Menuju konten utama

Bahagia dengan Pekerjaanmu, atau Sekadar Sudah Terbiasa?

Orang cenderung merasa lebih puas ketika pekerjaannya memberi makna dan kesempatan untuk membantu orang lain.

Bahagia dengan Pekerjaanmu, atau Sekadar Sudah Terbiasa?
Header diajeng Bahagia di Tempat Kerja, FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Meski terkesan sepele, tidak semua manusia bisa mendefinisikan apa yang membuatnya merasa bahagia.

Dalam konteks karier atau dunia kerja, kita sudah terlalu sering mendengar keluhan orang-orang betapa tidak nyaman pekerjaan yang sedang dijalaninya.

Di satu sisi, jadi pertanyaan menarik pula, apa yang dapat kita rasakan kalau kita benar-benar bahagia dengan pekerjaan atau karier yang tengah ditekuni?

Banyak yang mengira bahwa kebahagiaan kerja hanya datang dari promosi, nominal gaji, atau ketika mendapat bonus.

Di luar itu, secara psikologis, seperti dinukil Psychology Today, salah satu tanda yang jelas terlihat adalah keberhasilan kita masuk ke dalam flow kerja alias benar-benar menikmati yang dilakukan di dalam proses bekerja.

Yang Menunjukkan Kita Bahagia dengan Pekerjaan

Bagi banyak pekerja di Indonesia, tumpukan tugas dan tenggat waktu sudah jadi bagian dari keseharian.

Di tengah rutinitas itu, ada kalanya kita bisa bekerja dengan mengalir dan menikmati setiap prosesnya sampai-sampai tidak terasa bahwa jam pulang telah tiba.

Pengalaman seperti ini bisa menjadi salah satu tanda bahwa pekerjaan tersebut memberikan kepuasan sekaligus sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Pada saat kondisi "flow" itu berlangsung, kebahagiaan akan ditandai dengan "harmonious passion".

Istilah tersebut merujuk pada gairah kerja yang harmonis. Kita tetap memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, tanpa merasa terobsesi secara berlebihan yang bisa memicu burnout.

Selain aspek teknis, lingkungan sosial memegang peran krusial dalam budaya kerja yang komunal. Misalnya, memiliki rekan atau kolega yang menyenangkan.

Berdasarkan sebuah penelitian tahun 1975 yang diidentifikasi oleh Hackman and Oldham, serta telah dipublikasikan Semantic Scholar, hal ini terjadi karena kita cenderung ingin bekerja dengan orang-orang yang kita sukai dan hargai.

Tanda lainnya adalah muncul keinginan untuk membantu rekan kerja tanpa perlu diminta. Menurutmu, hal tersebut wajar, bukan bentuk beban. Sebab, kamu ingin temanmu sukses dalam bekerja, sebagaimana dirimu yang juga peduli dengan pencapaian kesuksesan.

Tak hanya itu, seperti dikutip dari situs HR Zone, kalau kamu bahagia dengan pekerjaanmu, kamu tidak lagi memiliki keinginan untuk mendapatkan pujian dari apapun yang sudah kamu kerjakan. Kamu senang berbagi dan mau merayakan pencapaian dengan tim.

Sikap positif ini juga tecermin dari bagaimana kamu berkomunikasi dengan rekan kerja. Pekerja yang bahagia umumnya akan berhenti bergosip tentang kegagalan pribadi orang lain karena fokusnya terletak pada profesionalisme.

Dilansir The Muse, hal ini menunjukkan bahwa kamu merasa aman dan percaya dengan timmu, sehingga tidak merasa perlu terjebak dalam politik kantor yang bikin penat.

Kamu mulai melihat klien atau pelanggan bukan sekadar angka atau target, melainkan manusia yang kebutuhannya memberikanmu rasa pemenuhan dan tujuan hidup.

Kebahagiaan yang hakiki bisa muncul seiring kita memaknai kesuksesan dalam bentuk kepuasan batin dan rasa syukur, alih-alih sebatas nominal di atas kertas.

Dengan begitu, kamu mulai sadar bahwa yang dikerjakan setiap hari memiliki kontribusi pada gambaran besar bagi entitas tempat bekerja atau masyarakat luas.

Kamu tidak lagi terpaku pada jam dinding di kantor untuk menunggu waktu pulang, karena fokusmu adalah menciptakan dampak positif.

Jika pun kamu perlu mengeluh saat menghadapi tantangan berat, kamu cenderung mencari solusi daripada terjebak dalam emosi negatif, karena kamu percaya pada nilai-nilai yang kamu perjuangkan.

Besarnya gaji bukan hanya faktor yang menentukan apakah kita bahagia dengan pekerjaan.

Menurut hasil survei dari Badan Statistik Nasional Inggris (ONS) yang diulas oleh HuffPost pada 2016 lalu, meskipun gaji tetap penting, korelasinya dengan kepuasan hidup cenderung menurun seiring bertambahnya penghasilan.

Orang cenderung merasa lebih puas ketika pekerjaannya memberi makna, memungkinkan mereka melihat dampak dari apa yang dikerjakan, serta memberi kesempatan untuk membantu orang lain.

Contohnya, profesi seperti tenaga medis atau terapis cukup sering memiliki tingkat kepuasan lebih tinggi karena kuatnya aspek membantu orang lain dalam pekerjaannya.

Sebaliknya, hubungan yang buruk dengan atasan, rasa bosan, dan pekerjaan yang tidak sesuai ekspektasi menjadi beberapa faktor yang paling sering mengurangi kepuasan kerja.

Menurutmu, apa tanda-tanda yang kamu rasakan ketika kamu bahagia dengan pekerjaanmu?

Simak juga artikel lainnya seputar karier di tautan ini.

Baca juga artikel terkait KARIER atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih