Menuju konten utama

Peran Perempuan dan Ruang Aman dalam Krisis Bencana

Kepemimpinan perempuan dalam kesiapsiagaan maupun pemulihan krisis adalah kunci untuk mengenali kebutuhan-kebutuhan yang kerap luput dari kacamata umum.

Peran Perempuan dan Ruang Aman dalam Krisis Bencana
Dalam rangka Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB), Koalisi Women in Local Humanitarian Leaders (WLHL) menyelenggarakan diskusi bertajuk "Bagaimana Kita Memaknai Kepemimpinan Perempuan dalam Kerja Kemanusiaan?" di Serang, Banten pada Rabu (14/10). FOTO/LBH APIK

diajeng.id - Bencana alam tidak pernah memilih korban, akan tetapi dampaknya selalu dirasakan secara timpang. Ketika krisis melanda, perhatian kerap tertuju pada kerusakan fisik dan bantuan logistik darurat. Padahal, ada jurang besar yang rentan terabaikan pascabencana: pemulihan sosial ekonomi serta pemulihan psikososial bagi masyarakat terdampak.

Dalam kondisi tersebut, perempuan biasanya mengambil peran penting sekaligus menghadapi pusaran kerentanan yang kompleks.

Isu kesehatan jiwa menjadi salah satu aspek yang paling minim mendapatkan sorotan. Fita Berliana dari Rumah Konseling Dompet Dhuafa membagikan pengalamannya mendampingi masyarakat terdampak bencana sejak 2018.

"Jadi pada waktu itu, khususnya di Banten di tahun 2018, isu kesehatan mental masih menjadi sesuatu yang aneh dilihatnya. Kenapa? Kemudian isu ini yang kami angkat berangkat dari pemikiran bahwa setiap orang mestinya punya kesempatan untuk mendapatkan dukungan psikologis secara mudah dan terjangkau," ujar Fita saat menjadi narasumber diskusi "Bagaimana Kita Memaknai Kepemimpinan Perempuan dalam Kerja Kemanusiaan?" yang diselenggarakan Koalisi Women in Local Humanitarian Leaders (WLHL) dalam rangka Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2026, pada Rabu (14/10) di Kota Serang, Banten.

"Kesehatan mental itu tidak sama seperti kesehatan fisik. Kalau kesehatan fisik, kan, itu sangat bisa dilihat dan bisa diukur setiap harinya," tandas Fita.

Tantangan ini semakin rumit karena ketersediaan tenaga pendamping yang belum berimbang; sekitar 90 persen penyedia layanan konseling dan bantuan psikososial adalah perempuan. Kelangkaan konselor laki-laki menjadi ironi tersendiri. Padahal, stres dan tekanan mental pascabencana dialami oleh siapa saja tanpa memandang jenis kelamin.

"Isu kesehatan mental tidak pandang bulu. Ya, dia enggak hanya datang ke perempuan saja, tapi juga ke laki laki. Ini yang jadi tantangan kami. Bahkan ketika bencana, kita datang melakukan dukungan psikososial. Yang mau kemudian bercerita, menjelaskan atau menceritakan beban mereka. Itu lebih banyak ibu-ibu. Padahal bapak-bapak juga sebenarnya terdampak. Cuma butuh keberanian juga mungkin untuk mengakui bahwa kita itu tidak dalam kondisi baik baik saja," papar Fita.

Akibat banyaknya laki-laki yang enggan mengekspresikan beban mentalnya karena norma sosial dan gengsi, pada akhirnya dapat memicu ketegangan psikologis hingga berpotensi memicu kekerasan di ruang domestik.

Di sisi lain, perempuan mendapati beban mereka berlipat ganda saat krisis terjadi. Pengalaman Dompet Dhuafa saat memberikan bantuan psikososial (Psychological First Aid/PFA) di lokasi bencana, seperti di Lombok, menunjukkan bagaimana para ibu tetap harus memikul tanggung jawab domestik dan pengasuhan anak di tengah situasi darurat.

"Jadi ketika mereka sedang sesi pemulihan trauma pun mereka harus membawa anak-anak mereka. Makanya, apa yang dilakukan oleh rumah konseling? Selain memberikan tempat aman untuk para ibu juga menyediakan tempat aman untuk anak-anak gitu. Nah, cerita-cerita yang kami dapatkan adalah kekhawatiran mereka akan masa depan anak-anak," jelas Fita.

Khususnya para ibu, lanjut Fita, mereka juga sering merasa khawatir tentang sampai kapan kondisinya terjadi. Belum lagi para ibu yang sedang MPASI, anak-anaknya perlu makanan khusus.

Itulah mengapa banyak perempuan yang tergerak atau berinisiatif untuk menjadi penggerak dan pemimpin di lapangan.

"Bukannya mereka selalu sanggup untuk mengambil tanggung jawab, tapi kadang juga tidak punya pilihan, atau seringnya dilihat bahwa mereka tidak perlu bantuan," imbuh Fita.

Peran aktif ini sering membuat publik berasumsi bahwa para perempuan penggerak tersebut sudah memiliki cukup daya sehingga tidak lagi memerlukan bantuan.

"Padahal sebenarnya justru mereka ada juga yang perlu bantuan. Karena kita berasumsi kalau dia sudah mengambil peran, dia enggak sudah enggak perlu bantuan lagi," ucap Fita.

Pentingnya ruang aman dan kesiapsiagaan ini juga bergema dari daerah pegunungan Pangalengan, Jawa Barat.

Dalam kesempatan yang sama, Dewi Supartini, pekerja perkebunan yang aktif dalam jaringan Women Lead Monitoring (WLM) bersama Komunitas Kalyanamitra, menceritakan realitas masyarakat yang hidup berdampingan dengan potensi bencana alam seperti tanah longsor dan erupsi gunung berapi.

Di wilayah perkebunan tersebut, pemahaman warga mengenai mitigasi bencana awalnya masih sangat minim.

"Saya bergabung dan ikut di WLM itu anggotanya bukan hanya sekedar perempuan, tapi ada juga laki-lakinya. Di situ kita belajar untuk melihat perubahan-perubahan apa yang sudah terjadi setelah pelatihan. Pelatihan yang dilakukan di perkebunan, terus di komite, itu untuk menciptakan ruang aman bagi para pekerja perempuan ataupun laki-laki," cerita Dewi.

Dewi menjelaskan, masyarakat mulai dilatih untuk memetakan risiko serta menyusun rencana mitigasi. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada penyusunan jalur evakuasi, tetapi juga memastikan bahwa kebutuhan spesifik kelompok rentan, seperti tempat berlindung yang aman bagi perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas terakomodasi dengan baik sebelum bencana benar-benar terjadi.

"Mengenai mitigasi bencana waktu pelatihan bersama Kalyanamitra, kita jadi berpengalaman untuk menyusun jalur evakuasi untuk kebutuhan kebutuhan para pengungsi yang khususnya perempuan, anak, serta penyandang disabilitas," tukas Dewi.

Pengalaman dari Dompet Dhuafa dan Komunitas Kalyanamitra Pengalengan menegaskan satu hal, bahwasanya menghadirkan ruang aman dan pemulihan pascabencana tidak bisa dilakukan secara serampangan.

Kepemimpinan perempuan dalam kesiapsiagaan maupun pemulihan krisis adalah kunci untuk mengenali kebutuhan-kebutuhan yang kerap luput dari kacamata umum.

Sudah saatnya semua pihak bergerak bersama, memastikan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya merenovasi bangunan yang runtuh, tetapi juga merawat kesehatan jiwa dan menjamin keselamatan setiap warga di dalamnya.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih