diajeng.id - Belum lama ini, curhatan seorang ibu di Threads @danaswra ramai diperbincangkan.
"Di chat sama gurunya anak, ngerasa gagal banget jadi orang tua," tulisnya sambil menunjukkan tangkapan layar chat dari guru yang menyebutkan anaknya sering mengganggu teman, suka rebutan, hingga egonya dibilang tinggi.
"Saya bersyukur kok gurunya menyampaikan ke saya, saya tidak marah hanya sedih saja. saya pun balesnya dengan sangat baik karena saya tau anak saya bagaimana. Cuma memang ada kata kata yang bikin hati rasanya hancur sekali," tambahnya lagi.
Ketika mendengar kabar dari sekolah tentang anak, beberapa orang tua mungkin sempat merasakan jantung berdebar atau hati dag dig dug, seperti, "Bu, anaknya hari ini enggak mau disuruh diam sebentar dan agak sulit diatur waktu upacara pagi tadi," atau laporan semacam, "Pak, anaknya tadi memukul temannya."
Bagi sebagian orang tua, kabar yang disampaikan guru atau pendidik seperti di atas mungkin diterima sebagai informasi biasa. Setelah orang tua tahu anak ditegur guru di sekolah, anak kemudian akan diajak bicara di rumah untuk memberikan informasi lebih jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Kebingungan demikian tentu wajar. Sebagai orang tua, kitalah yang mengenal anak dan mendampingi tumbuh-kembangnya sehari-hari.
Kita tahu bagaimana kebiasaan anak bangun tidur, kecenderungan anak menangis, apa yang membuat anak takut, apa yang sedang anak pelajari. Kita paham betul seberapa banyak energi yang sudah dikeluarkan untuk mengajari anak kita bersikap baik.
Maka dari itulah, ketika ada orang lain dari luar rumah menyebut anak kita menunjukkan perilaku berbeda atau misbehave, perasaan kita tentang usaha mendidik anak selama ini juga tersentil.
Pada praktiknya, respons setiap orang tua tentu bisa berbeda. Ada yang langsung menerima laporan guru dan menjadikannya bahan evaluasi bersama anak, ada pula yang merasa perlu mencari tahu lebih jauh sebelum menyimpulkan bahwa perilaku anak perlu ditindaklanjuti.
Beda Respons dari Setiap Orang Tua
Perbedaan respons tidak selalu berarti bahwa salah satunya salah atau benar.
Sebab, di balik reaksi orang tua yang terlihat defensif, mungkin ada kekhawatiran bahwa anaknya sedang dilabeli. Di sisi lain, ketika orang tua berusaha menerima laporan mengejutkan itu dengan tenang, muncul kesadaran bahwa anak memang sedang belajar memahami batasan dan konsekuensi dari perilakunya.
Helena, misalnya, memilih untuk menerima laporan dari guru terlebih dahulu.
“Kalau nakal sih enggak, misbehave sering,” ujar Helena kepada Diajeng.
Ketika guru menyampaikan bahwa anaknya melakukan sesuatu yang kurang baik di sekolah, Helena cenderung menerimanya sebagai informasi. Apalagi, biasanya masalah tersebut sudah selesai di sekolah sehingga laporan dari guru lebih terasa sebagai pemberitahuan kepada orang tua.
Setelah itu, Helena akan bertanya kepada anaknya mengenai apa yang terjadi.
Pernah suatu kali anak Helena mengganggu temannya yang sedang bermain lego. Lego tersebut kemudian diacak-acak hingga temannya menangis. Anak Helena pun diminta meminta maaf.
"Ada juga kejadian ketika solat, dia malah ngobrol sama temannya, sambil bawa mainan yang kalo ada bu guru, diumpetin di bawah sajadah," ucapnya.
Alih-alih langsung panik, Helena malah bisa tertawa ketika menceritakannya kembali. Bukan berarti perilaku tersebut dianggap benar, tetapi ibu satu anak ini melihatnya sebagai bagian dari proses anak belajar memahami kapan waktunya bermain dan kapan waktunya mengikuti aturan.
Pengalaman Emilia sedikit berbeda. Emilia mengaku belum pernah mendapat laporan bahwa anaknya melakukan "kenakalan" tertentu di sekolah. Namun, anaknya pernah mendapat komentar tentang kebiasaan “suka selonjoran” tanpa guru melabelinya sebagai anak yang malas.
Konteks, bagi Emilia, juga penting. Saat masih berada di kelompok bermain, sekolah anaknya memang tidak menyediakan kursi dan meja yang tinggi sehingga anak duduk di lantai merupakan sesuatu yang cukup wajar.
Meski begitu, Emilia tetap mencoba mengamati kebiasaan anaknya. "Akhirnya aku coba perhatikan, ternyata ya memang dia menganggep sekolahnya nyaman kayak di rumah," tutur Emilia.
Termasuk soal kebiasaan “suka rebahan” dan bahkan “suka ngupil” yang menurut Emilia lebih membuatnya malu daripada kesal.
Akhirnya, Emilia mengingatkan anaknya bahwa ada perilaku tertentu yang lebih baik dilakukan di rumah, sementara di sekolah ada aturan dan kebiasaan yang perlu diikuti. Setelah itu, sejauh ini tidak ada lagi teguran serupa dari guru.
Dari dua cerita tersebut, terlihat bahwa menerima teguran guru tidak selalu berarti orang tua harus langsung menganggap anak keliru. Sebaliknya, tidak terima terhadap teguran pun tidak otomatis berarti orang tua tidak mau mendidik anak.
Bagaimana Sebaiknya Orang Tua Bereaksi?
Yang mungkin perlu dihindari adalah reaksi spontan yang muncul karena emosi.
Menurut Cynthia Klein, parenting expert dari Bridges2Understanding, laporan yang terdengar negatif dari guru memang dapat memicu berbagai emosi pada orang tua, termasuk rasa malu atau perasaan bahwa dirinya seharusnya bisa mengendalikan perilaku anak. Dalam kondisi seperti itu, orang tua bisa bertindak reaktif dengan langsung memberikan hukuman kepada anak.
Namun, Klein membedakan antara punishment dan discipline. Hukuman berfokus pada membuat anak “menderita” karena kesalahan yang sudah dilakukan, sedangkan disiplin bertujuan mengajarkan anak bagaimana berperilaku dan lebih kooperatif di masa mendatang.
"Jadi, saran saya adalah kelola dulu emosi agar sebagai orang tua bisa merespons secara logis dan menerapkan disiplin sebagai gantinya," kata Klein.
Orang tua, lanjut Klein dapat mencoba memahami mengapa perilaku tersebut muncul, mendengarkan sudut pandang anak, serta mencari cara agar anak memiliki pilihan perilaku yang lebih baik di kemudian hari.
Sementara itu, dilansir dari Between Carpools, orang tua sebaiknya tidak buru-buru memilih “memihak anak” atau “memihak guru”, melainkan terlebih dahulu memastikan apa yang sebenarnya terjadi dan mendengarkan sudut pandang anak.
Jika anak memang melakukan kesalahan, orang tua dapat menegaskan bahwa perilakunya tidak tepat, tetapi hal itu tidak mengurangi kasih sayang kepada anak.
Pada kejadian yang hanya sesekali, orang tua tidak perlu membesar-besarkannya. Namun, jika anak melakukannya berulang kali, penting bagi orang tua untuk mencari tahu penyebabnya, misalnya faktor lingkungan, kebutuhan akademis, pola disiplin, atau kondisi emosional anak, serta bekerja sama dengan pihak sekolah perihal mencari solusi.
Hal penting lainnya yang harus dipahami, orang tua perlu menyadari emosi seperti malu, kecewa, atau merasa gagal yang muncul dalam diri anak agar tidak bereaksi berlebihan, sekaligus tetap membantu anak belajar dari kesalahan dan memperbaiki perilakunya ke depan.
Artikel lainnya terkait parenting juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih