Menuju konten utama

Suatu Pagi di Pasar Bunga Rawa Belong

Bunga adalah komoditas yang keindahannya dibatasi oleh waktu. Namun, di Rawa Belong, membuang bunga yang tidak laku terjual bukan perkara sepele.

Suatu Pagi di Pasar Bunga Rawa Belong
Pengunjung membeli berbagai macam jenis buket bunga di Pasar Bunga Rawa Belong, Jakarta Barat. (FOTO/Syifa Khairunnisa Zahrah)

diajeng.id - Di bawah lampu neon yang redup-redup terang, lorong-lorong pasar dipenuhi oleh ember-ember plastik berukuran besar berisi bunga segar warna-warni; merah menyala mawar lokal, kuning cerah krisan, hingga putih bersih lily.

Di setiap kios, kita akan mendapati penjual yang sibuk; jemarinya terus bergerak memangkas duri, mengikis daun busuk, menata gradasi warna kelopak, hingga menarik kertas pembungkus dengan presisi.

Demikianlah rutinitas para penjual di Pasar Bunga Rawa Belong hampir sepanjang hari, dari fajar hingga larut malam.

Pada Kamis (8/10), Diajeng Tirto berjumpa dengan Beni (21) asal Purwakarta yang sudah sebelas tahun bekerja di Pasar Bunga Rawa Belong. Sehari-hari, Beni bekerja dalam sistem sif bersama lima rekan lainnya.

Pasokan bunga di kios Beni bekerja didatangkan dari Lembang dan Bandung. Proses distribusi dan restock berlangsung setiap hari pukul dua dini hari. Setelah melalui proses bongkar muat dan penataan, seluruh bunga siap dijajakan dalam kondisi segar pada pukul tiga dini hari.

Pasar Bunga Rawa Belong ramai dikunjungi ketika ada hari atau momen spesial, contohnya seperti Hari Valentine, Hari Guru, Hari Ibu, Imlek, atau wisuda.

Pasar Bunga Rawa Belong

Epul dan Beni sedang merangkai buket bunga mawar di salah satu kios di Pasar Bunga Rawa Belong. (FOTO/Syifa Khairunnisa Zahrah)

Seperti Dinar (30) perempuan asal Jakarta yang sudah berlangganan berbelanja bunga di sana.

“Aku tahu di Pasar Rawa Belong harganya paling murah, harganya pasti gak akan tiba-tiba dia beda sendiri. Soalnya banyak banget toko-toko lain, jadi mereka juga kompetitif harganya. Pasti harganya paling oke, terus ya deket rumah juga,” ujar Dinar yang membawa satu tangkai bunga lily.

Dinar mengaku kerap membeli bunga untuk konsumsi pribadi, keperluan perayaan Lebaran, hingga bingkisan bagi para sahabat.

Harga satu buket bunga di Pasar Bunga Rawa Belong dibanderol dari harga Rp25 ribu untuk bunga calimero, sementara mawar dapat dibeli seharga Rp50ribu untuk 20 tangkai.

Beni mengungkapkan bahwa harga yang terjangkau serta melimpahnya variasi bunga menjadi daya tarik utama pasar ini. Menanggapi maraknya bisnis florist saat ini, Beni menjelaskan bahwa sebagian besar dari mereka tetap membeli pasokan bunga di Pasar Bunga Rawa Belong untuk dijual kembali.

“Florist-florist luar banyaknya juga dari sini belinya. Belanjanya dari sini,” tutur Beni.

Pemesanan umumnya dilakukan oleh pelanggan tetap melalui WhatsApp. Setelah pembayaran ditransfer, pasokan bunga langsung dikirim ke lokasi tujuan.

Pasar Bunga Rawa Belong

Epul membersihkan daun dan merapikan kelopak bunga mawar. (FOTO/Syifa Khairunnisa Zahrah)

Namun, kondisi bisnis tak selalu berjalan mulus. Beni mengungkapkan bahwa penjualan bunga mengalami penurunan signifikan dalam dua bulan terakhir akibat sepinya pembeli.

“Sekarang jatuhnya lagi sepi, sudah sekitar dua bulan. Pemasukan berkurang karena pembelinya sedikit,” kata Beni di sela-sela aktivitasnya merangkai mawar.

Saat kondisi pasar ramai, kios tempat Beni bekerja dapat mengantongi omzet hingga Rp5 juta dalam semalam. Namun saat ini, mencapai omzet Rp1 juta per hari pun terbilang sulit.

“Saya bertugas jaga sejak pukul 12 malam. Ini sudah hampir pukul 12 siang, tetapi omzet Rp1 juta pun belum tercapai,” ungkap Beni.

Pasar Bunga Rawa Belong

Kurir mengangkut pesanan bunga yang diambil dari salah satu kios di Rawa Belong. (FOTO/Syifa Khairunnisa Zahrah)

Bunga adalah komoditas yang keindahannya dibatasi oleh waktu. Namun, di Rawa Belong, membuang bunga yang tidak laku terjual bukanlah perkara sepele. Ada strategi dan kalkulasi risiko di baliknya.

Bunga-bunga sisa tidak bisa langsung dilempar ke tempat sampah begitu saja begitu sudah layu dan membusuk.

Epul (21), pemuda asal Purwakarta yang menemani Beni bekerja di sana selama dua tahun terakhir, menjelaskan bahwa bunga-bunga yang sudah tidak segar akan disimpan hingga busuk, baru dibuang.

“Kalau dibuang dan masih bagus, ada yang mungut. Nanti kalau langsung dipakai, dijual lagi, harganya lebih murah,” kata Epul.

Bunga-bunga hasil pungutan itu bisa dijual kembali di area luar pasar dengan harga yang merosot drastis dari harga toko. Misalnya, dari harga asli toko adalah Rp70 ribu menjadi Rp 20 ribu.

Pasar Bunga Rawa Belong

Pekerja laki-laki di Pasar Bunga Rawa Belong mengangkut bunga. (FOTO/Syifa Khairunnisa Zahrah)

Di balik hamparan warna-warni dan semerbak wewangian yang memenuhi setiap sudut pasar, terlihat dinamika sosial menarik. Jika estetika bunga kerap identik dengan feminitas perempuan, lorong-lorong pasar legendaris ini digerakkan oleh para laki-laki.

Dari barisan lapak depan hingga sudut perangkaian yang remang, hampir seluruh pedagang, perangkai, hingga tenaga bongkar muat di Pasar Bunga Rawa Belong adalah laki-laki.

“Iya, banyak mengangkut barang yang berat. Sudah begitu, bongkar muat bunga malam di sini dilakukan malam hari,” kata Beni.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Syifa Khairunnisa Zahrah

diajeng.id - Binar
Kontributor: Syifa Khairunnisa Zahrah
Penulis: Syifa Khairunnisa Zahrah
Editor: Sekar Kinasih