diajeng.id - Media sosial selalu menghadirkan tren-tren baru yang datang silih berganti, termasuk yang sepertinya terlihat remeh tetapi diam-diam bisa jadi alat untuk mempermalukan orang lain.
Belum lama ini, muncul tren “Flip the Camera”, sebuah tantangan yang sekilas terlihat lucu dan tidak berbahaya.
Dalam tren ini, seseorang akan meminta orang asing untuk merekam dirinya sedang menari atau membuat konten. Namun, di tengah-tengah proses itu, setelan kamera diubah.
Akibatnya, yang terekam adalah wajah si perekam.
Semua terjadi dalam hitungan detik, sebelum akhirnya wajah polos si perekam diunggah ke media sosial sebagai bahan hiburan massal.
Di balik “kelakar” tersebut, tersimpan dinamika baru dari budaya mempermalukan: bullying atau perundungan yang terbungkus dalam estetika tren.
Fenomena “Flip the Camera” membuka diskusi penting tentang empati, privasi, dan bagaimana media sosial bisa memelintir interaksi sederhana menjadi konsumsi publik tanpa persetujuan.
Flip The Camera, Bentuk Perundungan Digital
Dinukil dari Scary Mommy, banyak orang, baik anak-anak maupun orang dewasa, terdorong arus tren “Flip the Camera”.
Mereka meminta orang lain, teman, guru, bahkan orang asing untuk merekam dengan smartphone yang layarnya menghadap ke mereka, sehingga mereka bisa melihat gerakannya direkam.
Di tengah-tengah proses rekaman, mereka akan mendekat ke arah smartphone, kemudian memencet layar sehingga setelan kamera berubah ke arah si perekam.
Wajah yang terkejut, canggung, atau tidak siap itu kemudian diunggah ke media sosial untuk ditertawakan banyak orang.
Sekilas, tren ini mungkin tampak seperti keisengan yang tidak berbahaya. Namun, banyak orang mulai menyadari pola yang lebih gelap di baliknya.
Menurut situs Mashable, mereka yang dijadikan sasaran sering kali adalah individu yang dianggap “mudah” atau "aman" untuk direndahkan: anak yang kurang populer, orang lanjut usia, atau bahkan seseorang yang sedang berjuang dengan situasi hidupnya.
Begitu video tersebar, rasa malu si perekam pun jadi konsumsi publik.
Banyak yang jadi sasaran tren ini mengaku terluka karena mereka dipermalukan di hadapan publik tanpa pernah diberi kesempatan untuk menolak direkam.
Tak heran jika berbagai kreator dan pengguna media sosial ikut bersuara.
Mereka menegaskan bahwa tren ini sebenarnya menyakiti orang lain, membuat orang merasa tidak aman, atau seolah-olah dirinya tidak cukup baik.
Ada pula yang menyebut tren ini menjijikkan atau menyamakannya dengan kekejaman sosial yang dibungkus label “cuma iseng.”
Orang tua dan guru juga mulai angkat suara. Mereka mengingatkan bahwa ini bukan lelucon ringan, melainkan bentuk perundungan yang dibungkus kreativitas semu.
Mereka menyoroti bahwa biasanya, orang-orang yang terjebak dalam rekaman itu terlihat sebagai sosok yang baik hati, pendiam, introvert, atau sekadar berusaha bersikap ramah. Tentu jadi semakin tidak adil ketika mereka justru dipermalukan.
Banyak kreator dan influencer akhirnya ikut mengkritik tren ini secara terbuka.
Mereka tegaskan bahwa kelucuan yang mengorbankan orang lain bukanlah sesuatu yang layak dirayakan, seperti @Tinx, seorang kreator dengan 1,5 juta pengikut di TikTok.
"Aku bukan ibu, tapi kalau aku tahu anak-anakku melakukan tren itu, aku bakal hukum mereka selamanya... Itu benar-benar kekejaman," kata @Tinx.
Dikutip Psychology Today, dari sudut pandang psikologi dan ilmu neurosains, tren seperti “Flip the Camera” bukan sekadar masalah etika di media sosial, melainkan juga menyentuh sisi perkembangan manusia yang lebih dalam.
Menurut pakar, tindakan mempermalukan orang lain, sekalipun tampak ringan, dapat mengganggu kesejahteraan mental dan emosional seseorang.
Selain itu, pemakaian media sosial secara berlebihan berisiko memengaruhi perhatian, memori, hingga kemampuan dalam berbahasa, khususnya pada anak-anak dan remaja.
Padahal, otak mereka masih terus berkembang hingga mereka mencapai usia sekitar 25 tahun.
Berbagai studi ilmiah selama ini juga menyorot kurangnya fondasi perkembangan sosial, moral, dan emosional pada anak-anak yang suka ikut-ikutan tren di dunia digital.
Bagaimana bisa begitu? Ternyata, tren-tren tersebut perlahan menggantikan aktivitas permainan fisik dan imajinatif anak.
Ketika peluang tersebut berkurang, risiko yang muncul tidak hanya berdampak pada masa kanak-kanak, melainkan juga terbawa hingga dewasa.
Maka dari itu, ingatlah bahwa kita selalu punya kendali atas tindakan dan pilihan kita di ruang digital.
Cara kita memakai teknologi, apakah untuk membangun atau meruntuhkan, akan menentukan siapa kita sebagai individu dan sebagai bagian dari masyarakat.
Menggunakan kekuatan itu dengan sadar adalah langkah pertama untuk menciptakan ruang sosial di jagat digital yang lebih sehat, adil, dan manusiawi.
Artikel terkait bullying atau perundungan lainnya juga bisa disimak di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih