diajeng.id - Sebagian dari kita suka memulai aktivitas setiap pagi dengan memilih sepatu tanpa berpikir panjang.
Padahal, berdasarkan temuan psikologi tahun 2012 yang dilakukan American Psychological Association (APA), fungsi sepatu bukan sekadar alas kaki atau aksesori untuk bersolek. Sepatu ternyata bisa jadi petunjuk tentang cara kita memandang diri sendiri, tingkat kenyamanan yang diprioritaskan, hingga bagaimana kita ingin dilihat oleh orang lain.
Dalam perspektif psikologis dan filosofis, alas kaki bahkan dapat berfungsi sebagai fondasi simbolis bagi identitas manusia serta menentukan sejauh mana kita dapat menjelajahi dunia di sekitar.
Kaitan antara Sepatu dan Kepercayaan Diri
Penelitian dari University of Kansas mengungkapkan bahwa kita sebenarnya dapat menebak ciri kepribadian seperti stabilitas emosional, tingkat pendapatan, hingga usia seseorang dengan akurasi di atas kebetulan hanya dengan mengamati sepatu yang dikenakannya.
Selain itu, konsep enclothed cognition yang diperkenalkan oleh psikolog Hajo Adam dan Adam Galinsky menunjukkan bahwa yang kita kenakan, seperti jenis pakaian sampai alas kaki, dapat memengaruhi cara berpikir, perasaan, dan perilaku kita secara langsung.
Ketika kita mengenakan sepatu hak tinggi (heels) atau sepatu formal yang terstruktur, pikiran dan tubuh merespons simbol ketegasan serta profesionalisme tersebut. Sepatu jenis ini memicu mode performa, memberikan dorongan kepercayaan diri, dan membuat pikiran merasa lebih fokus serta sigap (switched on).
Sebaliknya, mereka yang lebih menyukai sneakers atau pakaian santai cenderung memiliki sifat yang lebih ramah (agreeable), relaks, dan mengutamakan kepraktisan.
Namun, apakah kita bisa menilai kepribadian orang lain secara mutlak hanya dari sepatunya?
Pilihan alas kaki lebih merupakan bentuk ekspresi perilaku yang dinamis, yang dibentuk oleh suasana hati, budaya, dan konteks kegiatan sehari-hari.
Selain kepribadian, ada banyak hal lain yang dapat kita pelajari dari sepatu yang dipakai orang lain, misalnya pemisahan batas antara ruang pribadi dan sosial (seperti pengguna sandal yang membedakan kenyamanan rumah dari performa publik) serta pilihan warna dan merek sebagai sarana penyesuaian identitas dan ekspresi diri.
Hubungan Pilihan Sepatu dengan Kesehatan
Di samping aspek psikologis, investasi pada sepatu yang berkualitas juga kerap menjadi topik pembahasan menarik karena korelasinya dengan kesehatan.
Secara fisik, berjalan di atas aspal panas, kerikil tajam, atau pecahan kaca tanpa perlindungan memadai dapat membahayakan keselamatan dan menimbulkan rasa sakit.
Tanpa sepatu yang memadai, perhatian kita hanya akan terkuras untuk menghindari rasa sakit fisik di setiap langkah.
Pilihan sepatu yang tidak nyaman atau sempit juga dapat membatasi kebebasan gerak serta merusak kenyamanan kaki sendiri.
Pada akhirnya, sepatu bukan sekadar pilihan fesyen atau urusan gaya hidup. Memilih sepatu berkualitas artinya kita juga berinvestasi pada kesehatan fisik, kelancaran mobilitas, dan kebebasan untuk melangkah dengan penuh percaya diri. Bagaimana menurutmu?
Artikel lainnya seputar gaya hidup juga bisa dibaca di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih