diajeng.id - Catatan: artikel ini mengandung spoiler
Bagi penggemar film horor, nama Jason Voorhes sudah tidak asing lagi. Karakter dari film Friday the 13th (1980) ini dikenal sebagai pembunuh bertopeng yang meneror anak-anak remaja di kamp musim panas Crystal Lake.
Namun, cerita tragis di balik kesadisan sosok Jason mungkin bisa membuat penonton bersimpati. Sebelum menebar teror di kotanya, Jason ternyata hanya seorang anak kecil yang mengalami perundungan. Kematiannya yang tragis membuat sang ibu, Pamela, memendam dendam mendalam.
Kisah ini menjadi titik awal Crystal Lake, serial televisi perkembangan dari Friday the 13th yang rilis 15 Oktober kemarin.
Berlatar di awal 1970-an, serial ini mengisahkan kehidupan ibu tunggal Pamela Voorhes. Pamela membesarkan anak semata wayangnya, Jason, yang terlahir dengan kondisi fisik berbeda.
Pamela bekerja sebagai juru masak panggilan dan menghabiskan banyak waktunya di Crystal Lake, kamp musim panas yang kelak menjadi saksi dari berbagai peristiwa mengerikan.
Setiap tahun, Pamela membawa Jason kembali ke kamp tersebut. Baik Pamela maupun Jason sebenarnya enggan berada di sana. Jason malu terhadap kondisi fisiknya dan harus menghadapi perundungan fisik yang dilakukan anak-anak lain.
Apa yang ditakutkan Jason akhirnya terjadi. Setelah mengalami perundungan, Jason tenggelam di danau. Tenggelamnya Jason juga berkaitan dengan kelalaian para konselor kamp yang malah sibuk dengan urusan romansa mereka.
Sembilan bulan berlalu, jasad Jason tidak pernah ditemukan. Namun, Pamela bersikeras, insting keibuannya meyakini Jason masih hidup dan berada di hutan Crystal Lake.
Tak hanya itu, keadaan di kota semakin mencekam setelah dua laki-laki misterius menyusup dan membuat kekacauan di rumah Pamela. Serangkaian kejadian mengerikan mulai terjadi di Crystal Lake; sejumlah jasad ditemukan di danau dan hutan dalam kondisi mengenaskan.
Rangkaian peristiwa tersebut membuka jalan bagi terungkapnya masa lalu kelam Pamela dan misteri di balik hilangnya Jason.
Di Balik Sosok Ibu yang Dianggap "Gila" dan Histeris
Popularitas Jason Voorhes telah melampaui layar lebar. Selama puluhan tahun, karakter ini menjadi bagian dari budaya populer dan diadaptasi ke berbagai media, termasuk melalui berbagai video gim seperti Mortal Kombat dan Call of Duty yang mengadaptasi universe dari Friday the 13th.
Kini, melaui serial Crystal Lake, kisah Jason Voorhes menggeser perhatian kita pada karakter yang perannya tak kalah penting dari sumber teror dalam film: Pamela Voorhes.
Dalam versi film, Pamela diceritakan sebagai ibu yang membunuh para konselor kamp dan menyalahkan kelalaian mereka atas tenggelamnya Jason.
Serial slasher yang diproduksi oleh studio indie A24 ini kemudian memperluas latar belakangnya, menceritakan bagaimana kehilangan dan rahasia masa lalu berperan penting membentuk karakter Pamela menjadi sosok dengan insting membunuh yang mengerikan.
Serial ini bisa dilihat sebagai upaya para sineas untuk mengembangkan perspektif sederhana Friday the 13th melalui kilas balik masa lalu Jason dan Pamela. Perubahan karakter Pamela dari ibu yang berduka menjadi pembunuh berantai menjadi faktor penting dari premis serial.
Dalam artikel The Guardian berjudul “Mothers of invention: why Hollywood always returns to mom-horror”, Anne Bilson membahas bagaimana film horor selalu menggunakan stereotip berulang dengan menggambarkan sosok ibu sebagai figur yang posesif.
Pamela Voorhes sekilas termasuk dalam stereotip tersebut. Namun, dalam serial ini, sosoknya tidak dilukiskan sekadar sebagai crazy boy mom, istilah populer untuk ibu yang memiliki keterikatan berlebihan dengan anak laki-lakinya.
Kemarahan Pamela mustahil dipisahkan dari orang-orang yang menyepelekan Jason karena kondisi fisiknya berbeda. Selain itu, kita diajak menyelami memori kelam Pamela; pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya sendiri, Elias Wittering.
Elias memanfaatkan kerentanan Pamela yang begitu ingin memiliki anak. Keinginan Pamela untuk menjadi ibu dijadikan celah bagi Elias untuk memanipulasi dan mengambil kendali atas hidup Pamela.
Pendek kata, Pamela bukanlah sekadar ibu yang terobsesi pada anak laki-lakinya. Pengalaman hidup menjadikannya perempuan yang selalu waspada, terutama setelah Pamela menyadari orang-orang yang seharusnya melindungi anaknya ternyata merupakan sumber bahaya terbesar.
Keinginan Pamela melindungi Jason bukan hanya datang dari rasa kasih sayang, tetapi dari rasa cemas: bagaimana jika masa lalu yang berusaha ditinggalkan akan menemukannya lagi?
Perempuan di Bawah Bayang-bayang Perang Dingin
Berlatar pada awal 1970-an, Crystal Lake juga menyisipkan ketakutan masyarakat Amerika di era Perang Dingin. Di tengah persaingan pengaruh ideologis antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, ancaman nuklir tidak berhenti pada permasalahan militer, tetapi juga menjadi kecemasan masyarakat sipil.
Dalam serial ini, kecemasan tersebut diceritakan melalui Project Argonaut, eksperimen rahasia yang dijalankan oleh perusahaan Bellflower milik Elias Wittering.
Elias menciptakan proyek ambisius untuk mencipatakan manusia yang mampu selamat dari radiasi nuklir.
Elias dan teman-temannya kemudian menikahi perempuan-perempuan lugu dan memanfaatkan tubuh mereka serta anak-anak mereka yang belum lahir sebagai bagian dari eksperimen Bellflower tanpa pengetahuan mereka.
Menariknya, eksperimen dalam Project Argonaut memiliki kemiripan dengan praktik penelitian manusia pada masa Perang Dingin. Salah satunya adalah penelitian di Vanderbilt University, Amerika Serikat yang berlangsung pada 1945-1949.
Dalam penelitian tersebut, ratusan perempuan hamil diberi zat besi radioaktif untuk mempelajari penyerapan besi selama kehamilan. Sejumlah peserta kemudian menyatakan bahwa mereka tidak tahu mengenai kandungan radioaktif yang dikonsumsi.
Konteks sejarah ini bersinggungan dengan penggambaran hak-hak perempuan di Crystal Lake. Dalam serial ini, tubuh perempuan dan anak yang belum lahir menjadi objek eksperimen tanpa sepengetahuan mereka.
Pengalaman Pamela memperlihatkan persoalan serupa dalam lingkup yang lebih personal. Pengkhianatan yang dilakukan oleh Elias menunjukkan bahwa Pamela nyaris kehilangan kendali atas tubuh dan kehidupannya sendiri, seperti perempuan lainnya di serial ini.
Penulis: Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih