Menuju konten utama

Postpartum Psychosis: Memahami Kondisi dari Kasus Lindsay Clancy

Postpartum psychosis adalah penyakit medis serius, bukan bentuk kegagalan ibu atau kurangnya kasih sayang ibu kepada anaknya.

Postpartum Psychosis: Memahami Kondisi dari Kasus Lindsay Clancy
Header Diajeng Postpartum Psychosis. foto/istockphoto

diajeng.id - Penafian: Artikel ini memuat informasi yang mungkin terasa sensitif bagi sebagian pembaca. Redaksi menyarankan pembaca untuk berhati-hati sebelum membaca artikel ini.

Beberapa tahun lalu, publik Amerika Serikat diguncang oleh kejadian memilukan yang melibatkan Lindsay Clancy, seorang perawat bersalin dan ibu dari tiga anak.

Pada Januari 2023, Lindsay menghilangkan nyawa ketiga anaknya sebelum mencoba mengakhiri hidupnya sendiri.

Dalam persidangan baru-baru ini, seperti dikutip dari BBC, hakim terpaksa menyatakan mistrial (buntu) karena juri tidak berhasil mencapai keputusan bulat. Di satu sisi, jaksa berargumen bahwa Lindsay melakukan tindakannya secara sadar.

Namun, di sisi lain, tim pembela Lindsay menegaskan bahwa kejadian tersebut terjadi akibat gangguan mental berat yang dialami Lindsay, disebut postpartum psychosis.

Kasus Lindsay Clancy membuka mata dunia akan bahaya nyata dari postpartum psychosis, sebuah kondisi kesehatan jiwa maternal yang belum dipahami secara luas.

Apa Itu Postpartum Psychosis?

Laman Parents menyebutkan, postpartum psychosis (PPP) adalah darurat medis psikiatri yang dapat dialami seorang ibu setelah melahirkan.

Berbeda dengan baby blues atau depresi pascamelahirkan (postpartum depression), PPP merupakan kondisi langka yang membuat penderitanya mengalami kehilangan kontak dengan realitas (break from reality).

Kondisi ini diperkirakan terjadi pada 1 hingga 2 dari setiap 1.000 kelahiran (sekitar 0,1 hingga 0,2 persen kelahiran).

PPP memiliki dasar biologis yang kuat. Kemunculannya dipicu oleh perubahan drastis pada hormon dan sistem kekebalan tubuh pascapersalinan, serta faktor genetik atau riwayat gangguan suasana hati (mood disorder).

Postpartum psychosis (PPP) bukan tanda bahwa ibu gagal menjalankan perannya atau kurang menyayangi anak. Kondisi ini merupakan gangguan medis serius yang membutuhkan penanganan segera.

Tanda-Tanda dan Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala postpartum psychosis bisa muncul secara sangat mendadak, terutama pada hari-hari atau minggu-minggu pertama setelah melahirkan.

Salah satu ciri khas PPP adalah sifatnya yang fluktuatif (waxes and wanes). Ibu yang mengalaminya bisa kelihatan tenang, santai, dan relaks pada siang hari, akan tetapi mengalami episode psikotik parah di malam hari.

Beberapa gejala utama yang perlu diwaspadai, yang pertama melansir Cleveland Clinic, adalah delusi; keyakinan kuat ibu tidak sesuai dengan kenyataan. Delusi ini berpusat pada sang bayi, seperti percaya bahwa bayinya berada dalam kondisi marabahaya/terancam atau dianggap sebagai sosok religius.

Tanda berikutnya adalah mengalami halusinasi. Penderita biasanya akan mendengar suara-suara atau melihat hal-hal yang tidak nyata. Kadang-kadang, suara tersebut memberikan perintah yang bisa membahayakan kondisi bayi.

Yang bisa terjadi lainnya adalah perubahan perilaku dan perasaan terdistorsi, seperti kebingungan parah, paranoia, bicara yang tidak teratur, serta rasa gelisah berlebihan.

Selain itu, energinya pun berlebihan dan insomnia parah. Penderita mungkin tidak tidur selama puluhan jam. Kendati begitu, mereka kelihatan memiliki energi yang meluap-luap untuk melakukan berbagai aktivitas.

Tanda awal dari gejala-gejala di atas biasanya muncul sebagai perasaan gelisah, kecemasan ekstrem, iritabilitas tinggi, dan ketidakmampuan untuk tidur lelap.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Penderita PPP kehilangan kesadaran akan realitas yang terjadi. Artinya, mereka tidak menyadari bahwa diri mereka sedang sakit dan tidak mampu meminta pertolongan secara mandiri. Oleh karena itu, peran keluarga dan lingkungan sekitar sangat krusial.

Ketika kita melihat tanda-tanda PPP pada ibu di sekitar kita, perlakukanlah sang ibu sebagai pasien yang perlu penanganan darurat.

Yang paling utama adalah tidak meninggalkan penderita sendirian maupun saat sedang bersama bayinya, guna menjaga keselamatan ibu dan anak.

Kita juga harus tetap tenang, tanpa perlu membantah atau "melawan" penderita PPP. Hindari berdebat tentang delusi yang dipercayai ibu. Tetap ajak bicara dengan tenang agar ibu tidak merasa terancam atau takut.

Selain itu, segera cari bantuan medis. Postpartum psychosis adalah darurat medis. Jangan menunda atau menunggu jadwal kontrol rutin. Segera bawa ibu ke Unit Gawat Darurat (UGD) atau hubungi layanan darurat kesehatan terdekat.

Pentingnya Berkonsultasi dengan Pakar

Yang dialami keluarga Lindsay Clancy merupakan pelajaran berharga bahwa kesehatan mental ibu pascamelahirkan tidak boleh diabaikan atau dianggap sepele.

Rasa takut dihakimi atau stigma sosial sering membuat banyak ibu enggan mengungkapkan rasa cemas dan depresi yang mereka alami.

Apabila kita mengalami sendiri, atau mengenal orang lain yang merasakan gejala depresi, kecemasan berlebih, atau ketidakstabilan emosi setelah melahirkan, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter, psikiater, atau tenaga medis profesional.

Postpartum psychosis dan gangguan mental pascamelahirkan dapat disembuhkan jika dideteksi dan ditangani secara cepat dan tepat.

Artikel terkait lainnya tentang kesehatan mental ibu bisa dibaca di sini.

Catatan: Depresi itu nyata dan bukanlah persoalan sepele, tetapi dapat diatasi. Jika kalian merasakan tendensi untuk menyakiti diri sendiri/ orang lain atau mengakhiri hidup, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN MENTAL atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih