diajeng.id - Selama Ramadhan, banyak perempuan dan ibu seperti menjalani dua hari kerja dalam satu hari.
Memulai hari lebih awal, dari bangun sahur, menyiapkan makanan keluarga, memastikan anak-anak terpenuhi segala kebutuhannya, lalu berangkat kerja ke kantor atau kembali fokus pada urusan kerja rumah tangga.
Pada siang hari, ketika energi mulai menurun karena sedang berpuasa, perempuan di kantor masih menjalankan tuntutan profesional seperti rapat, target kerja, hingga urusan performa. Sementara Ibu Rumah Tangga terus bergulat dengan segala pekerjaan di rumah.
Menjelang magrib, perempuan kembali disibukkan dengan persiapan berbuka puasa. Ada yang harus berbelanja bahan, kemudian memasak dan menyiapkan penyajiannya.
Ada pula yang memutuskan untuk memberi takjil di luar rumah. Tak sedikit yang harus melakukannya sembari menerjang hujan dengan sepeda motornya, atau terjebak dalam kendaraan di tengah kemacetan petang hari.
Di saat yang sama, ekspektasi sosial tetap berjalan. Perempuan diharapkan tetap tampil rapi, tetap hadir, tetap sabar, tetap produktif.
Padahal, secara biologis, tubuh sedang beradaptasi. Kadar gula darah berubah, pola tidur bergeser, hormon ikut terpengaruh. Energi jelas tidak sama seperti hari-hari biasa.
Gambaran ini bukan tentang perempuan yang “kurang kuat”. Sebaliknya, momen Ramadhan semakin menegaskan realitas keras yang selama ini dijalani perempuan, tentang kerja-kerja yang berlapis dan energi yang terus dikuras untuk memenuhi harapan pada setiap perannya.
Di tengah pengingat tentang kenyataan ini, mungkin kita perlu mencoba menggeser cara pandang kita tentang produktivitas.
Produktif Bukan Berarti Semua Harus Selesai Sempurna
Sarah Maizes, seorang penulis, produser, dan komedian yang menulis untuk Today menyatakan, produktif tidak selalu berarti menyelesaikan semuanya dengan sempurna.
Produktif juga bisa dimaknai sebagai upaya memilih beberapa prioritas harian yang benar-benar penting, bahkan yang memberi kegembiraan, dan memberi ruang bagi hal lain untuk menunggu.
Menjadi produktif juga bisa berarti mengatur energi, menjadwalkan tugas domestik sebagai kerja nyata, dan berani mendelegasikan tugas tanpa dihantui rasa bersalah.
"Menemukan cara untuk menggabungkan pekerjaan rumah dengan hal-hal yang memberiku kegembiraan tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga membantu membuat pekerjaan rumah lebih menyenangkan," tulis Sarah.
Melepaskan tuntutan perfeksionis, berkomunikasi dengan pasangan dan keluarga, serta mengakui bahwa pekerjaan rumah adalah kerja yang layak dihargai merupakan bentuk adaptasi yang sehat.
Menurutnya lagi, menggabungkan tugas dengan momen kebersamaan, atau memberi diri waktu istirahat yang terjadwal, bukanlah kemewahan, melainkan strategi bertahan.
Dinukil blog The Female CEO, produktif juga tidak selalu berarti menuntaskan semua hal dengan standar sempurna.
Produktivitas bisa diartikan memilih beberapa prioritas harian yang benar-benar penting, bahkan yang memberi makna dan kegembiraan, dan membiarkan sisanya menunggu.
Dengan produktivitas yang sehat, kita belajar mengatur energi, alih-alih mengontrol waktu. Kita sadar kapan tubuh perlu jeda, kapan fokus harus tinggi, dan kapan berhenti sebelum energi kita benar-benar terkuras.
Perawatan diri bukan kemewahan, melainkan strategi keberlanjutan.
Menjadwalkan waktu istirahat sebagaimana menjadwalkan rapat, memulai pagi dengan ritual sederhana sebelum membuka gawai, bergerak setiap hari meski singkat, mengonsumsi makanan bergizi saat berbuka dan sahur, hingga melatih jeda lewat refleksi atau meditasi, semua itu adalah cara menjaga agar tidak jatuh pada kelelahan yang lebih panjang.
Belajar mengatakan “tidak” pada permintaan yang menguras energi, berani mendelegasikan tugas rumah tanpa rasa bersalah, membangun komunikasi terbuka dengan pasangan dan keluarga.
Tidak perlu merasa bersalah melepaskan diri dari tuntutan untuk selalu “siap sedia”. Pekerjaan domestik dan kerja perawatan perlu diperlakukan sebagai kerja nyata, layak dijadwalkan, dibagi, dan dihargai.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan tentang mempertahankan performa yang sama seperti bulan lain. Momen ini bisa jadi peluang untuk menyadari keterbatasan diri dan menata ulang cara kita bekerja dan hidup.
Ramadhan mengajarkan menahan diri, bukan hanya dari makan, akan tetapi juga dari tuntutan untuk selalu mampu.
Dengan mengakui pengalaman itu, dengan menyebutnya apa adanya, kita membuka ruang bagi perempuan untuk merasa dipahami, bahwa lelahnya valid, bahwa bebannya nyata, dan bahwa menyesuaikan diri bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kebijaksanaan.
Di situlah makna produktivitas yang lebih manusiawi ditemukan. Alih-alih tentang seberapa banyak yang diselesaikan, produktivitas berkualitas merujuk pada seberapa utuh kita menjalani hari-hari.
Ramadhan memberikan kita kesempatan untuk menyesuaikan ritme hidup. Di dalam ritme yang berubah itu, perempuan berhak untuk menata ulang definisi produktivitasnya sendiri.
Simak artikel menarik lainnya seputar serba-serbi Ramadhan di sini.
Editor: Sekar Kinasih