diajeng.id - Dibandingkan saudaranya yang lain, Alex Dunphy memiliki tingkat kecerdasan lebih tinggi.
Anak tengah keluarga Dunphy dari serial Modern Family (2009-2020) tersebut tidak pernah gagal meraih ranking tertinggi di kelasnya.
Begitu lulus dari California Institute of Technology, Alex langsung bekerja sebagai peneliti lingkungan di Antartika.
Sepanjang 11 musim serial ini berlangsung, Alex selalu menjadi tokoh yang paling cermat dan mulus dalam menekuni dunia akademisnya.
Menariknya, kita lebih sering melihat Alex kesulitan dalam menata kehidupan percintaan.
Seperti kakaknya, Haley Dunphy, Alex pernah menjalin beberapa relasi asmara. Hanya saja, Alex lebih banyak dihadapkan pada tantangan terkait pasangannya.
Alex cenderung bersikap defensif dan jarang terbuka dengan pacarnya. Karakter ini membuat hubungan romansanya menjadi dangkal. Peluang bagi Alex dan pasangannya untuk lebih mengenal satu sama lain pun semakin sempit.
Kebiasaan memecahkan masalah akademis yang lingkungannya lebih terstruktur bisa jadi membuat Alex kesulitan menangkap pola persoalan romansa yang lebih dinamis.
Alex cukup sering melakukan analisis tanpa betul-betul fokus pada penyelesaian masalah secara praktis. Di satu sisi, beberapa pacar pilihan Alex sempat dipertanyakan. Salah satunya adalah asisten ibunya yang berusia jauh lebih tua darinya.
Pengalaman Alex membuat kita bertanya-tanya, adakah korelasi antara tingginya intelektualitas dengan kemulusan menjalani kehidupan cinta?
Di kehidupan nyata, kita bisa jadi melihat kasus yang mirip Alex. Teman kita atau bahkan kamu sendiri mungkin tergolong sangat pintar secara akademis, tetapi menghadapi tantangan berliku dalam kehidupan romansa.
Mengapa Orang Pintar Bisa Apes di Asmara?
Aaron Ben-Zeév PhD dalam tulisannya di Psychology Today membahas bagaimana kemampuan intelektual yang tinggi dapat memengaruhi cara kita mengambil keputusan dalam hubungan romantis.
Orang dengan kemampuan berpikir yang kuat bisa saja memiliki standar tertentu dalam memilih pasangan. Mereka mungkin ingin punya pasangan yang dapat mengikuti cara berpikir, minat, atau tingkat pendidikannya.
Artinya, mencari pasangan dalam hubungan romantis bukan sekadar mencari orang yang bisa menjadi teman bertukar pikiran, tetapi juga sosok yang bisa dijadikan pendamping dalam menjalani hidup bersama.
Ketika bertemu dengan orang yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi, sebagian dari kita mungkin terdorong untuk mengubahnya agar lebih sesuai dengan harapan kita. Kemampuan menyusun argumen yang baik pun sebenarnya tidak selalu berarti kita dapat mengubah cara berpikir atau karakter orang lain.
Selain itu, sebagian dari kita mungkin merasa kurang percaya diri untuk mendekati orang yang dianggap sangat cerdas atau berprestasi. Di sisi lain, kita yang memiliki standar tertentu mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan pasangan yang dirasa cocok.
Pendidikan Lebih Tinggi, Lebih Lama Melajang?
Studi berjudul “Life Satisfaction, Loneliness, and Depressivity in Consistently Single Young Adults” dalam Journal of Personality and Social Psychology (2025) menemukan bahwa anak muda dengan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung bertahan lebih lama melajang.
Studi tersebut menganalisis 17.390 responden yang belum pernah memiliki pasangan dari Jerman dan Inggris, dengan data longitudinal dari usia 16 hingga 29 tahun.
Temuan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa pendidikan tinggi membuat kita sulit menjalin hubungan.
Tingkat pendidikan hanyalah salah satu faktor yang berkaitan dengan lamanya kita berada dalam kondisi lajang. Pilihan hidup, kesejahteraan psikologis, tempat tinggal, serta prioritas lain juga dapat memengaruhi perjalanan kita dalam membangun hubungan romantis.
Terlebih dari itu semua, bukan berarti orang yang cerdas atau berpendidikan tinggi akan menjadi pasangan yang kurang baik dalam hubungan romantis.
Susan Krauss Whitbourne, PhD, ABPP menyoroti sejumlah kualitas positif yang dapat dibawa ke dalam hubungan oleh orang-orang dengan tingkat pendidikan tinggi.
"[Orang-orang yang pintar] mempertimbangkan berbagai aspek yang memengaruhi hubungan, [mereka juga] membantu pasangan dari sisi praktikal, dalam bidang yang penting untuk kebahagiaan bersama, misalnya finansial, perencanaan liburan, tempat tinggal, dan sejenisnya,” ujar Whitbourne dikutip dari Romper.
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih