diajeng.id - Tren seputar relasi asmara semakin beragam. Salah satunya yang cukup sering berseliweran di TikTok selama satu tahun belakangan; tren kencan "Date Them Till You Hate Them". Disebut-sebut kontroversial, sejumlah pihak sepakat bahwa narasi tren ini perlu diwaspadai.
Sesuai namanya, tren ini menganjurkan kita untuk tetap bertahan dalam hubungan yang sudah tidak sehat atau mati rasa sampai muncul rasa benci dan jijik yang mendalam terhadap pasangan.
Seperti dibahas VICE, tren ini pertama kali dicetuskan oleh kreator konten TikTok Meg Neil (@themegneil) melalui video Get Ready With Me (GRWM) yang viral.
Dalam videonya, Meg membagikan strateginya berhasil keluar dari hubungan empat tahun tanpa rasa sakit hati yang mendalam.
Selain Meg, kreator konten lainnya juga turut menyuarakan hal yang serupa, salah satunya adalah Amber Hutton (@ambermayhutton)
Menurut Amber, kita harus mencapai titik jenuh sebelum akhirnya memutuskan melangkah pergi.
"Kamu harus bisa sampai pada titik bahwa dirimu merasa sudah cukup dengan semuanya, hingga tiba saatnya kamu meninggalkan dia," begitu kira-kira pesan yang disampaikan Amber.
Unggahannya pun mendapat banyak tanggapan positif. Banyak pengguna yang mengaku melakukan cara serupa.
Mereka membagikan pengalaman menoleransi hal-hal kecil hingga merasa jijik, mulai dari pesan yang diabaikan hingga hal sepele seperti suara kunyahan dan napas pasangan yang mengganggu.
Bagi para pengikutnya, strategi ini dianggap sebagai bentuk pemrosesan rasa duka (grief processing) di dalam hubungan. Maka, ketika perpisahan akhirnya resmi terjadi, mereka tidak lagi merasa harus terlalu sedih atau banyak menangis.
Sekilas, tren ini dapat memunculkan "sisi positif" berupa mekanisme koping dan pemberdayaan diri. Kita mungkin merasa lebih berkuasa karena dapat melepaskan keterikatan emosional secara bertahap dan melakukan perpisahan tanpa perlu menjadikannya konflik besar.
Tren yang Perlu Diwaspadai
Namun, jika dinilai dari sudut pandang psikologi, pakar menyatakan dengan tegas bahwa tren ini tidak sehat dan berisiko menimbulkan bahaya.
Dilansir dari Cosmopolitan, pakar hubungan Natalia Juarez menyampaikan bahwa, alih-alih menampilkan sisi diri kita yang berdaya, tren ini merupakan"penghindaran yang berkedok pemberdayaan serta bentuk pengabaian atau penelantaran diri sendiri."
Dalam model psikologi hubungan Exit, Voice, Loyalty, Neglect (EVLN), strategi ini dikategorikan sebagai Neglect (penelantaran emosional), pilihan paling merusak yang membiarkan relasi membusuk tanpa penyelesaian.
Dr. Tara Suwinyattichaiporn, seksolog dan akademisi, menjelaskan bahwa emosi negatif yang ditahan berbulan-bulan tidak akan hilang begitu saja. Dalam prosesnya, menahan emosi negatif berisiko memicu disonansi kognitif dan merembet (bleed) sehingga mengganggu aspek kehidupan lain seperti kesehatan, pekerjaan, dan pertemanan.
Selain itu, terapis hubungan Lindsey Brock dan psikolog Dr. Sarah Hensley menambahkan bahwa menahan diri dalam penderitaan demi menumbuhkan rasa benci dapat menekan emosi, memicu kecemasan, merusak rasa percaya diri, serta tidak adil bagi pasangan karena mereka tidak diberi kesempatan untuk berkomunikasi.
"Hal itu tidak adil, karena kamu tidak memberi mereka kesempatan untuk memenuhi kebutuhan dirimu," tambah Hensley.
Fenomena ini, seperti dijelaskan PureWow, sangat mirip dengan quiet quitting dalam dunia kerja yang berakar dari ketakutan akan konfrontasi.
Cara Sehat Mengakhiri Hubungan
Apa alternatif yang lebih sehat ketika kita ingin mengakhiri hubungan?
Yang utama, tentu saja, kita tidak perlu menunggu sampai timbul rasa benci dalam pikiran.
Kita juga tidak perlu mencari dan mengumpulkan bukti-bukti yang membuat kita selama ini sakit hati dan menderita hanya untuk membuktikan bahwa kita harus mengakhiri hubungan tersebut.
Sampaikan alasan ketidakcocokan, tetapkan batasan, dan akhiri hubungan secara dewasa; begitulah cara kita menghormati diri sendiri dan pasangan.
Menghadapi percakapan sulit memang membutuhkan keberanian, tetapi cara ini jauh lebih sehat untuk mental daripada membiarkan emosi membusuk dalam proses yang berlarut-larut.
Artikel lainnya seputar relationship juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih