diajeng.id - Di dunia fesyen, poliester (polyester) dikenal sebagai bahan kain sintetis (buatan manusia) yang tahan kusut dan harganya murah. Dibandingkan kain yang terbuat dari bahan alami seperti katun atau wol, poliester biasanya terasa kurang nyaman di kulit.
Menariknya, istilah "polyester" kini menjadi salah satu ejekan baru yang viral di kalangan Gen Z dari TikTok.
Contohnya, ketika seorang remaja menyebut suatu hal atau orang lain sebagai "polyester", sebutan tersebut tidak merujuk pada jenis pakaian yang mereka kenakan.
Dikutip Mashable, istilah "polyester" mereka pakai sebagai kata ganti untuk melabeli sesuatu yang dianggap murah, diproduksi massal, berkualitas rendah, atau tidak asli alias palsu.
Istilah ini awalnya muncul dari tren "polyester edits" di TikTok sekitar akhir tahun 2025.
Saat itu, para pembuat konten membuat video suntingan karakter pahlawan super secara berlebihan dan cepat dengan efek visual yang sangat padat, sehingga penonton menyebutnya sebagai hasil edit yang murahan dan berkualitas rendah.
Sejak itu, istilah ini kian menyebar hingga ke aspek kehidupan yang lebih luas.
Kamu juga bisa melihat fenomena "polyester" yang kini semakin gampang ditemui, salah satunya adalah oversharing, tetapi dalam bentuk palsu.
Mulai dari "gaya hidup poliester (polyester lifestyle)" milik para influencer media sosial yang memamerkan kemewahan palsu dan menggunakan AI untuk mengerjakan tugas mereka, hubungan asmara yang pura-pura, hingga produk merchandise murah yang dijual secara daring.
Tentu kita tahu, selama ini sudah banyak orang yang menjual produknya dengan cara berlebih-lebihan atau melakukan mis-selling untuk merayu calon pembeli.
Namun, seiring banyaknya peralihan aktivitas dari tatap muka atau luring menjadi daring, situasinya dinilai semakin memburuk.
Seperti penjelasan dalam artikel berjudul "Why "Polyester" Has Gone Viral as a Gen Z Insult" di Psychology Today, kita akan semakin sulit membedakan mana yang benar-benar nyata dan mana yang memang palsu ketika segala hal dilakukan secara daring alih-alih tidak tatap muka langsung.
Akibatnya, kita juga semakin curiga dengan semua yang ditampilkan di depan mata kita.
Riset yang dilakukan terhadap warga AS dari Pew Research Center yang mengutip hasil General Social Survey menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan interpersonal di dalam masyarakat terus merosot, turun dari 46 persen pada tahun 1972 menjadi 34 persen pada tahun 2018.
Sementara pada tahun 2026, Edelman Trust Barometer mengungkapkan mayoritas orang (7 dari 10 orang yang disurvei) merasa bahwa para pemimpin lembaga sengaja menyesatkan mereka.
Di tengah krisis kepercayaan inilah, Gen Z meluncurkan istilah seperti "polyester", bersama dengan ejekan lain seperti "larping" atau "industry plant", sebagai bentuk perlawanan dan ekspresi dari rasa haus yang mendalam akan keaslian (authenticity).
Apa yang Bisa Dipelajari Orang Tua dari Tren Ini?
Bagi orang tua, sangat mudah untuk mengabaikan atau merasa jengkel dengan bahasa gaul (slang) anak muda yang terus berubah. Namun, tren "polyester" ini sebenarnya membawa pesan penting tentang nilai-nilai yang dianut anak-anak kita.
Gen Z adalah generasi yang tumbuh sepenuhnya di dunia digital.
Sejak kecil, mereka terbiasa melihat para pemengaruh memoles setiap detail kehidupan mereka demi mendapatkan pengakuan sosial. Di saat yang sama, mereka juga terus menghadapi tekanan sosial yang menuntut mereka tampil sempurna secara daring.
Ironisnya, tekanan tersebut dapat memicu kecemasan dan perlu sangat hati-hati dalam menyikapinya.
Oleh karena itu, alih-alih bereaksi berlebihan saat anak menggunakan istilah ini, orang tua dapat memanfaatkannya sebagai jalur komunikasi yang positif.
Kita bisa menanyakan kepada anak apa yang menurut mereka terasa palsu dalam kehidupan sehari-hari, baik itu perilaku teman, konten di media sosial, atau bahkan iklan yang mereka lihat.
Melalui diskusi ini, orang tua dapat membantu melatih kemampuan anak untuk memilah mana yang nyata dan mana yang sekadar polesan buatan di dunia yang semakin dipenuhi kepalsuan ini.
Momen diskusi tersebut bisa membekali anak dengan keterampilan hidup yang sangat berharga untuk masa depannya kelak.
Artikel lainnya seputar media sosial juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih