, mengeksplorasi penggunaan AI bersama, dan membangun kebiasaan yang sesuai kebutuhan remaja.

OpenAI Luncurkan Panduan Praktis AI untuk Keluarga (PandAI)
Media Gathering dan Workshop PandAI (Panduan Praktis AI) untuk Keluarga berlangsung Rabu (30/9) di Jakarta Pusat. Diskusi yang dimoderatori oleh Cipluk Carlita selaku Communications Open AI ini menghadirkan pembicara Edukator Damar Wijayanti dan Psikolog Pritta Tyas Mangestuti dari Good Enough Parents serta Sandy Kunvatangarn selaku Head of Policy SEA OpenAI. foto/Syifa

diajeng.id - Proses penerimaan masyarakat terhadap kehadiran teknologi super canggih dari Artificial Intelligence atau Akal Imitasi (AI) berlangsung lebih cepat dibandingkan teknologi lainnya. Faktanya, hanya butuh waktu selama dua bulan bagi ChatGPT untuk mencapai seratus juta pengguna aktif.

Data OpenAI mencatat bahwa 90 persen pengguna remaja menggunakan ChatGPT setiap minggu untuk mendukung pembelajaran serta produktivitas harian.

Di sisi lain, studi global United Nations Interregional Crime and Justice Research Institute (UNICRI) pada 2025 menunjukkan masih adanya kesenjangan literasi dalam pemanfaatan AI. Sebanyak 44 pesen orang tua merasa belum menguasai pengetahuan yang memadai untuk membimbing anak dalam berinteraksi dengan AI.

Persoalan ini menjadi salah satu isu yang diangkat dalam media gathering dan workshop bertajuk PandAI (Panduan Praktis AI) untuk Keluarga yang diselenggarakan oleh OpenAI pada Rabu (30/9) di Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

OpenAI meluncurkan Panduan Praktis AI untuk Keluarga (PandAI) untuk membantu orang tua dan remaja menggunakan Artificial Intelligence (AI). Melalui PandAI, keluarga diajak untuk memulai obrolan, mengeksplorasi penggunaan AI bersama, serta membangun kebiasaan yang sesuai dengan kebutuhan dan usia remaja.

PandAI hadir untuk membantu keluarga memahami AI bersama, membangun kebiasaan berpikir kritis, menjaga privasi, dan menggunakannya secara bertanggung jawab. Panduan ini dibuat relevan dengan keseharian sehingga orang tua dapat mendampingi remaja dengan cara yang lebih terbuka dan sesuai kebutuhan keluarga.

“Kami ingin memberikan semua anak kesempatan untuk menerima manfaat dari AI dalam kondisi yang aman,” tutur Cipluk Carlita dari Communications OpenAI selaku moderator.

Dalam sesi diskusi, Head of Policy SEA OpenAI Sandy Kunvatanagarn mengungkapkan bahwa saat pertama kali menyinggung topik penggunaan AI, sebagian besar orang biasanya langsung membayangkan format chatbot yang bersifat individual.

Padahal, dengan sedikit kreativitas, AI dapat menjadi alat kolaborasi yang luar biasa. Sandy menuturkan, dalam lingkungan keluarga, AI mampu membuka peluang unik bagi orang tua dan anak remaja untuk berkolaborasi dengan cara baru atau beraktivitas bersama.

“Sebagai contoh, ketika merencanakan liburan keluarga, Anda bisa bekerja sama dengan anak Anda dan memintanya meriset tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Anda bahkan bisa bersama-sama membuat dashboard untuk memantau berbagai aktivitas yang ingin dilakukan, sehingga keluarga memiliki situs web pribadi yang memuat informasi ke mana mereka akan pergi, apa yang akan mereka lihat, serta bagaimana jadwal perjalanannya.” kata Sandy.

Fitur Pengawasan Orang Tua

ChatGPT tidak ditujukan untuk anak-anak berusia di bawah 13 tahun. Anak-anak berusia 13 hingga 18 tahun harus mendapatkan persetujuan orang tua sebelum menggunakan ChatGPT. Ketersediaan fitur pun bisa berbeda-beda tergantung paket, wilayah, perangkat, dan tahap peluncuran.

Kemudian terdapat fitur prediksi usia untuk memperkirakan apakah pengguna berusia di bawah 18 tahun agar fitur keamanan sesuai usia dapat diterapkan secara otomatis.

Dalam ChatGPT remaja, orang tua juga dapat menghubungkan akun dan mengelola langsung fitur keamanannya.

Salah satu contoh fitur lainnya yang dapat digunakan sehari-hari adalah fitur Jam Belajar. Mekanismenya adalah remaja atau orang tua dan wali yang akunnya telah terhubung dapat menentukan waktu tertentu agar percakapan baru secara otomatis dimulai dalam Study Mode. Fitur ini membantu membangun rutinitas belajar yang lebih terarah melalui pertanyaan panduan, penjelasan bertahap, latihan, dan pemeriksaan pemahaman.

Terdapat juga fitur Jam Tenang, yakni fitur yang membantu keluarga menetapkan batas penggunaan yang lebih jelas, mendukung waktu istirahat, dan membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.

Orang Tua sebagai Role Model

Acara diskusi juga diisi oleh dua Co-Founder Good Enough Parents; Edukator Parenting Damar Wijayanti, Psikolog Klinis dan Keluarga Parents Pritta Tyas Mangestuti, yang mengemukakan bahwa orang tua harus bisa menjadi mentor bagi anaknya, khususnya dalam penggunaan AI.

“Yang pertama menurut saya cara paling mudah karena meskipun sudah teens dan teenager mereka masih butuh sesuatu yang konkret dan role model. Jadi cara paling mudah adalah yang pertama menunjukkan dulu bagaimana orang tuanya menggunakan AI,” ujar Damar.

Orang tua dan komunitas memiliki tanggung jawab besar untuk mendampingi remaja dalam memanfaatkan AI secara bijak sebagai alat bantu. Pada saat yang sama, penanaman daya kritis tetap menjadi prioritas utama agar remaja mampu memilah kebenaran informasi serta memahami batasan keamanan data pribadi yang dibagikan.

Dalam penerapan disiplin positif bagi remaja, pendekatan komunikasi satu arah dinilai kurang berdaya guna. Remaja umumnya resisten terhadap aturan kaku yang bersifat menggurui.

Sebagai gantinya, strategi yang jauh lebih efektif adalah membangun keterlibatan remaja secara langsung melalui metode pendampingan (coaching). Metode ini memungkinkan orang tua berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan sekaligus merangkul mereka.

Selain itu, orang tua juga perlu memberikan informasi terkait batasan-batasan saat menggunakan AI. Misalnya, syarat menggunakan AI melalui perangkat milik ayah atau ibunya. Contoh lainnya, larangan menyebarkan informasi pribadi seperti alamat rumah, nama sekolah, dan identitas pribadi.

“Baru yang kedua kita diskusikan batasannya apa, misalnya karena dia masih di bawah 13 tahun, jadi menggunakannya bersama dengan saya di device saya, belum di device dia, sehingga kamu harus menggunakan bersama dengan mama atau bapak. Kemudian apa saja informasi penting yang tidak boleh kamu share di AI, ya nama sekolah, alamat, dan lain sebagainya itu tidak boleh kamu share. Baru yang ketiga kita memikirkan apa yang bisa kita diskusikan dengan dia sehingga membantu kita,” imbuh Pritta.

Dengan memberikan contoh baik serta melakukan pendampingan konsisten, orang tua tetap bisa hadir sebagai rekan diskusi yang mengarahkan anak untuk menggunakan teknologi secara bijak, aman, dan tepat guna, tanpa terkesan mengekang atau menggurui.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Sekar Kinasih

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Sekar Kinasih