Menuju konten utama

Saat Karya Seni Bicara tentang Kekerasan Domestik

Dari seniman grafiti Banksy sampai performance artist Ana Mendieta, selalu ada cara untuk mengkritik dan melawan kekerasan lewat ekspresi seni.

Saat Karya Seni Bicara tentang Kekerasan Domestik
Header diajeng Karya Seni KDRT. FOTO/istockphoto

diajeng.id - Isu Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan masalah serius dari balik pintu ruang privat yang tertutup rapat sehingga mudah lolos dari perhatian publik.

Namun, di tangan seniman, realitas KDRT yang tertutup berhasil diolah dan dipresentasikan sedemikian rupa sehingga menjadi karya seni yang mencerminkan kenyataan sosial.

Melalui berbagai medium, para pekerja seni menuangkan kreativitas dan isi hatinya. Selain edukasi publik dan ekspresi protes terhadap perubahan sistemik, mahakarya mereka juga menjadi bentuk penghormatan kepada para korban dan penyintas kekerasan domestik.

Siapa saja seniman yang pernah membuat karya bertema KDRT?

5 Seniman yang Pernah Berkarya tentang Domestic Violence

1. Banksy: Pesan Valentine yang Menampar

Saat perayaan hari Valentine tahun 2023, seniman jalanan anonym dunia, Banksy, mempersembahkan karya terbarunya di Margate, Inggris dengan judul "Valentine's Day Mascara".

Karya tersebut berupa mural grafiti yang menggambarkan seorang ibu rumah tangga era 1950-an bergaun kotak-kotak rapi sedang memakai celemek dan sarung tangan pembersih berwarna kuning di dapur sambil tersenyum ke arah yang melihatnya.

Menariknya, jika dilihat lebih detail, perempuan tersebut ternyata bermata lebam alias bengkak dan ada giginya yang copot, menyiratkan ia mengalami kekerasan fisik.

Banksy yang melukiskan karyanya di sisi sebuah bangunan dengan tambahan objek lemari pendingin juga menggambar kaki laki-laki yang terlihat mencuat keluar, seolah-olah perempuan itu baru saja mendorong sang pasangannya ke lemari es.

Dilansir NPR, tujuan utama dari karyanya ini adalah untuk lebih meningkatkan kesadaran akan kekerasan terhadap perempuan, bahkan di momen yang penuh kasih sayang, hari Valentine.

Banksy juga menyoroti tangguhnya korban menghadapi kekerasan di balik penampilannya yang rapi.

2. Wilma Woolf: Mendokumentasikan Kekerasan dalam Angka

Seniman Wilma Woolf menghadirkan instalasi yang sangat menyentuh dan mendalam berjudul "Domestic". Karya ini mendokumentasikan semua perempuan yang dibunuh di Inggris karena kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki sejak tahun 2013.

Dipersembahkan melalui delapan piring makan yang ditata di atas meja kaca hitam obsidian, pada setiap piring terdapat data berupa nama korban, hubungan dengan pelaku, dan cara kematiannya yang dikomunikasikan melalui bahasa visual ikon khusus.

Situs Wilma Works menuliskan, Woolf merancang meja tersebut sebagai furnitur yang reflektif, sehingga penonton yang membungkuk untuk membaca piring akan melihat wajah mereka sendiri, mengingatkan bahwa KDRT bisa menimpa siapa saja tanpa memandang usia atau kelas sosial.

Tujuannya untuk mengenang setiap perempuan yang kehilangan nyawa secara sia-sia dan untuk menyoroti kegagalan sistemik lembaga dalam menangani pelanggaran hak asasi manusia ini.

Melalui riset yang mendalam, Woolf ingin pengunjungnya memahami kejahatan ini sebagai satu rangkaian peristiwa yang terus-menerus, bukan sekadar insiden yang tidak bisa dihindari.

3. Ana Mendieta: Pengalaman Personal Lewat Kritik Sosial

Mendieta dikenal luas karena karyanya yang sering mengeksplorasi tubuh perempuan dan kekerasan.

Untitled (Glass on Body Imprints-Face) (1972) merupakan salah satu karyanya yang sering dikaitkan dengan isu domestic violence. Karya ini menyuguhkan penampilan Mendieta yang menekan wajahnya ke permukaan kaca hingga mengalami distorsi.

Saat pertunjukan itu berlangsung, Mendieta seolah-olah ingin menunjukkan citra tubuh perempuan yang tampak tertekan, terluka, dan kehilangan identitas visual, sekaligus mengkritik cara tubuh perempuan kerap menjadi objek kekerasan dan kontrol.

Melalui karya-karya awalnya, Ana Mendieta bertujuan membangkitkan kesadaran publik terhadap pengalaman perempuan yang mengalami kekerasan, baik secara fisik maupun psikologis.

Mendieta menggunakan tubuhnya sendiri sebagai medium artistik untuk memperlihatkan penderitaan yang sering tersembunyi di ruang domestik, sekaligus mempertanyakan bagaimana identitas, gender, dan relasi kuasa membentuk pengalaman perempuan dalam masyarakat.

Menurut laman moma.org, narasi ini menjadi bagian dari praktik seni Mendieta yang menghubungkan pengalaman personal dengan kritik sosial yang lebih luas.

4. Marcelo Toledo: Mengubah Luka Menjadi Keindahan

Seniman asal Argentina, Marcelo Toledo menciptakan koleksi 14 patung logam dalam pameran bertemakan "Detrás de las Paredes" (Di Balik Pintu Tertutup).

Patung-patung ini dibuat dari bahan seperti kuningan dan tembaga untuk meniru tekstur dan penampakan bekas luka fisik yang dialami oleh para penyintas kekerasan berbasis gender.

Toledo bekerja sama dengan fotografer dan para penyintas, seperti Karina Abregú yang menderita luka bakar parah, untuk memetakan luka mereka ke dalam karya seni.

Karya yang dibuat oleh Toledo sebagai sarana untuk menyalurkan penderitaan para korban menjadi sesuatu yang indah dan bermakna. Judul pamerannya menyindir kecenderungan korban untuk menyembunyikan luka mereka dan berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Menurut BBC, karyanya ini terinspirasi oleh gerakan feminis Ni Una Menos, di mana Toledo ingin patung-patungnya menjadi suara bagi mereka yang selama ini dibungkam dan mendorong masyarakat untuk berhenti menoleransi pelecehan.

5. Sukanya Mani: Narasi Kertas dan Bayang-bayang

Seniman interdisipliner yang berbasis di St. Louis, Sukanya Mani, menciptakan pameran berjudul "Weight of Shadows" yang merupakan bagian dari proyek kampanye kesadaran yang lebih luas bernama The Beside Between Beyond Project.

Melansir Regional Arts Commission of St. Louis (RACSTL), Mani menggunakan material kertas secara simbolis untuk menciptakan karya abstrak yang terinspirasi dari kisah-kisah nyata para penyintas KDRT, khususnya di kalangan populasi imigran dan pengungsi.

Bagi Mani, kertas memiliki makna krusial; dokumen imigrasi atau paspor sering kali digunakan oleh pelaku kekerasan untuk memegang kendali atas korbannya. Tujuan dari karya Mani adalah untuk menyoroti hambatan budaya, hukum, dan sosial yang unik bagi kaum imigran.

Dengan mengubah cerita-cerita trauma menjadi seni abstrak yang penuh hormat, ia berharap dapat memberdayakan para penyintas dan menginspirasi orang lain untuk berani keluar dari situasi tersebut.

Lewat karya-karya para seniman di atas, setidaknya mengingatkan kita bahwa seni bukan hanya tentang estetika, tetapi juga tentang keberanian untuk menyuarakan kebenaran yang tidak nyaman dan memberikan ruang bagi penyembuhan serta perubahan sosial.

Artikel lainnya seputar kekerasan domestik juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait SENI atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih