Menuju konten utama

Trauma Bonding dan Paradoks Ketabahan Semu

Mengapa sebagian orang bisa diam, bahkan tetap terlihat tenang, meski berada dalam hubungan abusif?

Trauma Bonding dan Paradoks Ketabahan Semu
Header diajeng Trauma Bonding. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Ada kalanya dalam suatu hubungan, kita menyaksikan kontradiksi: satu pihak terlihat begitu tenang bahkan terlihat penuh kebaikan, meski sedang diperlakukan tidak adil atau disakiti.

Misalnya, seorang istri yang mengetahui pasangannya berselingkuh tetapi masih bisa berinteraksi dengan ramah, atau korban kekerasan yang memutuskan untuk kembali kepada pelaku.

Dari kacamata kita sebagai orang luar, perilaku mereka terkesan sulit dipahami, seolah-olah orang tersebut “rela” diperlakukan tidak adil.

Pertanyaannya, mengapa seseorang bisa begitu sabar atau tetap setia di tengah luka yang dalam?

Hal ini berkaitan dengan trauma bonding, yaitu ikatan emosional yang terbentuk dari siklus sakit dan harapan.

Ikatan emosional trauma bonding terbentuk ketika hubungan dipenuhi dengan dinamika yang menyakitkan, tetapi juga diwarnai oleh momen-momen kehangatan, permintaan maaf, atau janji perubahan.

Perpaduan rasa sakit dan sesekali harapan menciptakan lingkaran yang membuat korban sulit melepaskan diri.

Di satu sisi, ada luka. Di sisi lain, ada ikatan yang membuat mereka merasa “nyaman” meski sebenarnya sedang terjebak.

Apa Itu Trauma Bonding?

Dikutip laman VeryWell Mind, trauma bonding adalah keterikatan yang dirasakan korban kekerasan terhadap pelaku kekerasan, khususnya dalam hubungan dengan pola kekerasan yang berulang.

Berlawanan dengan istilah yang populer, trauma bonding tidak berarti kedua orang tersebut terikat oleh trauma yang sama.

Trauma bonding sejati tercipta karena siklus kekerasan dan penguatan positif.

Setelah setiap kejadian kekerasan, pelaku biasanya akan menyatakan cinta, penyesalan, dan dengan cara lain berusaha membuat hubungan terasa aman dan dibutuhkan oleh korban kekerasan.

Bersikap tenang dalam situasi seperti ini bukan berarti seseorang tidak terluka, melainkan bisa menjadi cara bertahan hidup secara psikologis.

Rasa takut kehilangan, keinginan untuk menjaga hubungan, hingga harapan bahwa keadaan akan membaik, semuanya bisa mendorong korban untuk menahan diri dan tetap berperilaku seolah-olah segala hal berjalan baik-baik saja.

Ivy Kwong LMFT, seorang terapis yang berspesialisasi dalam penyembuhan trauma, menjelaskan bahwa trauma bonding berkembang dalam hubungan di mana terdapat ketidakseimbangan kekuatan dan siklus penghargaan dan hukuman.

"Pelaku kekerasan berada dalam posisi berkuasa atas korban kekerasan dan bergantian antara menyakiti dan menenangkan mereka," ujar Kwong.

Trauma bonding adalah salah satu alasan mengapa meninggalkan situasi kekerasan dapat terasa membingungkan dan membebani.

Ikatan ini melibatkan perasaan positif dan/atau penuh kasih terhadap pelaku kekerasan, membuat korban kekerasan merasa terikat dan bergantung pada pelaku kekerasan.

"Inilah yang membuat fenomena ini kompleks, karena dari luar tampak seperti pilihan sadar, padahal sering kali terjadi karena ikatan emosional yang begitu kuat dan sulit dilepaskan," jelas Kwong.

Tanda-Tanda Trauma Bonding

Tidak semua situasi kekerasan menghasilkan trauma bonding. Mungkin sebagian orang yang pernah merasakannya masih ragu, apakah istilah ini bisa berlaku bagi dirinya.

Jadi, apa saja tanda-tanda trauma bonding?

Menurut Healthline, trauma bonding dapat terlihat sedikit berbeda tergantung pada jenis hubungan, tetapi cenderung memiliki dua karakteristik utama.

1. Sifat siklus

Ikatan ini terbentuk dari pola yang berulang, sakit, lalu manis, lalu sakit lagi.

Jika sebuah hubungan hanya berisi kekerasan tanpa jeda, mungkin akan lebih mudah bagi korban untuk bergegas pergi.

Namun begitu, dalam relasi yang abusif, pelaku sering kali menyelipkan momen kebaikan, antara lain memberi hadiah, berkata manis, atau memperlakukan korban seolah korban adalah segalanya.

Tahap tersebut acap kali disebut love bombing.

Perlahan, kenangan manis itu menutupi luka-luka yang sudah ada.

Rasa percaya mulai tumbuh kembali, meski bayangan kekerasan belum hilang. Siklus itu pun berulang, sehingga korban terjebak lagi di dalam lingkarannya.

Pada akhirnya, cinta mulai menutupi rasa takut akan kekerasan lebih lanjut.

Saat korban perlahan-lahan mendapatkan kembali rasa percaya, ia mungkin mengabaikan atau menekan ingatan tentang perilaku masa lalu mereka. Siklus tersebut pun dimulai lagi.

2. Ketidakseimbangan kekuatan

Trauma bonding juga bertumpu pada adanya kendali yang timpang.

Menurut riset yang diterbitkan di jurnal Violence Against Women (2024), pelaku sering kali memegang kekuasaan lebih besar sehingga membuat korban merasa tidak berdaya atau bahkan lupa bagaimana cara melawan dan melepaskan diri.

Bahkan, ketika korban berhasil keluar dari relasi tersebut, ikatan yang telah terbentuk pun tidak serta-merta lenyap.

Ada rasa kosong, kehilangan arah, bahkan kerinduan yang membingungkan. Inilah yang membuat banyak korban terdorong untuk kembali pada relasi yang beracun tersebut, karena rasa sakit dan kasih yang bercampur sudah menjadi pola yang “biasa” bagi mereka.

Trauma yang tertinggal pun bisa bertahan lama.

Korban akan kesulitan berhenti memikirkan orang yang menyakitinya, atau merasa ingin memberi kesempatan lagi pada pelaku. Pada waktu sama, akal sehat tahu risikonya.

Selain dua tanda utama di atas, beberapa tanda lainnya meliputi:

  • Korban kekerasan menutupi atau mencari-cari alasan kepada orang lain atas perilaku pelaku kekerasan
  • Korban kekerasan berbohong kepada teman atau keluarga tentang kekerasan yang dialami
  • Korban merasa tidak nyaman atau tidak mampu meninggalkan situasi kekerasan
  • Korban kekerasan menganggap kekerasan tersebut sebagai kesalahan mereka
  • Kekerasan mengikuti siklus (pelaku mencoba menebus kesalahan setelah kejadian kekerasan)
  • Pelaku kekerasan berjanji akan berubah tetapi tidak pernah melakukannya
  • Pelaku kekerasan mengendalikan korban (manipulasi atau gaslighting)
  • Pelaku kekerasan mengisolasi korban dari teman dan keluarga
  • Pelaku kekerasan mendapatkan dukungan dari teman dan keluarga
  • Korban terus memercayai pelaku
Lalu, bagaimana cara korban bisa keluar dari kondisi tersebut dan tidak menjalani lagi hubungan yang abusif?

Cara Menghindari Terjebak Trauma Bonding

Dilansir Psychology Today, sangat sulit untuk mencoba mengubah dinamika yang mendasari hubungan yang abusif.

Oleh karena itu, cara efektif untuk melepaskan diri dari trauma bonding adalah dengan memutuskan untuk tidak berhubungan sama sekali atau mengurangi kontak dengan pelaku.

Proses ini bisa menjadi rumit dan membutuhkan pemikiran mendalam serta dukungan yang kuat.

Salah satunya adalah melakukan konsultasi dengan seorang profesional kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater. Mereka dapat membantu korban untuk melewati proses tersebut.

Upaya lainnya bisa dilakukan melalui komunitas, seperti grup pendukung atau perlindunga korban kekerasan.

Masih melansir artikel lainnya dari Psychology Today, keluar dari trauma bonding bukanlah perjalanan yang singkat ataupun mudah.

Diperlukan keberanian luar biasa untuk menyadari bahwa cinta sejati tidak seharusnya membuat seseorang merasa kecil, takut, atau kehilangan diri sendiri.

Salah satu langkah penting adalah mengubah cara pandang, berhenti menunggu pengakuan dari orang yang terus menyakiti, dan mulai belajar memberi kasih sayang pada diri sendiri.

Mencintai diri sendiri berarti menyadari bahwa kita layak diperlakukan dengan hormat, layak merasa aman, dan layak memiliki hubungan yang sehat.

Dari sana, perlahan, kekuatan untuk melepaskan diri bisa tumbuh. Dalam proses ini, dukungan orang terdekat atau bantuan profesional seperti terapis bisa menjadi pijakan penting agar langkah terasa lebih ringan.

Trauma bonding memang kuat, tetapi ia bukan sesuatu yang mustahil untuk dilepaskan.

Dengan kesadaran, cinta pada diri sendiri, dan dukungan yang tepat, setiap orang punya kesempatan untuk membangun kembali hidupnya, bukan di atas luka, tetapi di atas harapan dan keberanian baru.

Baca juga artikel terkait TRAUMA atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih