Menuju konten utama

Melumrahkan Parenting yang Sudah Lumrah? Tren Beta Mom di TikTok

Tren Beta Mom mendulang popularitas sebagai bentuk perlawanan terhadap gaya pengasuhan terstruktur ala Tiger Mom atau Helicopter Parent.

Melumrahkan Parenting yang Sudah Lumrah? Tren Beta Mom di TikTok
Header Diajeng Tren Beta Mom. foto/istockphoto

diajeng.id - Sewaktu berkunjung ke tempat teman atau saudara yang sudah berkeluarga, kita umumnya menjumpai isi rumah yang "hidup" dengan jejak aktivitas para penghuninya; kepingan-kepingan puzzle di lantai yang belum selesai dirangkai, sofa yang dipenuhi mainan dan boneka, meja yang basah karena tumpahan kuah sayur atau sirup jeruk, sampai kertas tugas sekolah anak yang berceceran di dekat kulkas. Pemandangannya berantakan, akan tetapi suasana di dalam rumah tenang dan nyaman.

Meski gambaran tersebut terkesan lumrah, di era media sosial, deskripsi demikian berkembang menjadi narasi gaya hidup keluarga yang mendulang popularitas di bawah asuhan Beta Mom.

Laman Cubby at Home menjelaskan, istilah Beta Mom semakin sering dibicarakan setelah marak dijadikan konten di TikTok dan diulas oleh media internasional seperti The Wall Street Journal.

Tren ini disebut-sebut muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap gaya pengasuhan yang sangat terstruktur, terjadwal, dan terkurasi ala Tiger Mom atau Helicopter Parent yang menuntut orang tua untuk mengatur dan mengoptimalkan setiap detik kehidupan anak.

Sebaliknya, sebagai Beta Mom, seorang ibu memilih prinsip untuk menjadi orang tua yang "cukup baik" (good enough) daripada mengejar predikat orang tua sempurna.

Di Balik Popularitasnya di TikTok

Popularitas Beta Mom di TikTok bukan tanpa alasan.

Tidak sedikit ibu modern, baik ibu pekerja kantoran maupun ibu pekerja di rumah, yang merasa kelelahan karena tingginya beban kerja yang tak kasatmata (invisible labor, seperti merencanakan jadwal kursus dan kunjungan dokter untuk anak-anak, membuat daftar belanjaan, menghubungi tukang pompa air, membayar iuran sosial di perumahan, dsb) di tengah gempuran dahsyatnya tekanan standar ibu sempurna di media sosial.

Melalui tagar Beta Mom, para ibu membagikan konten berisi gambaran realitas pengasuhan yang apa adanya.

Konten yang diunggah menampilkan dinamika sehari-hari yang jauh dari kesan teratur, apalagi estetis; mengantar anak sekolah dari rumah menjelang jam masuk kelas, membiarkan remahan biskuit dan sisa camilan berserakan di jok mobil, atau memaklumi anak yang kehilangan salah satu kaos kakinya.

Masih melansir Cubby at Home, kreator konten Sophie Jaffe pernah menegaskan filosofi Beta Mom dalam unggahannya, "Aku tidak membesarkan anak-anak yang menganggap seluruh hidupnya direncanakan dengan sempurna. Aku membesarkan manusia-manusia yang percaya pada diri sendiri, adaftif, bisa tertawa saat ada masalah, dan tahu bahwa kestabilan emosi itu lebih penting daripada sekadar tepat waktu."

Dampak Positif bagi Ibu dan Tumbuh Kembang Anak

Menurut Parents, gaya pengasuhan ini bisa memberikan dampak menyegarkan bagi kesehatan mental orang tua.

Katherine Rose Woller, ibu dua anak dari Colorado, menceritakan pengalamannya yang sempat tertekan karena terobsesi untuk menerapkan jadwal kegiatan anak pertamanya sesuai catatan yang sudah disusunnya.

"Aku terus-terusan stres memikirkan jadwal, waktu bangun yang dianggap ideal, dan mencatat data untuk setiap hal kecil," ujar Woller.

Obsesi itu, kata Woller, membuat dirinya kesulitan menikmati masa-masa menjadi ibu seutuhnya, "Tekanan untuk menjadi sempurna dan melakukan segalanya secara optimal bikin aku stres berat dan sulit menikmati pengalaman jadi ibu."

Seiring berjalannya waktu, Woller belajar untuk mengelola cara berpikirnya berdasarkan pengalaman. Begitu hamil anak kedua, Woller memutuskan untuk beralih menjadi Beta Mom dengan melepaskan perfeksionisme dan fokus pada kehadiran.

"Aku melepaskan tuntutan akan kesempurnaan [dan] lebih berfokus untuk benar-benar hadir bagi anak-anak," tambah Woller.

Manfaat serupa juga disoroti oleh psikiater Dr. Vinay Saranga. Menurutnya, pendekatan yang lebih santai membantu mengurangi kecemasan pada ibu karena mereka tidak perlu mengontrol dan mengoreksi setiap detail kecil.

Bagi anak-anak, ruang yang diberikan oleh Beta Mom dapat membantu melatih mereka untuk memecahkan masalah sendiri, membangun kemandirian, serta menumbuhkan rasa percaya diri.

Penulis dan pengacara keluarga Gabriella Pomare menambahkan bahwa menjadi Beta Mom bukan berarti lepas tanggung jawab.

"Menjadi Beta Mom tidak membuatku kurang berkomitmen dalam mengasuh anak," ungkap Pomare. "Sebaliknya, aku hanya kurang berkomitmen pada bagian-bagian pengasuhan yang sejak awal sebenarnya tidak benar-benar soal anak."

Tren Baru untuk Praktik Pengasuhan Lumrah?

Di tengah sorotan publik, muncul pertanyaan; apakah Beta Mom benar-benar sebuah terobosan baru, atau hanya istilah keren untuk praktik pengasuhan yang memang sudah berlangsung apa adanya?

Psikolog Dr. Vanessa LoBue dalam ulasannya di Psychology Today menyebutkan bahwa konsep Beta Mom sebenarnya sangat mirip dengan authoritative parenting yang dirumuskan oleh Diana Baumrind pada dekade 1960-an.

Pola pengasuhan ini bersifat mendukung anak dengan beban ekspektasi wajar sehingga anak-anak dapat tumbuh mandiri dan beradaptasi dengan perubahan secara lebih baik.

Menurut Dr. LoBue, Beta Mom bukan inovasi atau penemuan baru, melainkan bentuk kembalinya ekspektasi pengasuhan yang rasional di tengah gempuran tren pengasuhan yang terlalu padat dan terkurasi.

Label ini melegitimasi bahwa rumah yang sedikit berantakan dan hidup yang tidak selalu direncanakan dengan rigid (kaku) adalah realitas yang lumrah dan manusiawi dalam pengalaman kita sebagai orang tua.

Meski begitu, pakar tetap mengingatkan agar fleksibilitas yang dilakukan Beta Mom tidak tergelincir menjadi aksi pembiaran. Anak-anak tetap membutuhkan struktur, batasan, dan arahan yang konsisten dari orang tuanya.

Artikel lainnya terkait pola asuh bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait POLA ASUH atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih