diajeng.id - Mengasuh anak, terutama yang masih balita (usia di bawah lima tahun) atau toddler (usia satu sampai tiga tahun), memang memerlukan energi ekstra.
Anak pada rentang usia ini mengalami periode perkembangan pesat dalam hal fisik, kognitif, dan sisi emosionalnya.
Salah satu yang perlu jadi perhatian adalah ketika mereka tiba-tiba menyakiti orang di sekitarnya, entah dengan mencubit, mendorong, atau merebut mainan. Aksi ini tentu membuat orang tua merasa bersalah atau malu.
Dilansir Child Mind Institute, wajar jika balita sesekali melewati batas karena mereka tengah berproses mencari jati diri dan memahami dunia di sekelilingnya.
Di satu sisi, orang tua tentu paham bahwa batasan itu penting untuk keamanan dan perkembangan anak. Namun begitu, menerapkan batasan pada situasi nyata acap kali menantang dan melelahkan.
Salah satu cara yang dapat dipertimbangkan untuk mempermudah proses ini adalah dengan menghadirkan rutinitas yang konsisten pada anak.
Mulai dari jadwal tidur yang tetap, hingga alur kegiatan harian yang dapat diprediksi, hal-hal sederhana seperti ini membantu anak mengenali pola dan memahami apa yang diharapkan dari mereka.
Ketika muncul perilaku anak yang kurang tepat, yang terbaik adalah merespons segera.
Alih-alih melarang atau mengungkapkan apa yang tidak boleh anak lakukan, orang tua sebaiknya menjelaskan perilaku yang mereka kehendaki.
Jika diperlukan time-out, sampaikan dengan singkat alasan dan durasinya.
“Kamu habis memukul temanmu, jadi sekarang kamu duduk dulu di pojok sana tiga menit.”
Balita yang lebih besar juga bisa diberi konsekuensi kecil sesuai perilakunya. Misalnya, jika mereka melompat-lompat di sofa, mereka bisa diminta berlatih duduk tenang sejenak.
Contoh lainnya, apabila anak tantrum, fokuskan perhatian setelah anak kembali tenang, lalu beri penguatan.
Dengan begitu, mereka belajar bahwa ketenangan dapat membuat mereka kembali diperhatikan, bukannya melalui ledakan emosi.
Penting juga diingat, saat si kecil berbuat “nakal” di luar rumah, itu bukan sekadar insiden memalukan, melainkan semacam “utang moral" yang perlu kita bayar melalui bimbingan yang tepat.
Alih-alih untuk menjaga citra, langkah tersebut perlu dilakukan untuk memastikan anak tumbuh dengan kemampuan memahami batasan, empati, dan tanggung jawab sosial.
Di sinilah orang tua perlu membedakan antara memarahi dan mendidik.
Balita belum mampu memahami ceramah panjang atau ancaman keras, sehingga pendekatan yang ideal bukanlah teriakan atau hukuman fisik.
Menurut Novia Dwi Rahmaningsih, M. Psi, Psikolog, toddler yang usianya 3 tahun memang belum memiliki nalar yang baik, otaknya juga belum berkembang sempurna.
"Cara memberi tahunya yang benar itu harus pendek, ringkas, dan memang harus sabar. Berulang-ulang dilakukan. Sebisa mungkin tone nadanya itu juga tetap tenang," jelas Novia kepada Diajeng Tirto saat ditemui akhir November lalu.
Novia mengatakan, apabila orang tua memarahi anak, maka sistem limbik dan amigdala atau bagian otak anak yang memproses emosi akan aktif.
Artinya, apa pun yang disampaikan oleh orang tua, tidak akan terserap di kepala anak. Selain itu, orang tua jadi kehilangan kesempatan menstimulasi perkembangan PFC dengan melatih anak berpikir logis dan solutif.
"Itu kalau anak dengan kondisi tidak ada kebutuhan khusus. Kalau ada kebutuhan khusus, itu lebih rumit lagi, lebih kompleks lagi," imbuhnya.
Menanggapi cara mengatasi anak yang telanjur telah menyakiti orang lain di tempat umum, khususnya jika anak tersebut adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), ia menyarankan agar orang tua langsung bicara ke orang dan keluarga yang disakiti tersebut.
"Orang tua perlu bicara langsung ke pihak yang dirugikan, tapi kadang-kadang mereka juga belum menerima kondisi ABK pada anak, jadi belum cukup belajar cara menghadapi situasinya bagaimana. Akhirnya, menghadapi anaknya sendiri jadi kesulitan juga," terangnya.
Oleh karena itu, Novia kembali menegaskan pentingnya orang tua bertindak lebih bijak.
Apalagi, untuk ABK, penting adanya manajemen dari orang dalam memerhatikan kekhususan kondisi anak yang tidak selalu terakomodasi di lingkungan. Selain itu, penerimaan atas kondisi anak juga hal yang penting.
Ketika sudah berusaha memahami kondisi anak, masalah lainnya yang muncul, adalah penerimaan dari masyarakat.
"Di satu sisi, susah juga masyarakat belum siap. Edukasinya juga masih sedikit. Balik lagi harus butuh banyak berempati," ucapnya.
Novia menambahkan, orang tua memegang tanggung jawab terbesar dalam membentuk perilaku anak, termasuk menerima risiko dari setiap keisengan atau keingintahuan yang muncul sebagai bagian dari proses belajar mereka.
Memang tidak selalu nyaman menghadapi tatapan orang lain, meminta maaf atas tindakan anak, atau menegakkan batasan ketika kita sendiri sedang lelah.
Namun begitu. justru di situlah letak peran penting orang tua: berani hadir, mengoreksi, dan membimbing dengan tenang.
Setiap konsekuensi yang kita ajarkan hari ini adalah investasi jangka panjang agar anak tumbuh memahami tanggung jawab, empati, dan cara berperilaku yang lebih matang.
Simak juga artikel terkait ibu dan anak di sini.
Editor: Sekar Kinasih