diajeng.id - Selama satu tahun terakhir, Nita Nuryani (30) terlibat langsung dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Sebelum menjadi bagian dari tim relawan pemadam kebakaran (damkar), Nita bekerja di bagian logistik dan administrasi Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Provinsi Kalimantan Tengah.
Di antara tujuh anggota dalam timnya, Nita adalah satu-satunya perempuan dan ibu.
“Kenapa saya terjun langsung, ya karena saya peduli. Kalau bukan kita siapa lagi. Kita saling membantu dan saling mengingatkan masyarakat,” kata Nita saat dihubungi melalui panggilan video oleh Diajeng Tirto pada Rabu (14/10).
Di lokasi pemadaman, asap pekat, terpaan debu, dan hawa panas sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian Nita dan kelompok relawan.
Rutinitas Nita berlangsung sejak pukul tujuh pagi hingga empat sore. Di tempatnya bekerja, tak ada hari libur. Setiap hari adalah hari kerja dan kesiapsiagaan.
Ketika peristiwa darurat terjadi di luar jam kerja, Nita dan tim harus segera meluncur ke lokasi. Tugas ini makin menguji ketahanan saat menangani kebakaran di lahan gambut. Nita menjelaskan bahwa penanganan di satu titik saja bisa menghabiskan waktu satu hingga lima hari.
Karakteristik tanah gambut membuat pekerjaan tak pernah selesai dalam hitungan jam. Di atas permukaan, api mungkin sudah terlihat padam, akan tetapi di lapisan bawahnya masih ada bara api yang terus menjalar. Mereka pun harus melanjutkan berusaha memadamkannya di hari berikutnya.

Lelah di Tengah Asap yang Tak Kunjung Padam
Lokasi kebakaran hutan tidak mudah dicapai dari area perkotaan. Nita dan tim dibekali dengan mobil tangki besar, mobil pick-up, dan kendaraan roda dua. Namun, sering kali mereka harus meninggalkan kendaraan tersebut di sisi luar hutan karena tanah hutan yang labil berisiko membahayakan mereka semua.
Mereka pun kemudian perlu berjalan kaki hingga berkilo-kilometer sampai tiba di titik kebakaran. Untuk menyiasatinya, Nita dan tim mengendarai mobil pick-up. Saat jalur kendaraan habis, semua peralatan dipikul bersama menembus rintangan hutan; mencakup 20 rol selang (satu rol panjangnya sekitar 20-30 meter, 2-3 buah nozzle, dan 2 buah mesin sedot atau pompa air.
"Kami harus cari sumber air terdekat dari titik api, entah itu parit atau embung [bendungan kecil atau kolam buatan untuk menampung air," ujar Nita.
Pasokan air tidak dibawa dari markas, melainkan disedot langsung dari sumber-sumber alami yang ada di sekitar lokasi kebakaran.
Perasaan putus asa dan lelah tak jarang menghampiri Nita di tengah penugasan. Namun, tanggung jawab terhadap keselamatan keluarga di rumah dan masyarakat sekitar kerap menjadi alasan baginya untuk bertahan.
Dari sekian banyak usaha Nita dan tim untuk memadamkan karhutla, momen di dekat Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah menjadi salah satu pengalamannya yang paling membekas. Kebakaran di lokasi tersebut tidak hanya menghanguskan tumpukan limbah, tetapi juga mencemari udara dengan racun pekat.
"Pulang dari lokasi tersebut malamnya kami semua diare. Itu sangat-sangat aku ingat. ‘Aduh gini ya ternyata,’ kan udaranya sudah nggak sehat, apalagi yang terbakar itu tidak hanya hutan tapi ya limbah-limbah yang ada, atau sampah-sampah yang sudah menumpuk, juga udaranya tidak sehat, sangat memengaruhi kesehatan kami,” kenang Nita.

Rindu Anak, Video Call di Tengah Hutan yang Pekat Asap
Nita menjalani multiperan sebagai relawan damkar sekaligus ibu bagi anaknya yang berusia empat tahun.
Ketika karhutla melanda, alokasi waktunya untuk keluarga berkurang drastis. Pada saat bersamaan, sang anak dan masyarakat sekitar harus menanggung dampak buruk dari pekatnya polusi asap mulai dari sekolah yang diliburkan hingga layanan posyandu yang terpaksa ditutup sementara.
Ancaman ISPA bagi balita serta gangguan pernapasan bagi lansia menjadi kenyataan yang mengkhawatirkan. Menurut Nita, beberapa warga bahkan harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit akibat asma usai terpapar asap dalam durasi panjang.
Kondisi fisik Nita sendiri kian diuji saat tugas lapangan berbenturan dengan kondisi biologis tubuhnya, seperti ketika harus bertugas di tengah siklus menstruasi atau saat stamina sedang menurun.
"Rasanya campur aduk, tapi mau bagaimana lagi, namanya juga tugas. Mau tidak mau tetap harus kita jalani," tuturnya singkat.
Di kala sang anak rindu pada Nita, keluarganya di rumah memfasilitasi dengan video call. Di tengah kepungan asap dan langit oranye, Nita rutin mengangkat panggilan dari sang anak agar komunikasi tetap terjaga.
Sesama relawan pun menjadi penopang ketika energi fisik maupun mental berada di titik terendah. Di lokasi kebakaran, antaranggota tim terbiasa saling menjaga dan mengingatkan.
"Kalau mental kami sedang jatuh atau benar-benar capek, kami saling mengingatkan untuk menyelesaikan tugas sampai tuntas," ujar Nita. Bagi mereka, bayangan akan keselamatan masyarakat sekitar dan anak-anak menjadi dorongan utama untuk bertahan.
"Kalau bukan kita, siapa lagi?" lanjut Nita yang konsisten membagikan update terkait situasi karhutla yang ditangani oleh timnya melalui akun Instagram @nr_nitta.
Relawan Damkar & Momen Peringatan Kesehatan Mental
Seiring kita mengapresiasi kerja luar biasa Nita dan tim damkar di Palangka Raya dalam memperjuangkan udara bersih bagi masyarakat sekitar, kita sering terlupa bahwa mereka juga individu yang lumrah untuk merasa lelah dan putus asa.
Pengalaman mereka mengingatkan kita bahwa orang-orang yang berada di garis depan untuk merawat dan melindungi sesama pun membutuhkan dukungan. Namun, kesehatan mental dan kebutuhan untuk beristirahat masih cenderung dipandang remeh sebagai urusan personal, alih-alih bagian dari upaya kolektif untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh.
Persoalan ini juga disoroti Angelina Yusridar, founder Tulisan Puan, dalam pemaparan bertajuk Rethinking Rest, Care and Sustainability in Activism pada webinar “Stigma & Accessibility to Quality Mental Health Service” yang diselenggarakan oleh The Equity Initiative dan Pusat Kebijakan & Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) pada Senin (12/10).
Menurut Angelina, petugas damkar, sebagaimana dokter, psikolog, konselor, peneliti, mahasiswa, kader desa, hingga pekerja LSM, merupakan bagian dari ekosistem kerja perawatan (care work) yang mendampingi dan merawat sesama. Mereka hadir melalui berbagai profesi dan latar belakang, akan tetapi sama-sama dapat menghadapi tuntutan untuk terus berkontribusi bagi orang lain.
Di tengah kontribusi tersebut, kesehatan mental mereka masih sering dianggap sebagai urusan pribadi. “Mereka seolah-olah secara profesional harus dituntut baik-baik saja, padahal mereka juga tidak terlepas dari posisi mereka sebagai individu yang sama di masyarakat,” tegas Angelina.
Apa jadinya jika kesehatan mental dipandang semata-mata sebagai urusan individu? Ketika berusaha mengambil waktu untuk beristirahat, para pekerja sosial, caregiver, atau care provider dapat diliputi rasa bersalah. Kebutuhan untuk mengambil jeda sejenak sangat mungkin diyakini telah bertentangan dengan tanggung jawab mereka terhadap orang lain.
Padahal, keberlanjutan kerja-kerja perawatan juga bergantung pada apakah orang-orang yang menjalaninya memiliki ruang untuk beristirahat dan memperoleh dukungan.
Maka kesehatan mental tidak bisa dilihat semata sebagai persoalan individu. Isu kesehatan mental berkaitan pula dengan bagaimana organisasi dan lingkungan sosial membangun kondisi yang memungkinkan mereka tetap berkontribusi tanpa mengabaikan kebutuhan diri sendiri.
“Ketika kita bicara sistem, ini bukan hanya sistem yang dibangun dari luar, tapi juga bagaimana sistem itu dibangun di dalam [konteks] relasional individu tersebut. Contohnya, di tingkat keluarga, apakah sistem di tingkat keluarganya juga mendukung seseorang untuk mencari bantuan atau setidaknya untuk berdiam diri, untuk beristirahat. Itu juga membutuhkan dukungan perspektif dari sisi yang paling kecil hingga yang paling luas ketika kita bicara sistem kesehatan mental,” jelas Angelina.
Dukungan terhadap kesehatan mental perlu dibangun bersama, mulai dari keluarga dan rekan kerja hingga komunitas dan organisasi.
Sebagaimana dilakukan Nita dan sesama relawan damkar yang saling menjaga saat energi fisik maupun mental berada di titik terendah, merawat orang lain juga perlu dukungan dari sekitar. Dukungan bersama inilah yang memungkinkan relawan seperti Nita untuk terus melindungi dan merawat sesama.
- Ketika Asap Karhutla Menggerus Umur Warga Kalimantan
- Lika-liku Profesi dan Harapan di Balik Seragam Petugas Damkar
- Petugas Gugur saat Tangani Karhutla Bromo Bertambah Jadi 4 Orang
- Penyebab Matahari Merah di Palangka Raya, karena Kebakaran?
- Asap Karhutla Pekanbaru Mulai Ganggu Kesehatan dan Aktivitas Warga
Penulis: Syifa Khairunnisa Zahrah
Editor: Sekar Kinasih