diajeng.id - Sebagian besar orang tua tentu merasakan bahwa kehadiran smartphone atau game console (konsol permainan) semakin menjauhkan anak dan remaja dari aktivitas fisik dan interaksi keluarga.
Kita mungkin sering menyaksikan tatapan kosong mereka yang terpaku pada layar, komunikasi yang meredup, dan eskalasi konflik setiap kali ada permintaan agar anak meletakkan gawainya.
Kecanduan digital pada anak dan remaja adalah tantangan modern yang kompleks. Alih-alih sekadar persoalan disiplin, masalah ini juga terkait dengan pergulatan neurobiologis dan kebutuhan koneksi yang salah arah.
Bagaimana orang tua bisa menarik kembali perhatian anak atau remajanya dari pandangan mereka di layar, atau setidaknya menyeimbangkannya dengan aktivitas fisik dan sosial?
Selain itu, apa yang bisa dilakukan untuk membangun kembali koneksi emosional yang terputus oleh dunia digital?
Trik Orang Tua Atasi Kecanduan Gawai pada Anak
Melansir hasil studi di jurnal Computers in Human Behavior (2021), orang tua yang menggunakan smartphone secara berlebihan cenderung kesulitan mengatur penggunaan smartphone pada anaknya sendiri.
Kesulitan tersebut kelak memengaruhi konflik-konflik terkait penggunaan teknologi di dalam keluarga, terlepas orang tua menganggap penggunaan smartphone berbahaya maupun tidak.
Sementara menurut artikel di Journal of Behavioral Addictions (2019), upaya orang tua untuk mengontrol penggunaan gawai anak tak harus dimulai dari larangan, melainkan dari iklim keluarga yang hangat.
Kemandirian remaja tetap perlu dihormati dengan mengarahkan lewat dialog terbuka tentang dunia digital yang mereka tempati, apa aturan yang disepakati, apa risiko yang perlu dipahami, dan apa batasan yang terasa adil bagi semua pihak.
Aturan yang lahir dari percakapan biasanya jauh lebih efektif daripada aturan yang dijatuhkan begitu saja.
Seperti dilansir The Conversation, untuk memulai percakapan ini, beberapa pertanyaan sederhana dapat menjadi pintu masuk bagi orang tua, di antaranya:
1. Bagaimana waktu daring dihabiskan?
Apakah anak lebih banyak melakukan interaksi positif dengan smartphone? Ataukah, berselancar di semesta gawai justru membuat anak semakin tidak peka terhadap lingkungan sekitar dan menjerumuskannya untuk membandingkan keadaan dengan kawan-kawannya?
2. Apa motivasinya?
Kreativitas dan koneksi adalah sinyal sehat bagi anak yang menggunakan gawai. Namun begitu, apabila ada perilaku yang menunjukkan tanda-tanda kecemasan, tekanan sosial, atau kebutuhan validasi berlebihan, maka orang tua perlu mewaspadai.
3. Dengan siapa waktu daring dilalui?
Anak bisa belajar menguatkan dan saling jaga apabila banyak waktu yang dihabiskan secara daring bersama teman-temannya. Di sisi lain, perhatian mata ke layar semakin panjang dan lama apabila tak disadari.Pada akhirnya, orang tua perlu ikut berkaca, karena kebiasaan digital orang dewasa sering menjadi pola yang ditiru remaja.
Ketika orang tua berani mengatur ritme kerja daringnya sendiri, keluarganya pun akan lebih mudah menemukan keseimbangan digital yang menenangkan.
Simak juga artikel lainnya terkait kehidupan remaja di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih