Menuju konten utama

Pocketing di Era Media Sosial: Antara Privasi vs Menyembunyikan

Ketika status "privasi" berubah menjadi alasan untuk menutup-nutupi, di situlah privasi tak lagi jadi perlindungan, melainkan tempat bersembunyi.

Pocketing di Era Media Sosial: Antara Privasi vs Menyembunyikan
Ilustrasi. Getty Images/iStockphoto

diajeng.id - Di era ini, tentu sudah tidak asing ketika orang-orang mengunggah setiap momen yang dilalui ke media sosial, entah itu lewat Instagram Story, WA stories, ataupun membaginya ke TikTok, dan oleh sebab itulah, kini makin terlihat samar perbedaan antara menjaga privasi dengan menyembunyikan pasangan.

Ada orang yang lebih memilih untuk menjalin hubungan secara tenang, tanpa harus pamer foto mesra, tanpa perlu tag akun, dan tanpa validasi publik, demi menjaga kedamaian berdua. Namun, batas antara low-key relationship yang menenangkan dan pocketing yang manipulatif sering kali begitu tipis.

Ketika status "privasi" berubah menjadi alasan untuk menutup-nutupi, di situlah privasi tak lagi jadi perlindungan, melainkan tempat bersembunyi.

Ketika Hubungan Tidak Harus Dipamerkan ke Publik

Tidak semua orang merasa bahwa setiap hubungan perlu diumumkan lewat unggahan foto berdua atau status relationship di media sosial. Bagi Sebagian orang, cinta merupakan urusan personal yang tak membutuhkan pengakuan dari banyak orang. Mereka lebih nyaman menikmati momen bersama tanpa merasa perlu membagikannya kepada pengikut di Instagram atau TikTok.

Pilihan ini kerap disebut low-key relationship. Menurut situs Marriage, istilah ini merujuk pada hubungan yang dijalani secara sederhana dan tidak terlalu diumbar ke publik.

Lalu, ada pula istilah soft-launching, yang dijelaskan artikel "Soft Launch vs Hard Launch: Which Is Right for Your Relationship?" di Marriage, yakni ketika seseorang mulai memberi petunjuk tentang kehadiran pasangan melalui unggahan samar, seperti dua gelas kopi di meja atau tangan seseorang yang muncul di foto, tanpa memperlihatkan identitasnya secara langsung.

Keduanya tidak serta-merta menandakan adanya masalah dalam hubungan. Seseorang mungkin memang menghargai privasi, tidak nyaman menjadi pusat perhatian, atau ingin menikmati masa awal hubungan tanpa campur tangan orang lain.

Dalam situasi tertentu, menjaga hubungan tetap tertutup juga bisa berkaitan dengan keamanan, kondisi keluarga, maupun lingkungan sosial yang belum mendukung.

Persoalannya, apakah keputusan tersebut disepakati bersama atau justru ditentukan sepihak?

Batas Tipis antara Privasi dan Pocketing

Dilansir ReachLink, pocketing atau stashing merupakan perilaku ketika seseorang sengaja menyembunyikan pasangannya dari lingkaran sosial, keluarga, maupun kehidupan publiknya. Perilaku ini dapat terlihat dari keengganan memperkenalkan pasangan kepada teman atau keluarga, menghindari kegiatan sosial bersama, hingga terus menjaga citra seolah masih lajang.

Perbedaan utamanya bukan sekadar ada atau tidaknya foto bersama di media sosial. Privasi memberikan ruang bagi kedua pihak untuk menentukan apa yang ingin dibagikan.

Sebaliknya, pocketing menjadi persoalan ketika salah satu pihak sengaja memisahkan pasangannya dari kehidupan sosialnya tanpa penjelasan yang masuk akal atau kesepakatan bersama.

Contohnya, seseorang tidak pernah mengunggah foto pasangan karena memang jarang membagikan kehidupan pribadinya. Namun, ia tetap memperkenalkan pasangannya kepada teman dekat, bersikap terbuka mengenai status hubungan, dan mau menghadiri acara bersama.

Situasinya berbeda ketika seseorang selalu menghindari pertemuan dengan teman pasangan, meminta pasangannya berpura-pura menjadi teman biasa di depan orang lain, atau menyembunyikan status hubungan agar tetap terlihat lajang.

Jika pola ini berlangsung terus-menerus, maka alasan privasi patut dibicarakan kembali.

Bagaimana Membedakan Pasangan yang Privat dan yang Menyembunyikan?

Untuk memahami perbedaannya, kamu tidak harus langsung menilai pasangan dari aktivitas media sosialnya. Ulasan terbaru dari laman STIR Psychology berjudul "Privacy vs. Secrecy: Understanding the Difference in Healthy Relationships" memberikan beberapa poin pentingnya berikut ini.

Hal pertama, cobalah untuk lebih memperhatikan keterbukaan pasanganmu di luar media sosial. Seseorang yang menjaga privasi belum tentu merahasiakan hubungan dari orang-orang terdekatnya.

Ia mungkin tidak suka mengunggah foto, tetapi tetap mengakui hubungan kalian di kehidupan nyata. Sebaliknya, jika kamu terus-menerus dilarang hadir dalam lingkaran sosialnya, ada baiknya mencari tahu alasannya.

Kedua, lihatlah bagaimana responsnya ketika menjawab pertanyaanmu. Orang yang memiliki batasan privasi cenderung dapat menjelaskan alasannya dengan terbuka. Ia mungkin belum siap mengumumkan hubungan, tetapi bersedia mendengarkan perasaanmu dan mencari jalan tengah.

Jika setiap pertanyaan justru dibalas dengan kemarahan, pengalihan pembicaraan, atau tuduhan bahwa kamu terlalu menuntut, persoalannya mungkin bukan hanya sekadar privasi.

Selanjutnya, kamu pun perlu mengecek apakah kesepakatan berlaku bagimu dan pasangan. Hubungan yang sehat memberi ruang bagi kebutuhan masing-masing.

Jika kamu diminta tidak mengunggah foto berdua, tetapi pasangan bebas menampilkan dirinya seolah tidak memiliki hubungan, ketimpangan tersebut layak dibicarakan.

Tak hanya itu, jangan lupa pula untuk memerhatikan konsistensi perilaku dari pasangan. Tidak adanya unggahan pasangan bukan bukti otomatis bahwa seseorang sedang menyembunyikan hubungan.

Beda artinya jika ia terus menghindari perkenalan, menolak mengakui hubungan, dan selalu memiliki alasan baru ketika diminta menjelaskan, pola tersebut lebih penting untuk diperhatikan daripada satu kejadian saja.

Jadi, Apakah Menjaga Privasi Berarti Tidak Serius?

Jawabannya tentu saja tidak selalu. Keseriusan hubungan tidak bisa diukur hanya dari seberapa sering pasangan mengunggah foto bersama. Ada orang yang sangat terbuka di media sosial, tetapi belum tentu mampu membangun hubungan yang sehat.

Sebaliknya, ada pasangan yang jarang tampil di ruang digital, tetapi memiliki komitmen dan komunikasi yang kuat.

Meski begitu, kebutuhan akan privasi seharusnya tidak membuat salah satu pihak terus merasa disangkal keberadaannya. Jika kamu merasa hubungan sengaja disembunyikan, cobalah membicarakannya secara langsung.

Tanyakan apa yang membuat pasangan belum nyaman mengakui hubungan dan jelaskan bagaimana situasi tersebut memengaruhimu.

Dengarkan penjelasannya, tetapi perhatikan pula apakah ada upaya nyata untuk mencari solusi. Kamu tidak harus menuntut pasangan mengunggah foto mesra setiap minggu. Namun, kamu berhak mengetahui posisi dan arah hubungan yang sedang dijalani.

Pada akhirnya, low-key relationship dan pocketing bisa terlihat serupa dari luar, tetapi memiliki dinamika yang berbeda.

Yang satu dapat menjadi pilihan bersama untuk menjaga ketenangan, sedangkan yang lain berpotensi merusak kepercayaan ketika kerahasiaan dipaksakan secara sepihak.

Sebab, hubungan yang sehat tidak harus menjadi konsumsi publik. Namun, menjaga privasi juga tidak seharusnya mengharuskan seseorang berpura-pura bahwa pasangannya tidak pernah ada.

Artikel lainnya terkait relasi juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih