Menuju konten utama

Ekspektasi Orang Tua ke Anak, Seberapa Realistis?

Orang tua generasi Milenial dan Gen Z dipandang lebih selektif dan realistis dalam menanamkan ekspektasi ke anak sekaligus lebih komunikatif. Benar begitu?

Ekspektasi Orang Tua ke Anak, Seberapa Realistis?
Header Diajeng Ekspektasi Ortu. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Di Threads beberapa waktu lalu muncul unggahan berisi penuturan orang tua yang baru saja mengantarkan anaknya masuk SD.

Dari pengalaman pertama melihat anaknya masuk sekolah, orang tua tersebut mengaku khawatir anaknya tidak akan tumbuh jadi pintar, alias biasa-biasa saja atau medioker. Dia pun meminta pendapat orang tua lainnya bagaimana menavigasi kekhawatiran tersebut.

Menanggapi itu, beragam komentar balasan bermunculan. Sebagian besar menyebut pengunggah utas tersebut telah bereaksi berlebihan: anak baru saja mulai masuk sekolah, bagaimana mungkin orang tua sudah menciptakan asumsi bahwa anaknya tidak akan mengembangkan performa yang optimal dalam proses belajarnya kelak?

Bersamaan dengan itu, beredar juga di medsos penuturan orang tua yang mengeluh anaknya belum bisa membaca buku Iqro pada usia 3,5 tahun.

Obrolan tersebut berkembang menjadi diskusi menarik. Pasalnya, selama ini, orang tua generasi Milenial dan Gen Z dipandang lebih selektif dan realistis dalam menanamkan ekspektasi ke anak serta lebih komunikatif membicarakan kesepakatan dengan anak.

Hal ini dapat kita lihat dari temuan Kiddie Academy yang dirilis oleh The Bump pada 2025 lalu. Data menunjukkan adanya perbedaan prioritas yang cukup menarik antara Gen-Z dan Milenial terkait pengasuhan anak.

Milenial: Generasi dengan Parenting Lebih Baik?

Survei yang dilakukan kepada 2.000 lebih orang tua yang memiliki anak usia 0-6 tahun menunjukkan bahwa kebanyakan orang tua Gen Z (54 persen) memprioritaskan persiapan anak-anak mereka dalam menghadapi dunia nyata, sementara responden orang tua Milenial (62 persen) fokus untuk mendukung kesejahteraan mental dan emosional anak-anak mereka.

Kecenderungan tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh tempat atau lingkungan masing-masing generasi bertumbuh.

Orang tua Milenial yang tumbuh di era 90-an mengedepankan komunikasi terbuka dan validasi emosi. Orang tua dari generasi Gen-Z tumbuh dari lingkungan yang lebih sadar secara emosional dan pernah pula ikut mengecap dahsyatnya ketidakstabilan situasi dunia karena pandemi COVID-19, berikut beratnya persaingan mencari pekerjaan zaman sekarang.

Meskipun fokus pengasuhannya berbeda, ada satu hal yang disepakati oleh orang tua Gen Z dan Milenial. Fleksibilitas dan kepercayaan pada intuisi tetaplah prinsip yang sama-sama mereka utamakan dalam mengasuh anak.

Masih menurut survei yang sama, sekitar tujuh dari sepuluh orang tua saat ini lebih memilih menyesuaikan gaya pengasuhan dengan kebutuhan unik sang anak daripada terjebak dalam satu aturan kaku.

Upaya tersebut pada esensinya dilakukan demi memutus rantai trauma antargenerasi dan membangun ikatan emosional yang lebih kuat melalui pengasuhan yang lebih sadar.

Dilansir Parents, survei dari Lurie Children’s Hospital pada 2024 menunjukkan sebanyak 73 persen generasi Milenial merasa gaya pengasuhan mereka jauh lebih baik dibandingkan gaya dari generasi sebelumnya.

Dari 1.000 orang tua Milenial yang mengikuti survei, 88 persen mengakui bahwa mereka mendidik anak dengan cara yang sangat berbeda dari orang tua mereka dahulu, dengan penekanan yang luar biasa pada kesehatan mental.

“Mereka mencoba mendidik anak dengan cara yang mempersiapkan anak-anak mereka untuk memiliki pandangan yang paling sehat tentang kesehatan mental,” kata Miller Shivers, psikolog dari Lurie Children’s.

Delapan puluh persen Milenial mengatakan, berbicara tentang kesehatan mental dan kesejahteraan emosional sangat penting untuk perkembangan mereka, bahkan 98 persen Milenial rutin berdiskusi soal kesehatan mental dengan anak-anaknya.

Salah satu temuan yang menonjol adalah tentang pola asuh lemah lembut atau gentle parenting. Sebanyak 74 persen Milenial mengklaim mempraktikkannya untuk memberikan rasa hormat dan keseimbangan kendali antara anak dan orang tua.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa ambisi untuk menjadi "orang tua yang lebih baik" ini sering kali membawa tekanan besar. Media sosial kerap menciptakan ekspektasi pengasuhan yang tidak realistis, yang menurut 85 persen orang tua Milenial, justru menambah stres.

Keinginan untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu terkadang membuat orang tua terjebak dalam gaya pengasuhan permisif karena takut memberikan batasan.

Akibatnya, banyak orang tua yang merasa bersalah dan terlalu keras pada diri sendiri ketika realitas pengasuhan tidak seindah apa yang tampak di layar ponsel.

Psikolog: Tak Ada Pengasuhan Anak yang Sempurna

Sebuah artikel berjudul "Millennial Parents, Give Yourselves A Break" yang ditulis psikolog Daniel Hoffman dari situs The Well menekankan sebuah pesan penting bagi para orang tua, bahwasanya tidak ada orang tua yang mengasuh anak dengan sempurna.

Hoffman sering menemui orang tua Milenial yang cemas akan merusak masa depan anak jika melakukan kesalahan kecil. Ini terjadi salah satunya karena membaca terlalu banyak sumber yang membuat orang tua jadi mencoba berbagai macam pengasuhan.

Menurut Hoffman, orang tua bisa sebaiknya berlatih untuk tenang dan bersedia menyadari bahwa konsistensi jauh lebih penting daripada sekadar "melakukan yang benar" berdasarkan sumber bacaan. Sebaiknya, saran Hoffman, pilihlah satu buku pengasuhan yang sesuai dengan kekhawatiran perilaku anakmu dan fokuslah pada strategi-strategi tersebut.

Menurutnya, pengasuhan yang sehat seharusnya bersifat otoritatif, menetapkan harapan yang jelas secara konsisten tetapi tetap penuh kasih sayang, serta melibatkan kolaborasi dengan anak, misalnya dengan mencontohkan cara mengelola emosi secara terbuka.

Senada dengan hal itu, psikolog Raissa Hadiman dalam wawancaranya dengan Diajeng mengajak orang tua untuk melihat pengasuhan sebagai proses yang dinamis, alih-alih faktor tunggal penentu masa depan anak.

Raissa mengingatkan bahwa meskipun kita hidup lebih lama, kita tidak benar-benar merasakan apa yang dialami anak-anak yang lahir di era digital ini.

“Benar, kita hidup lebih lama dan punya pengalaman lebih banyak, tetapi kita tidak benar-benar mengalami apa yang anak-anak alami sekarang, kita tidak sepenuhnya berada di sepatu mereka. Makanya, penting untuk ada sharing POV,” ujar Raissa.

Dalam buku cerita anak-anak berjudul Tapir Besar Biasa yang baru-baru ini Raissa rilis, ibu dua anak ini menekankan bahwa menjadi orang tua yang "biasa saja" itu tidak apa-apa. Pengasuhan tidak harus selalu sempurna atau penuh prestasi luar biasa setiap hari.

“Dalam proses menjadi orang tua, aku belajar menerima kenyataan bahwa aku melakukan kesalahan, menyadari kesalahan itu, mencoba untuk memperbaiki, dan mempertahankan apa yang sudah diperbaiki,” demikian Raissa berefleksi.

Dengan menurunkan ego untuk menjadi sempurna dan memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh sesuai minat dan kecepatannya, kita artinya sudah berusaha untuk membangun fondasi interaksi yang terbuka sekaligus tangguh.

Artikel menarik lainnya seputar pola asuh anak juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait PARENTING atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih