Menuju konten utama

PR Sekolah: Jadi Jembatan Anak Bertanggung Jawab dan Mandiri?

PR buat anak memang punya manfaat untuk memperkuat pembelajarannya di sekolah, tetapi bila diberikan berlebihan justru dapat merugikan.

PR Sekolah: Jadi Jembatan Anak Bertanggung Jawab dan Mandiri?
Header diajeng PR Anak Sekolah. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Bagi banyak orang tua dan siswa, pekerjaan rumah (PR) sekolah kerap dipandang sebagai beban tambahan di luar jam belajar.

Namun, jika dilihat dari sisi lain, PR sebenarnya bisa menjadi sarana penting untuk melatih anak dalam hal disiplin, manajemen waktu, dan tanggung jawab.

Melalui tugas-tugas sederhana, anak belajar bagaimana menyelesaikan sesuatu secara mandiri tanpa harus selalu diawasi guru atau pun orang tua.

Di sinilah PR dapat berfungsi sebagai “jembatan” yang membantu mereka menumbuhkan kemandirian sejak dini.

Ketika anak berusaha menyelesaikan PR, mereka juga belajar untuk menata jadwal harian agar tau kapan harus belajar, kapan bisa bermain, dan kapan waktu beristirahat.

Proses kecil ini, jika dilakukan terus-menerus, akan membentuk kebiasaan positif dalam mengatur prioritas.

Mengerjakan PR tidak hanya soal menuntaskan soal matematika atau menulis esai, tetapi juga melatih kemampuan anak dalam mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap kewajibannya.

Pada waktu sama, kita tidak bisa menutup mata bahwa PR juga sering menimbulkan sisi gelapnya sendiri.

Tekanan untuk segera menyelesaikan tugas kerap membuat anak merasa tertekan, bahkan menimbulkan konflik dengan orang tua saat belajar di rumah.

Alih-alih mempererat hubungan keluarga, PR justru bisa menjadi pemicu ketegangan yang mengurangi waktu santai bersama.

Lantas, bagaimana kita bisa menempatkan PR sebagai sarana pembelajaran yang seimbang yang tidak hanya mendidik anak menjadi mandiri, tetapi juga tetap menjaga kebahagiaan mereka di rumah?

Apakah PR Sekolah Efektif untuk Anak?

Umum diketahui bahwa saat ini banyak sekolah masih memberikan PR, dimulai sejak kelas awal diterima masuk sekolah.

Laman Educational Neuroscience menuliskan, masih banyak orang berpendapat bahwa PR membantu memperkuat pembelajaran, melatih kemandirian, mengembangkan keterampilan hidup, dan memberikan hasil akademik yang lebih baik.

Namun, bagi sebagian orang, pekerjaan rumah (PR) dianggap sebagai beban tambahan yang mengganggu waktu bermain anak.

Para guru biasanya memberikan PR kepada anak didiknya melalui buku panduan Lembar Kerja Siswa (LKS) atau di situs web, beberapa guru bahkan meminta orang tua ikut menandatangani catatan PR anak.

Pertanyaan pun muncul di benak banyak orang tua: kapan waktu yang tepat untuk mengerjakan PR, dan bagaimana cara agar PR benar-benar bermanfaat?

Tujuan utama PR sebenarnya bukan sekadar menambah tumpukan tugas.

Sebuah penelitian berjudul "Improving Students' Learning With Effective Learning Techniques: Promising Directions From Cognitive and Educational Psychology" yang dipublikasikan 2013 silam menekankan bahwa PR bisa menjadi wadah bagi anak untuk berlatih strategi belajar yang efektif, seperti “latihan mengingat” dan “pengulangan dengan jarak waktu.”

Dengan mengulang materi tanpa langsung membuka catatan, anak terdorong untuk mengaktifkan ingatan mereka, sehingga pengetahuan lebih melekat di jangka panjang.

Ketika PR dirancang dengan pendekatan semacam ini, ia bukan lagi sekadar formalitas, melainkan latihan yang melatih otak anak untuk belajar lebih mandiri dan terstruktur.

Di sisi lain, peran orang tua dalam mendampingi PR kerap menjadi pedang bermata dua. Keterlibatan yang berlebihan bisa berubah menjadi kontrol yang membuat anak tertekan, bahkan memicu konflik di rumah.

Sebaliknya, pendampingan yang tepat justru mampu meningkatkan motivasi dan prestasi. Kuncinya ada pada sikap, di mana orang tua sebaiknya menjadi pembimbing, bukan pengendali.

Memberikan ruang bagi anak untuk mencoba, memberi waktu untuk berpikir, serta menghargai perspektif mereka akan jauh lebih efektif dibandingkan mengawasi terus-menerus.

Dengan begitu, PR bisa menjadi jembatan yang tidak hanya mengasah kemampuan akademik, tetapi juga membangun rasa tanggung jawab dan kemandirian.

Meski semua anak mungkin mengeluh saat mendengar kata "PR", dampaknya bisa berbeda-beda bagi setiap kelompok.

Bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, PR kadang bukan sekadar gangguan, melainkan beban tambahan di tengah kondisi hidup yang sudah penuh tantangan. Namun ternyata, anak-anak dari keluarga berkecukupan pun bisa merasakan tekanan yang sama.

Penelitian tentang PR

Menurut studi oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) di sekolah-sekolah berprestasi di California yang telah dipublikasikan oleh CNN pada 2014 silam, lebih dari separuh siswa menganggap PR sebagai sumber stres utama dalam hidup mereka.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: seberapa banyak PR yang sebenarnya bermanfaat?

Pakar pendidikan menyarankan aturan PR adalah “10 menit per tingkat kelas.” Artinya, anak kelas 1 cukup 10 menit per hari, kelas 6 sekitar satu jam, dan seterusnya.

Namun kenyataannya, banyak siswa menghabiskan jauh lebih banyak waktu, bahkan rata-rata hampir 7 jam per minggu.

Padahal, penelitian menunjukkan bahwa setelah empat jam PR per minggu, tambahan waktu belajar tidak memberikan dampak signifikan, malah berisiko menimbulkan stres dan masalah kesehatan.

Dikutip laman Online Degrees Sandiego, sejarah mencatat, pandangan publik terhadap PR memang selalu menuai pro-kontra.

PR pernah dianggap sebagai bentuk “pekerja anak” pada tahun 1930-an, lalu dijadikan senjata pendidikan pada era Perang Dingin, hingga kini tetap dipraktikkan hampir di semua sekolah.

Kenyataannya, PR memang punya manfaat untuk memperkuat pembelajaran, tetapi bila berlebihan justru merugikan.

Oleh karena itu, penting bagi sekolah dan orang tua untuk mencari titik tengah, menjadikan PR sebagai sarana belajar yang efektif, tanpa mengorbankan keseimbangan hidup dan kebahagiaan anak.

Menariknya, efektivitas PR juga berbeda tergantung usia anak.

Penelitian menunjukkan bahwa PR lebih banyak memberi manfaat akademis pada siswa SMP dan SMA, sementara pada siswa SD dampaknya relatif kecil.

Dilansir laman Psychology Today, sebuah studi di Romania menemukan manfaat dari PR menulis singkat pada siswa SD, tetapi tidak untuk matematika. Bahkan, hasil positif itu hanya muncul ketika PR diberikan dalam jumlah sedang, sekitar 20 menit saja.

Tentu saja, tujuan PR tidak hanya soal akademik. Tugas rumah bisa membantu anak membangun tanggung jawab, manajemen waktu, dan ketekunan. PR juga dapat menjadi jembatan keterlibatan orang tua dengan sekolah.

Namun, ketika jumlahnya berlebihan, dampaknya justru berbalik, anak kehilangan kesempatan bermain bebas, berkurang aktivitas fisik, hingga berisiko mengalami masalah kesehatan seperti kelebihan berat badan.

Lalu, berapa jumlah PR yang ideal?

Peneliti menyarankan tidak lebih dari 1,5 hingga 2,5 jam per malam untuk siswa SMA, maksimal 1 jam untuk siswa SMP, dan sangat minimal untuk siswa SD cukup untuk melatih regulasi diri dan kemandirian.

Para peneliti sepakat bahwa PR bisa bermanfaat bila porsinya pas, tetapi ketika berlebihan, justru merugikan perkembangan anak.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih