Menuju konten utama

Serial HBO Euphoria, Kritik Sosial atau Sekadar Sensasi?

Lewat karakter utama Rue Bennett yang diperankan oleh Zendaya, Euphoria mengajak kita menyelami dinamika kelam remaja modern Amerika yang sarat kejutan.

Serial HBO Euphoria, Kritik Sosial atau Sekadar Sensasi?
Header Diajeng HBO Euforia. tirto.id/IMDb

diajeng.id - Serial Euphoria dari HBO berhasil mencuri perhatian sejak musim pertamanya tayang tahun 2019 silam dengan menghadirkan potret kehidupan remaja modern Amerika yang diwarnai dinamika kelam dan penuh kejutan menyesakkan.

Lewat karakter utama Rue Bennett (diperankan oleh Zendaya), seorang remaja 17 tahun yang berjuang melawan kecanduan obat-obatan dan bergelut dengan kesehatan mentalnya, kita diajak menyelami dunia remaja yang penuh luka, pencarian jati diri yang panjang, dan kelindan relasi sosial yang kompleks.

Upaya Rue untuk terbebas dari obat-obatan tidak semudah itu. Kisah Rue semakin rumit seiring dia menjalin pertemanan dengan Jules (Hunter Schafer) dan tokoh-tokoh lainnya, Nate (Jacob Elordi), Cassie (Sydney Sweeney), Maddy (Alexa Demie), hingga Fezco (Angus Cloud).

Konflik yang awalnya personal jadi beririsan dan saling terhubung dengan tokoh lain sehingga membentuk dinamika relasi yang intens, tak hanya tentang isu kecanduan obat-obatan, tetapi juga realitas menyakitkan terkait kekerasan seksual.

Memasuki musim kedua yang rilis pada 2022, narasi Euhopria mulai bergeser menjadi lebih kompleks dan semakin emosional. Setiap karakter tokoh tidak lagi sekadar diperkenalkan, tetapi mulai disorot lebih dalam lantaran masing-masing dihadapkan pada sederet konsekuensi atas pilihan-pilihan yang acap kali diambil tanpa pertimbangan matang.

Rue dikisahkan kembali terjerat dalam adiksi obat-obatan, bahkan sampai terlibat dalam pengedaran obat-obatan ilegal. Relasi yang Rue jalin dengan teman-temannya pun semakin sarat gesekan, dari kisah cinta yang penuh luka hingga persahabatan yang retak yang melibatkan pergulatan batin berat.

Pada April-Mei 2026 lalu, Euphoria merilis musim ketiganya dengan inti cerita lebih ekstrem dan gelap daripada musim-musim sebelumnya. Di finale season ini, cerita dibuka dengan loncatan waktu yang memperlihatkan fase hidup dewasa para tokoh yang semakin kacau.

Alur cerita bergeser dari drama remaja menjadi realitas dewasa muda yang lebih keras, dipenuhi kriminalitas, prostitusi, pengedaran narkoba, dan berbagai bentuk kekerasan. Kesemuanya tak lain adalah konsekuensi dari pilihan hidup Rue dan teman-temannya dari masa lalu.

Meskipun konflik antara Maddie, Cassie, dan Nate cukup mendapatkan porsi dalam cerita, fokus utama serial ini tetap terletak pada Rue. Rue semakin terjerumus dalam lingkaran narkoba. Meski terus berupaya mencari jalan keluar dan penebusan utangnya pada teman-temannya, Rue selalu gagal lepas dari situasi yang hanya menyeretnya kembali ke lubang yang sama.

Klimaks Euphoria ditutup dengan kejadian-kejadian tragis, termasuk kematian, yang tidak bisa dipisahkan dari destruktifnya dampak konsumsi obat-obatan terlarang.

Di balik sambutannya yang meriah, Euphoria musim ketiga menuai banyak kritik karena dianggap bergeser dari potret remaja yang kompleks menjadi narasi yang lebih gelap, provokatif, dan kehilangan arah.

Musim terakhir serial remaja ini dikritik lantaran terlalu berfokus pada seks, narkoba, dan kekerasan tanpa diimbangi kedalaman cerita yang kuat. Alih-alih mengembangkan karakter secara utuh, alur cerita cenderung mengejar kejutan bombastis demi menarik perhatian.

Salah satu kritik paling tajam mengarah pada cara serial ini menggambarkan dinamika gender kontemporer.

Banyak yang menilai bahwa karakter perempuan di musim terakhir ini semakin terjebak dalam pola relasi yang problematik; direduksi menjadi objek seksual, terlibat dalam relasi yang timpang, atau digambarkan melalui lensa fantasi misoginis yang dangkal.

Fenomena seperti “sugar baby” (Jules), OnlyFans (Cassie), hingga peran perempuan sebagai “tradwife” kurang dieksplorasi secara kritis. Pengalaman-pengalaman tersebut cenderung dipertontonkan sebagai elemen hiburan sehingga seolah-olah mereproduksi cara pandang misoginis yang berkembang di budaya digital saat ini.

Di sisi lain, kritik juga menyoroti bagaimana serial ini berupaya menangkap realitas zaman, khususnya dalam konteks “attention economy”, yaitu ketika perhatian menjadi komoditas utama dalam menghasilkan uang. Sayangnya, alih-alih menjadi refleksi sosial yang tajam, Euphoria terjebak sebagai bagian dari “attention economy” itu sendiri.

Euphoria berusaha keras mengkritik eksploitasi dan tekanan dalam kehidupan kalangan muda Amerika, tetapi pada saat yang sama juga berupaya memanfaatkan berbagai bentuk ekstremitas dalam ceritanya sebagai daya tarik demi mempertahankan popularitas serial.

Di balik upayanya untuk menguak realitas keras kehidupan anak muda Amerika, Euphoria tampaknya masih belum berhasil menghadirkan kritik sosial yang benar-benar matang.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Risa Fajar Kusuma

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Risa Fajar Kusuma
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih