diajeng.id - Hiruk-pikuk dunia cenderung menarik kita ke dalam pikiran kita sendiri.
Seiring otak kita menyerap banjir berita dan informasi baru, tidak jarang kita “meluapkan” itu semua dengan membiarkannya berlalu-lalang begitu saja alih-alih benar-benar memahami isinya. Kadang-kadang, kita bahkan tidak menyadari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kita.
Jika merasakan kehampaan demikian, mungkin kamu bisa mempertimbangkan untuk mencoba silent retreat (retret keheningan).
Retret merujuk pada tempat terisolasi dan hening yang memungkinkan kita fokus pada diri sendiri. Sesuai namanya, silent retreat memberikan kita kesempatan untuk menyelam dalam keheningan, atau lebih populer disebut meditasi, selama 3-10 hari bahkan lebih.
Dalam program berkelompok yang dibimbing instruktur, silent retreat meminimalisir interaksi kita dengan peserta lainnya. Interaksi dengan perangkat digital juga dibatasi supaya kita tidak terdistraksi dunia luar.
Mengapa Meditasi Penting?
Miskonsepsi yang sering kali muncul terkait meditasi adalah kita harus bisa mencapai pikiran yang kosong tanpa harus terdistraksi sama sekali.
Di satu sisi, meditasi adalah sebuah cara supaya kita bisa belajar hidup berdampingan dengan pikiran-pikiran di kepala kita, alias bagaimana kita berkompromi dengan isi kepala yang dinamis dan beragam.
Tidak semua pikiran yang bermunculan enak dirasakan. Meditasi lebih sering memunculkan pikiran negatif, bahkan kadang-kadang trauma yang mengusik hidup kita.
Alih-alih berusaha menyingkirkannya, kita belajar untuk tidak merespons pikiran secara negatif. Kita belajar untuk berdamai dengan ketidaknyamanan.
Meditasi membantu menyadarkan kita pada kondisi sekitar yang sebelumnya mungkin tidak kita gubris. Kita berlatih menjadi lebih peka mendengar suara alam, dengung dan desis serangga, gemericik air, yang kadang-kadang kita lewatkan atau selama ini taken for granted. Meditasi tidak hanya menghubungkan kita dengan diri sendiri, tetapi juga dunia di sekitar kita.
Sebagai perempuan, terutama, kita kerap dibebankan dengan berbagai tanggung jawab dan peran. Dari membuka mata sampai kembali tidur, kita memiliki segudang aktivitas dan mental workload tak kasatmata yang jika tidak dipenuhi dapat berpengaruh terhadap efektivitas kerja sehari-hari dan relasi dengan anggota keluarga lainnya.
Ibu-ibu yang kelelahan dalam kerja-kerja perawatan, tak terkecuali ibu pekerja, sangat mungkin menjadikan silent retreat sebagai waktu istirahat.
Riset yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences (2007) mengungkapkan bahwa meditasi dapat menurunkan tekanan darah dan mengontrol detak jantung kita.
Selain itu, meditasi berperan dalam membantu pengendalian emosi kita. Meditasi mengaktifkan kinerja otak di bagian amigdala dan hipokampus. Kedua bagian otak ini bertanggung jawab dalam mengontrol memori serta regulasi emosi.
Pada akhirnya, meditasi berperan penting dalam mengembangkan perasaan positif di dalam diri.
Meditasi Sendiri, atau Ikut Program dengan Instruktur?
Dalam satu-dua dekade terakhir, silent retreat banyak dibingkai dalam program mindfulness yang terkesan eksklusif, elite, dan terkurasi di media sosial, melibatkan tempat-tempat “eksotis” seperti Pulau Bali dan diikuti banyak peserta turis mancanegara. Biaya pendaftaran programnya bahkan mencapai ratusan dolar atau jutaan rupiah.
Padahal, esensi silent retreat bukanlah pelayanan, apalagi kemewahan.
Silent retreat tidak memerlukan elemen-elemen pendukung yang kompleks atau estetik karena pada dasarnya meditasi adalah strategi praktis untuk mengatur nafas dan menyadari sensasi-sensasi yang dirasakan tubuh.
Umumnya, meditasi dilakukan dengan menutup mata. Dalam sesi bermeditasi, pokok utama yang diraih adalah mencapai ketenangan dalam diri.
Ketenangan ini dapat diraih dengan berbagai cara. Pertama, mengatur nafas dan memfokuskan diri pada sensasi-sensasi ketubuhan yang dirasakan.
Kedua, meditasi bisa dilakukan dengan mengatur titik fokus kita pada benda-benda di sekitar kita. Sebagai contoh, memfokuskan pikiran memakai suara dentingan lonceng. Kalau pun tidak mempunyai lonceng, kita bisa mendengarkan dunia di sekitar kita.
Seandainya teknis tersebut masih terasa sulit, kamu bisa mengikuti guided meditation yang tersedia secara gratis di berbagai kanal media sosial atau aplikasi digital. Namun, pastikan bahwa penggunaan gawai hanya untuk membantu proses meditasi, alih-alih jadi distraksi.
Jadi, kamu sudah siap untuk mencoba bermeditasi sendiri atau ikut program silent retreat dengan instruktur?
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih