diajeng.id - Di media sosial, tren bertajuk AITA atau singkatan Am I The Asshole?—"Apa aku yang salah?"—menjadi semacam panggung pengakuan digital.
Tren yang bermula dari forum diskusi komunitas daring Reddit ini kerap disebarluaskan sebagai screenshot atau gambar tangkapan layar ke berbagai platform media sosial lainnya.
Dalam tren AITA, orang-orang secara anonim bercerita tentang persoalan dengan pasangan atau keluarga, ketidaknyamanan di tempat kerja, sampai gesekan sosial lainnya yang entah mengapa tetap mengganjal di dada.
Menukil The Conversation, setiap cerita AITA akan ditutup dengan pertanyaan sederhana tapi menggigit di mata para pembaca: dalam kisah yang dituturkan, apa si pengunggah keliru? Apa perilakunya salah?
Lantas, netizen pun menjawab dengan akronim-akronim tegas, seperti NTA/NAH (not the asshole—kamu tidak salah/berengsek), YTA (you’re the asshole—kamu yang salah/berengsek), atau ESH (everyone sucks here—semua pihak salah), sebagai tanggapannya.
AITA bukan sekadar hiburan, melainkan juga cermin kerinduan kita untuk memahami batas kebaikan, harga kejujuran, dan sejauh apa kita boleh bersikeras pada diri sendiri.
Sebagai sebuah laboratorium moral yang kebetulan berlokasi di dunia digital media sosial, AITA mempersilakan setiap orang untuk menyuarakan ceritanya dan memberikan ruang bagi siapa pun untuk menilai, berempati, atau sekadar mengamati dari kejauhan.
Tengok saja kisah-kisah yang dibagikan pengguna Reddit dan telah dipublikasikan laman Refinery 29.
Salah satu cerita disampaikan oleh seorang ibu tiri, yang merasa tidak dihargai karena pola pengasuhan anak yang timpang antara suaminya dan mantan istrinya.
Seharusnya pengasuhan dibagi secara adil, tapi anak-anak justru lebih sering tinggal bersama dirinya dan sang suami karena mantan istri acap kali punya acara mendadak.
Situasi ini kerap mengorbankan rencana pribadi pasangan tersebut, termasuk agenda berdua yang sudah dirancang jauh hari.
Ketika si perempuan menolak membawa anak dalam rencana liburan berdua dan memilih membatalkan liburan, sang suami menilai sikapnya tidak pengertian. Si perempuan jadi kebingungan, apakah dia salah dalam hal ini.
Kisah lainnya bercerita tentang seorang laki-laki kaya hemat yang dituduh merendahkan temannya.
Setelah puluhan tahun meniti karier, laki-laki tersebut akhirnya memperoleh penghasilan tinggi.
Di satu sisi, ia tetap hidup sederhana dan konsisten menagih sewa kos murah pada teman yang indekos di apartemennya, sering membelikan makanan padanya, dan tidak pernah pamer uang.
Satu waktu, ketika teman indekosnya bertanya soal penghasilannya dan ia menjawab dengan jujur, teman itu malah menuduhnya sebagai orang “berengsek” karena berpura-pura miskin dan membuat orang lain merasa rendah diri.
Padahal, ia hanya ingin menabung dan hidup tenang tanpa hiruk-pikuk status. Benarkah sikap low-profile itu justru menyakiti dan salahkah dia?
Contoh kisah di atas tentu mendapat berbagai respons. Netizen, dengan berbagai pertimbangannya, akan memutuskan apakah si pengunggah cerita bersalah atas yang dilakukan atau dialaminya tersebut.
Tren AITA bukan hanya pesta komentar di internet, ia tumbuh menjadi jendela besar tempat para peneliti mengintip cara manusia menimbang benar-salah dalam kehidupan sehari-hari.
Di forum tersebut, cerita-cerita pribadi yang tampak sepele, mulai dari justifikasi perselingkuhan sampai perseteruan antarsaudara berebut kekasih yang sama, menjadi bahan baku diskusi moral yang hidup.
Para akademisi pun ikut turun tangan. Sebuah studi besar dari University of Pennsylvania dan beberapa institusi lain menggunakan 369.161 unggahan AITA dan 11 juta komentar warganet sebagai data untuk memetakan jenis-jenis dilema etis yang umum dialami orang.
Hasilnya, diterbitkan di jurnal PNAS Nexus (2025), menunjukkan 29 tipe dilema yang dikelompokkan dalam enam tema moral, yakni kejujuran, kewajiban relasional, norma sosial, keadilan, potensi kerugian, dan perasaan.
Dari semua itu, ketidakjujuran menduduki peringkat terburuk, bahkan lebih buruk daripada tindakan yang jelas-jelas menyakiti. Mayoritas persoalan ternyata berakar pada hubungan terdekat: keluarga, pasangan, rekan kerja.
Penelitian ini mengisi kekosongan lama dalam psikologi moral, yang biasanya hanya menguji skenario ekstrem dan hipotetis, sesuatu yang terasa jauh dari kehidupan nyata.
Dengan ratusan ribu unggahan dan jutaan komentar, para peneliti mendapat gambaran langka tentang bagaimana orang benar-benar menilai perlakuan satu sama lain.
Memang, ada keterbatasan. Mayoritas pengguna masih berusia muda. Selain itu, cara forum ini menilai “siapa salah/berengsek” tidak selalu mencerminkan nilai moral semua budaya.
Namun begitu, tetap saja, temuan ini menunjukkan satu hal yang memikat, bahwa di dalam ruang digital yang sering kacau, orang masih berusaha memahami apa artinya bersikap baik.
Kadang-kadang, dalam satu thread sederhana, kita bisa menangkap dengan jelas: siapa yang kelewat cuek, siapa yang tersinggung berlebihan, dan siapa yang terang-terangan salah.
Sebuah studi lainnya dalam Collabra Psychology (2022) pernah meminta ratusan orang menggambarkan “big asshole" atau "orang paling berengsek” yang pernah mereka temui.
Hasilnya cukup konsisten: sosok yang mudah marah, tidak ramah, cenderung egois, impulsif, dan tak peduli bagaimana tindakannya memantul ke orang sekitar.
Menariknya, kebanyakan partisipan tidak butuh waktu lama untuk mengingat figur menyebalkan tersebut.
Dari deskripsi mereka, para peneliti menemukan kemiripan jelas pada "orang paling berengsek" tersebut dengan pola kepribadian antisosial, narsistik, bahkan psikopatik.
“Kami ingin mereplikasi dan memperluas temuan ini dengan berfokus pada 'berengsek', sebuah hinaan umum yang digunakan untuk merujuk pada laki-laki dan perempuan,” tulis studi tersebut.
Namun, tentu saja tidak semua masuk kategori gelap itu.
Ada yang disebut “berengsek” hanya karena sikap tidak sopan, komentar sinis, atau kebiasaan memutar bola mata. Ya, hal-hal kecil yang terkadang muncul dari siapa pun.
Di sisi lain, sebagian lain memang terbukti menyebalkan akut, hingga beberapa perilakunya mendekati aksi kriminal.
Setelah membaca ini semua, apa kamu jadi bertanya-tanya pada diri sendiri? “Aduh, jangan-jangan, selama ini aku sudah jadi orang yang menyebalkan?"
Oh, kemungkinan besar tidak. Justru kalau kamu bertanya begitu pada diri sendiri, itu tandanya kamu peduli dan berupaya mawas diri.
Di titik ini, AITA dan riset ilmiah bertemu, mengingatkan kita bahwa moralitas bukan soal teori abstrak, tetapi soal bagaimana memperlakukan orang yang berbagi hidup, meja makan, atau ruang kerja dengan kita.
Di tengah kebisingan digital, pertanyaan sederhana tetap menjadi kompas moral penting buat kita semua, "Aku aku sedang berlaku adil?"
Editor: Sekar Kinasih