diajeng.id - Gangguan kecemasan (anxiety disorder) diperkirakan dialami oleh 5,8 persen populasi dunia.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), anxiety disorder merupakan gangguan pada kesehatan mental yang paling umum dialami orang. Pada 2023 tercatat 470 juta orang mengalami gangguan kecemasan.
Pada esensinya, orang yang mengalami kecemasan tidak sesimpel "terlalu banyak berpikir" atau berkepribadian lemah. Kondisi mental kita sebenarnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, dari yang sifatnya genetik, biokimia otak, hingga lingkungan.
Ketika kita memutuskan untuk menjalin hubungan asmara dengan orang yang tengah berjuang dengan gangguan kecemasan, kita perlu menyiapkan stok empati, pengertian, dan kepekaan lebih besar.
Memahami realitas tentang gangguan kecemasan sangat penting agar relasi bisa berjalan sehat dan harmonis.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan?
Melansir artikel dari VeryWell Mind, orang yang memiliki pasangan dengan gangguan kecemasan perlu mengedukasi diri tentang anxiety disorder.
Kenali apa saja hal yang bisa membuat pasangan merasa cemas, misalnya karena keramaian, takut ketinggian, kurang tidur, atau karena konsumsi kafein.
Memahami pemicu kecemasan pasangan bisa membantu kita bersikap lebih peka tanpa harus membatasi pasangan secara berlebihan.
Kita juga harus siap untuk menjadi pendengar aktif bagi pasangan. Dengarkan kekhawatiran mereka, berpikirlah secara terbuka tanpa perlu menghakimi.
Jika pasangan sedang venting atau "mengeluh", yang dia inginkan sebenarnya hanyalah perhatian untuk didengar dan divalidasi perasaannya, alih-alih nasihat atau solusi instan.
Selain itu, situs Julia Schwab Therapy menyarankan praktik teknik grounding. Ketika pasangan mengalami episode cemas atau serangan panik, bantu mereka fokus pada pernapasan lambat (teknik 4-4-4) atau fokus pada pancaindra (teknik 5-4-3-2-1).
Jika kecemasan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, dorong pasangan dengan penuh kasih sayang untuk berkonsultasi dengan profesional medis atau terapis (seperti terapi CBT/Cognitive Behavioral Therapy atau Terapi Perilaku Kognitif).
Apa yang Sebaiknya Dihindari?
Setelah memahami hal-hal apa saja yang perlu dilakukan, maka ada juga hal-hal yang harus dihindari ketika kita mendampingi pasangan dengan gangguan kecemasan.
Yang pertama, jangan sekali-kali kita menyepelekan atau menghakimi orang yang memiliki gangguan kecemasan.
Hindari mengucapkan kalimat seperti, "Tenang saja/Ah, kamu berlebihan/Itu cuma ada di pikiranmu." Kalimat-kalimat seperti itu, seperti dijelaskan VeryWell Mind, berisiko memperparah kondisi kecemasan sehingga membuat orang-orang dengan gangguan kecemasan merasa terisolasi.
Selanjutnya, jangan pernah menyebut mereka hanya "sedang/bikin drama" (blame game). Tidak ada orang yang memilih untuk memiliki gangguan kecemasan. Kalau pasangan kita mengalaminya, tentu saja mereka tidak ada niat untuk bertindak manipulatif.
Selain itu, jangan menjadikan kecemasan pasangan sebagai pembelaan perilaku toksik. Kecemasan yang dialami orang lain bukanlah pembenaran bagi kita untuk bersikap mengekang, protektif berlebihan, atau memata-matai pasangan secara berlebihan.
Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Diri Sendiri
Ketika kita mendampingi pasangan dengan gangguan kecemasan, kita punya kecenderungan untuk menganalisis segala perilakunya secara berlebihan (over-analyzing) dan terus-menerus meminta kepastian (reassurance) darinya. Penting diingat, hal-hal tersebut dapat menguras energi emosional kita sehingga kita mengalami kelelahan emosional (caregiver fatigue/burnout).
Oleh karena itu, penting untuk mempraktikkan self-care dan menjaga batasan diri yang sehat. Kita tidak mungkin "memberi cangkir kosong" pada orang yang kita kasihi. Kesehatan mental diri kita sendiri tetaplah prioritas dalam hidup.
Maka, ingatlah untuk tetap menjaga kesehatan mental diri sendiri, misalnya dengan menyalurkan hobi dan berinteraksi dengan teman-teman atau berkomunitas.
Apakah Kecemasan Berisiko Merusak Relasi?
Menurut hasil temuan dari Journal of Abnormal Psychology (2010), gangguan kecemasan memiliki korelasi dengan peningkatan stres dan penurunan kualitas hubungan.
Perilaku seperti penarikan diri, ketakutan berlebih akan perpisahan, hingga keraguan terus-menerus, dapat memicu ketegangan. Namun, situasi ini tidak harus merusak relasi.
Dengan komunikasi yang terbuka, rasa saling percaya, dan kesediaan menjalani konseling pasangan, hubungan berpotensi tumbuh menjadi lebih kuat dan intim.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Merasa Tidak Mampu Lagi?
Apabila kita merasa telah mencapai batas kemampuan emosional sehingga hubungan tidak lagi seimbang atau membahayakan kesejahteraan mental diri sendiri, jangan bersikap sepele.
Situs Calm menekankan untuk segera menetapkan batasan (boundaries) yang jelas. Sampaikan dengan lembut tapi tegas kepada pasangan mengenai apa yang dapat dan tidak dapat kita toleransi dalam relasi.
Carilah bantuan terapis atau konseling pasangan yang dapat memberikan sudut pandang objektif untuk mengevaluasi apakah relasi ini masih bisa dipertahankan secara sehat.
Bagaimana jika kita sudah mengupayakan segala cara tapi tetap terbebani secara fisik dan mental?
Artikel lainnya terkait relationship juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih